
Pagi itu Lee Ji An terbangun dan melihat Sehun sedang melamun saja. Lee mencoba mencuci mukanya dan setelah itu memesan beberapa makanan untuk mereka sarapan di dalam kamar saja.
Beberapa saat kemudian petugas hotel pun datang dengan pesanan sarapan.
"Sehun ayo minum dulu capuccinonya, bukankah ini kesukaanmu, aku yakin kamu ga akan bisa menolaknya," kata Lee Ji An sambil menyodorkan capuccinonya.
Sehun pun mengambil minuman tersebut dari tangan Lee dan mencoba untuk meneguknya.
"Sayang," sapa Sehun sambil menatap Lee Ji An.
"Hmm, iya," jawab wanita itu sambil menoleh
"Setelah aku berfikir semalaman, ternyata aku sudah mendapatkan solusi dari semua masalah kita ini," kata Sehun.
"Apa itu?" tanya Lee dengan kening yang mnegerut.
"Sayang, kamu tau kan aku sangat mencintaimu," seru Sehun.
"Iya aku tahu," tukas Lee.
"Aku tak sanggup kehilangan dirimu, kamu tau kan?" kata Sehun.
"Iya aku tahu," jawab Lee.
"Kalau begitu, kita percepat pernikahan kita, bagaimana kalo minggu depan?" ucap Sehun sambil menggenggam tangab Lee Ji An.
Degg.
Jantung Lee rasanya seolah mau lepas. Mendengar perkataan dari Sehun. Dia merasa terkejut dan kebingungan dengan semua keinginan calon suaminya.
"Emmhh ... minggu depan, apa itu tidak terlalu cepat," tanya Lee perlahan.
"Tidak, aku sudah memutuskan itu, bahwa memang aku tidak mau kehilanganmu, rasa cintaku padamu sangat dalam, sampai aku sendiri tak sanggup untuk membendung semuanya. Kejadian kemaren cukup menjadi pelajaran untuk kita berdua, karena itu pernikahan kita akan menjadi solusi yang tepat untuk semua kegelisahan kita," ungkap Sehun dengan menggengam tangan Lee begitu erat.
Lee Ji An terdiam. Entah apa yang harus dia katakan. Rasanya dia tidak bisa berfikir dengan jernih.
"Kenapa hanya diam, apa kamu tidak setuju?" tanya sehun.
"Emhh iya tentu saja aku setuju," kata Lee Ji An dengan senyuman yang terpaksa.
"Syukurlah Sayang, aku sudah tidak sabar ingin meminangmu dan menjadikan kamu miliku seutuhnya, kamu tahu Sayang, aku bahkan tidak bisa hidup tanpamu," tutur Sehun sambil memeluk erat tubuh wanita yang sangat dia cintai.
Lee Ji An hanya terdiam. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dia berapa di ambang pintu yang membuat dia sudah bergerak antara maju dan mundur.
"Oke Sayang, kalau begitu aku akan menghubungi keluarga besar kita ya, Sayang," kata sehun dengan menorehkan senyum yang manis kepada Lee Ji An.
__ADS_1
"Eh ... i-iya," kata Lee sedikit gagap.
Sehun lalu langsung menelpon keluarganya.
"Hallo Ibu," kata Sehun di balik telepon.
"Iya Nak, kenapa?" jawab ibu Sehun.
"Ibu, aku akan memajukan tanggal pernikahan, menjadi minggu depan," ucap Sehun.
"Benarkah, ya Tuhan Ibu harus bersiap dong," ibu sehun kegirangan.
"Iya Bu tolong bantu aku, ya," kata Sehun.
"Tentu saja, Nak," ucap ibu.
"Kalau begitu Sehun tutup dulu ya Bu, Sehun mau menghubungi keluarga Lee di Jepang," ucap Sehun.
"Baiklah Nak."
Akhirnya mereka memutus sambungan telepon tersebut. Sehun langsung menelepon keluarga Lee.
"Halo Ibu," kata Sehun.
"Iya Sehun, ini aku kak Kim," kata Kim Mi So.
"Baiklah tunggu sebentar," jawab Kim Mi So.
Beberapa saat kemudian ibu pun menjawab.
"Sehun, ini Ibu, ada apa, Nak?"
"Ibu, bagaimana kabar ibu?" tanya Sehun sekedar basa basi.
"Ibu baik Nak," jawab ibu.
"Bersyukurlah Ibu sehat, begini Bu karena ada sesuatu hal, Sehun ingin memberitahukan kepada ibu bahwa Sehun memajukan tanggal pernikahan," seru sehun.
"Benarkah?" Ibu Lee terkejut.
"Kenapa Nak?" Ibu bertanya.
"Karena sesuatu yang tidak bisa sehun Jelasin Bu," ungkap Sehun.
"Jadinya kapan, nak?" tanya ibu.
__ADS_1
"Sehun memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi minggu depan," kata Sehun.
"Apa? Minggu depan Sehun?" Ibu Lee terkejut karena terlalu mendadak, pasalnya dia harus menyiapkan segala macamnya dan belum menghubungi siapa pun untuk persiapan pernikahan kelak.
"Iya Ibu," jawab Sehun santai.
"Ya Tuhan itu terlalu mendadak Nak, Ibu belum pesan gedung, catering dan lainya," kata nyonya Lee dengan kecemasannya.
"Ibu tenang saja Sehun akan menghubungi teman Sehun, dia membukakan wedding organizer, nanti semua akan di bereskan oleh dia," kata Sehun.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu, Ibu sih setuju saja kalau seperti itu jalannya," kata nyonya Lee dengan wajah penuh senyum.
"Baiklah Ibu, kalau begitu Sehun tutup dulu ya teleponnya," ucap Sehun.
"Baiklah, Nak," kata nyonya Lee.
Lalu mereka pun memutuskan panggilan telepon tersebut.
Lee Ji An sendiri hanya terdiam dengan tubuh yang bergetar, dia tak tahu harus berkata apa menyikapi sikap Sehun yang terkesan terburu-buru dan bahkan memaksa.
Sedang Sehun sendiri terlihat sangat senang karena keputusannya telah di setujui oleh kedua belah pihak keluarga. Sehun menatap Lee Ji An dengan tatapan penuh cinta.
"Sayang, kenapa wajahmu pucat? Apa kamu tidak senang dengan keinginanku?" kata Sehun.
"Tidak apa-apa, aku hanya lapar saja, ayo kita makan," ucap Lee Ji An mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah Sayang," kata Sehun dengan senyuman manis. Mereka pun kini mencoba untuk sarapan berdua. Sedang Ryu Jin sendiri malah asik di buai mimpi. Balita itu masih tertidur dengan lelap.
Sehun menyantap makanannya dengan hatin yang lega, sedangkan sebaliknya dengan Lee. Wanita itu merasakan sebuah beban berat menghimpit dadanya. Pernikahannya di majukan, itu membuat Lee Ji An tegang.
Sanggupkan dia untuk bisa melegakan napasnya. bahkan sesak napas itu membuat dirinya semakin kacau.
"Sayang, kita akan tinggal di Korea ya setelah menikah, di rumah cuma ada Ibuku saja," kata Sehun.
"Terus pekerjaanku bagaimana, Sehun?" tanya Lee Ji An.
"Kamu bisa bekerja di Korea, di sana banyak rumah sakit besar, aku yakin kariemu akan cemerlang," kata Sehun menorehkan senyum yang manis kepada Lee Ji An.
"Emhh iya baiklah Sehun," ungkap Lee dengan suara yang rendah.
Mereka berdua makan bersama tetapi pikiran Lee Ji An melayang entah kemana. Dia merasa sangat bingung dan kacau. Bisa-bisanya Sehun memajukan tanggal pernikahan minggu depan. Dan itu membuat pikirannya kacau balau.
Rasa makanan pun tidak ada kenikmatan sama sekali di lidahnya. Bahkan untuk menelan air saja rasanya sangat sulit.
"Ya Tuhan tolong atur hatiku agar tidak merasakan kecemasan seperti ini, kenapa rasanya aku tidak tenang," lirih Lee Ji An di dasar hatinya, sambil menatap kosong ke arah makanan. Sehun sebenarnya tau Lee melamun, tetapi Sehun hanya bisa melanjutkan makannya saja.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kamu diambil oleh dia lagi, Lee. Aku sangat mencintaimu," kata Sehun di dasar hatinya sambil mencuri pandang ke arah calon istrinya. Yang kini terlihat kosong.