
Nathan terus memperhatikan wajah gadis yang ada ada di toko parfum tersebut. Pria itu benar-benar menyangka bahwa wanita itu adalah Lee, gadis yang selama ini dia cari cari.
"Děng huò shūjì!"
(Tunggu sekretaris Huo)
Nathan meminta sekretaris Untuk menghentikan laju kendaraannya.
"Okay," ucap sekertaris wa sambil menghentikan kendaraannya. Nathan lalu membuka pintu mobil dan hendak berlari ke arah dimana Lee berdiri. Namun saat Nathan hendak berlari tiba-tiba saja.
Cekiittt... Bruaakkk.
Sebuah mobil telah menghantam keras ke arah tubuh Nathan. Pria itu terpental dengan seketika. Tubuh pria itu terbang beberapa meter dari arah tabrakan. Sampai akhirnya tubuh Nathan mendarat di sebuah trotoar.
"Tuan muda," teriak sekretaris Huo dengan begitu nyaring. Sekretaris itu benar-benar terkejut melihat kejadian yang kini telah menimpa Tuan mudanya.
"Ya Tuhan, lihat kepala pria itu pecah,"
"Ya Tuhan, darahnya keluar sangat banyak. Bagaimana ini Ayo cepat kita telepon ambulans, ada yang tahu nomor ambulans tidak?"
"Aku tidak tahu, ya Tuhan, mungkinkah dia masih hidup. Sepertinya dia sudah mati,"
Suara brisik para pejalan kaki yang melihat kejadian tersebut benar-benar riuh. Sekretaris dengan segera memeluk tubuh Nathan dengan begitu erat. Sekretaris Huo dengan segera membawa tubuh itu ke dalam mobilnya. Dia tidak bisa menunggu sampai ambulans datang menghampiri mereka, karena perdarahan dari kepala Nathan sungguh keluar begitu banyak dan itu bisa saja membahayakan nyawa Nathan.
"Tuan muda, aku mohon bangunlah. Tuan muda kita segera ke rumah sakit bertahanlah, tuan muda!" Sekretaris Huo benar-benar cekatan dia menggendong tubuh Nathan masuk ke dalam mobil lalu memerintahkan supir dengan segera membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Aliran darah terus mencecar keluar dari kepala pria tersebut. Nathan benar-benar sudah tidak sadarkan diri dia memejamkan mata dengan tubuh yang dingin. Tetapi dia sempat menyerukan sebuah nama.
"Lee," Nathan menyebut nama itu dengan suara yang sangat pelan. Bahkan Tuan Huo sendiri tidak bisa mendengarkan suara Nathan dengan jelas. Tuan Huo tidak tahu apa yang Nathan katakan.
"Bertahanlah Tuan muda, aku mohon bertahanlah sebentar lagi, kita akan segera sampai di rumah sakit," sekretaris Huo benar-benar begitu mencemaskan Tuan mudanya. Dia berharap Tuan mudanya bisa selamat dan panjang umur. Walau dia sendiri tidak yakin apakah Tuan mudanya ini akan selamat, atau tidak. Karena luka yang ada di kepala Nathan sangat besar sehingga sepertinya kepala Nathan terpecah.
Di dalam perjalanan sekertaris Huo mencoba terus untuk menyadarkan Tuan mudanya, agar tidak tertidur. Tetapi sayang Nathan sudah tertidur dan sudah tidak sadarkan diri. Bahkan terakhir Nathan terbatuk dan mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Sekretaris Huo benar-benar merasa ketakutan dan cemas.
Keringat dingin mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, ketika melihat Tuan mudanya benar-benar tidak sadarkan diri. Dia sungguh ketakutan jikalau Tuan mudanya ternyata meninggal. Tetapi dia masih memiliki harapan yang kuat bahwa Tuan mudanya itu begitu kuat dan tangguh. Nathan tidak akan mati secepat itu. Dia masih ingat kejadian kecelakaan yang menimpa kepada kedua orang tua Nathan sewaktu Nathan masih kecil.
Sekretaris Huo benar-benar tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini bisa terulang. Semoga Tuhan selalu melindungi keluarga dan Tuan mudanya, karena dia sendiri sudah bekerja kepada keluarga Liao sudah sangat lama. Sehingga sekretaris Huo sudah menyayangi Nathan seperti anaknya sendiri. Dia tidak menyangka di usianya yang sudah menginjak hampir 55 tahun dia akan menyaksikan tragedi kecelakaan seperti ini lagi.
Akhirnya mereka sampai di depan Instalasi Gawat Darurat. Dengan segera sekertaris Huo menggendong tubuh Nathan menidurkan Nathan di atas brankar. Pria paruh baya itu benar-benar memiliki tenaga ekstra untuk menggendong Tuan mudanya. Padahal biasanya pria itu tidak bisa menggendong apapun, karena encok sudah mulai menggeluti pinggangnya, tetapi kali ini dia memiliki tenaga super dadakan.
"Halo Presdir," ucap sekretaris Huo kepada Nyonya besar Liao.
"Ada apa Pak Huo?" Tanya Nyonya besar Liao dengan datar.
"Bu Presdir, ada masalah yang sangat besar dan sepertinya anda harus segera datang ke Indonesia, secepatnya!"
"Ada apa Pak Huo? Sepertinya kamu begitu cemas. Apa masalah itu benar-benar besar sehingga aku harus turun tangan?"
"Benar sekali Nyonya. Ini soal Tuan muda, sebaiknya Anda siapkan mental anda. Tuan muda mengalami kecelakaan,"
"Sekretaris Huo, sebaiknya anda tidak usah bercanda kelewatan. Katakan ada masalah apa?" Ucap Nyonya besar Liao dengan suara tawanya, menertawakan ucapan dari sekretarisnya.
__ADS_1
"Ibu presdir tidak ada satupun kebohongan yang terlontar dari mulut saya. Tuan muda mengalami kecelakaan, sebuah mobil telah menabrak beliau hingga beliau terpental beberapa meter dari kejadian," tutur sekretaris Huo kepada Presiden Liao.
"Kamu jangan bercanda, jangan bercanda ingat itu!" Presdir Liao benar-benar meninggikan Suaranya kali ini.
"Saya tidak bercanda Nyonya, kini Tuan muda sedang berada di ruang tindakan, sepertinya Tuan muda akan segera masuk ke ruangan operasi karena barusan Dokter sudah meminta izin kepada saya, untuk melakukan operasi kepada Tuan muda," sekretaris Huo benar-benar menjelaskan semuanya secara terperinci, namun presdir Liao tidak percaya.
"Tidak mungkin! Cucuku akan baik-baik saja, tidak mungkin cucuku terkena kecelakaan!" Sangkalnya. Karena dia benar-benar tidak mau mendengar berita tersebut. Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar dan melemah dia benar-benar ketakutan dengan berita yang diberikan oleh sekretaris Huo. Haruskah wanita paruh baya itu menanggapi berita tersebut? Apakah benar cucu kesayangannya, cucu satu-satunya sebagai penerusnya telah kini telah mengalami kecelakaan.
"Nyonya sebaiknya anda cepat datang ke Indonesia, kami berada di Rumah Sakit Harapan Kita di kota Jakarta," tutur sekretaris Huo kepada presdirnya.
'Ya Tuhan, apakah ini semua benar?"
"Segeralah datang Nyonya,! karena Tuan muda pasti membutuhkan dukungan anda. Tuan muda sudah tidak sadarkan diri di tempat kejadian," ucapan sekretaris Huo menambah ketegangan di dalam dada presdir Liao.
Entah apa yang akan terjadi jika sampai Dokter gagal melakukan operasi kepada Tuan mudanya.
"Nathan, Nathan ini semua tidak benar, ya Tuhan, cucuku, cucu kesayanganku,"
Nenek Liao benar-benar merasakan hatinya di peras seketika. Kabar tersebut benar-benar membuat dia sakit. Hatinya bagaikan remuk, dia harus segera berangkat ke Indonesia, untuk melihat kabar tentang cucu semata wayangnya. Tanpa mempedulikan hal yang lain, dengan segera dia memerintahkan asistennya untuk memesan tiket ke Indonesia, dengan penerbangan yang paling awal.
Bersambung.
follow akun Instagram ku ya kak.
__ADS_1