Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Tuntas


__ADS_3

"Lee berhenti Sayang, Ibu Sayang," Dessah Nathan dengan tingkat frustasi yang tinggi.


Lee Ji An malah tidak menghiraukan ucapan Nathan, wanita itu terus mengemutt permen di mulutnya. Seolah tidak memperdulikan ucapan dari kekasihnya tersebut.


Pria itu benar-benar merasa sangat resah. Dia tidak mau mengotori bibir cantik sang kekasih. Dengan segera Nathan mendorong kepala Lee Ji An dari tubuhnya.


"Ah Ayah," pekik Lee Ji An terkejut.


Kini Nathan sudah beralih posisi, menarik Lee dan membiarkan Lee tidur terlentang di hadapannya. Pria itu sudah tidak tahan lagi karena wanita yang ada dihadapannya sudah sangat menggoda dirinya. Dengan segera Nathan menghujani seluruh tubuh Lee dengan ciuman. Meremass lembut bongkahan kenyal milik istrinya. Membuat Lee mendesaah kuat dan pada akhirnya tanpa aba-aba Nathan menyatukan tubuh mereka berdua.


"Emhh ... Ouh Lee." Nathan menatap Lee dengan penuh perasaan, ketika miliknya sudah terbenam sepenuhnya di organ inti milik Lee Ji An.


"Nathan ahh Nath-than ...." Wanita itu memejamkan mata ketika kini ada benda tumpul masuk ke dalam tubuhnya.


"Sakit kah Sayang?" tanya Nathan dengan rasa sesal.


Lee memang bukan seorang perawan, tetapi Lee pernah berhubungan 6 tahun lalu dan itu pun cuma dua kali, jadi otomatis Lee masih sangat sempit. Nathan merasakan kesempitan itu, karena itulah Nathan bertanya dengan sesal yang dia rasa, pria itu takut jika tindakannya menyakiti sang kekasih.


"Emhh sedikit saja," kata Lee dengan mengatur napasnya.


"Apa aku berhenti saja, kita ulangi saja lain waktu," kata Nathan dengan kecemasannya.


"Tidak perlu, ini baik-baik saja, tetapi coba bergerak dengan pelan," ungkap Lee Ji An pelan.

__ADS_1


"Baiklah Sayang, jika memang tidak tahan katakan saja, ya," bisik Nathan dengan lembut.


"Lanjutkan saja, semuanya sudah terlanjur, kamu sudah berada di dalam tubuhku, selesaikan semua itu," ucap Lee Ji An sambil menatap Nathan dengan sendu.


Deru emosi yang mereka berdua rasakan, memang sangat memuncak, semuanya sudah terlanjur bersatu, walaupun belum ada gerakan di sana. Tetapi dengan perlahan dan segera Nathan menggerakkan tubuhnya, sedikit demi sedikit membuat Lee Ji An terasa nyaman, rasa sakit yang dirasakan oleh Lee tiba-tiba saja menghilang karena gerakan yang datang berikan.


"Ah Nathan, Sayang." Wanita itu meremas rambutnya dan dengan kencang, Ia hanya bisa memejamkan matanya, tak kuasa menahan gelora kenikmatan yang telah diberikan oleh sang kekasih.


Nathan menyeringai, tatkala kini bahkan Lee Ji An terlihat begitu pasrah dan menikmati semua gerakan yang dia berikan.


"Sayang, kamu masih sempit seperti dulu, benarkah cuma aku yang bisa menyentuhmu?" tanya Nathan berbisik mesra di telinga sang kekasih.


"Iya, cuma kamu, Sayang," desahh Lee sambil memejamkan matanya, merasakan relaksasi yang baru saja dia rasakan, benar-benar terasa begitu nyata dan bukan hanya bayangan semu saja.


"Terima kasih Sayang, karena selalu menjaganya untukku, bahkan aku sempat membuat kamu kecewa." Pria itu berkata sambil terus menggerakan tubuhnya. Keringat sudah semakin bercucur, dan mereka berdua kini hanya bisa memejamkan mata. Merasakan betapa kuat gelora dalam jiwa yang mereka rasa.


"Jangan berhenti teruslah bergerak, aku merasa sangat nyaman." Wanita itu menikmati setiap gerakan dari kekasihnya.


"Lee aku sudah tidak tahan, Sayang," bisik Nathan sambil terus menggunakan seluruh tenaganya dan akhirnya pria itu ambruk seketika.


"hah hah ... lelah sekali," ucap Lee Ji An sambil mengatur napasnya.


Tubuh Nathan masih memeluk Lee dengan sangat erat, pria itu seolah enggan untuk melepas penyatuan tersebut, tetapi apalah daya dia sudah melepaskan semua gelora dalam jiwanya, seluruh cairan cintanya sudah dia siramkan ke rahim sang kekasih.

__ADS_1


"Tumbuhlah sehat di rahim Ibu," ungkap Nathan di dalam hatinya sambil melepaskan penyatuan tubuh mereka, dan mengecup perut Lee Ji An dengan lembut. Pria itu merebahkan tubuhnya di samping sang kekasih memberikan sebuah kecupan lembut di kening sang kekasih, seraya berkata." Terima kasih Sayang, terima kasih untuk semuanya,"


"Hmmm ...." Jawab Lee dengan perlahan. Wanita itu langsung memejamkan matanya karena begitu lelah dan akhirnya tertidur dalam pelukan sang kekasih.


"Tidurlah Sayang," kata Nathan sambil memeluk tubuh mungil sang kekasih, lalu menarik selimut agar menutupi kedua tubuh polos tersebut.


Pria itu kini sudah berhasil menanamkan sebuah bibit dan mudah-mudahan bibit itu bisa tumbuh menjadi tunas yang bisa membuahkan hasil yang baik sesuai dengan rencananya.


Tidak henti Nathan mengelus lembut Lee Ji An, ketika Lee sedang tertidur dengan lelap, wanita itu tidak menyadari kalau Nathan mengelus perutnya, karena dia terlalu lelah dan tertidur dengan sangat lelap.


"Jika suatu saat kamu tumbuh di sini, maka itu sangat baik, karena dengan kehadiranmu Ayah dan Ibu akan bersatu, dan kakakmu Ryu Jin pasti akan sangat bahagia karena memiliki orangtua yang lengkap," kata Nathan sambil terus mengelus lembut perut sang kekasih pria itu sangat berharap bahwa apa yang dicita-citakannya bisa terwujud.


Cita-citanya tidaklah mudah, menjadikan Lee Ji An seorang istri, itu sangat sulit untuk saat ini. Seperti halnya pertemuan Nathan dan Lew Ji An yang pertama kali di Cina, dan mereka berdua belum bisa bersatu walaupun sudah hampir sampai pintu pernikahan, mudah-mudahan dengan kejadian ini semuanya akan membaik. Walaupun memang di depan masih ada Sehun yang akan menghadang hubungan mereka.


"Tidak akan aku biarkan ada pria lain yang menyentuh tubuhmu, karena kamu adalah milikku. Semua anak-anak yang akan kamu lahirkan adalah anakku. Bukan Anak dari pria lain. Aku bersumpah demi Tuhan, aku akan memperjuangkanmu sampai titik darah penghabisan. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku, aku sekarang mulai mengingatmu sedikit demi sedikit Lee. Aku harap aku bisa mengingat semuanya," kata Nathan di dasar hatinya sambil menatap wajah Lee Ji An yang begitu cantik dengan posisi tidurnya.


Pria itu tak berdaya dengan keadaan, mengingat bahwa kini Lee Ji An bukanlah tunangannya tetapi tunangan orang lain.


Pada akhirnya Nathan pun memejamkan matanya. Karena rasa lelah yang dia rasakan. Sampai tanpa mereka sadari kini baby Ryu Jin sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka. Betapa terkejutnya Lee Ji An dan Nathan, tatkala mereka terbangun karena dengar suara ketukan pintu yang begitu nyaring.


"Ibuu Ibuu Ayah, aku mau tidur siang juga," rengek baby Ryu Jin di balik pintu.


"Sayang tunggu sebentar ya. Ibu bukakan pintu," teriak Lee Ji An sambil kerepotan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu langsung memakai pakaian tersebut, dengan secepat kilat, karena dia tidak mau anaknya melihat kondisinya tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu. Begitu pula dengan Nathan, dia pun berusaha untuk bangun dan mengenakan pakaian mereka. Setelah mereka berpakaian lengkap, barulah Lee membuka pintu kamar dan membiarkan buah hatinya masuk dan tidur bersama.

__ADS_1


"Ryu mau tidur sama Ayah dan Ibu," kata Ryu Jin dia merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kasur di antara Lee Ji An dan Nathan.


"Iya anak Ayah, jagoan Ayah kita tidur ya," bisik Nathan sambil memeluk buah hatinya yang tersayang. Lee hanya bisa menorehkan senyum manis, lalu ikut memeluk buah hatinya. Akhirnya merekapun tidur bersama siang itu. Mereka tampak seperti keluarga yang bahagia, namun sayang Tuhan belum bisa menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


__ADS_2