
"Kalian tidak boleh terus menangis seperti ini, membuatku semakin sedih aja, Sayang. Kamu harusnya bisa menguatkan adikmu, jangan malah menangis seperti itu," lirih Kim Mi So dengan air mata yang menetes.
Sekarang Kakek, Nenek beserta Ibu pun masuk ke kamar Lee Ji An. Mereka melihat bahwa Lee Young Joon sedang memeluk Lee Ji An dengan tangisan mereka yang melirih.
"Cucuku Sayang, jangan menangis seperti itu lagi, membuat Nenek tidak tahan, Nak," kata sang nenek dengan air matanya yang menetes.
"Nenek, Kakek, ini, Oppa, Kakak ipar, tolong maafkan aku, aku sudah membuat kalian semua menanggung malu, untuk ketiga kalinya. Pernikahanku kali ini pun gagal lagi, aku manusia yang tidak berguna, pekerjaanku hanya membuat kalian semua malu saja," kata Lee Ji An sambil meneteskan air matanya.
"Jangan berkata seperti itu, semua sudah Takdir dari Tuhan. Tidak mungkin kami menyalahkan kamu putriku," kata sang ibu dengan air mata yang menetes.
"Tapi itu sebuah kenyataan yang tidak mungkin bisa aku lupakan, aku harusnya tidak terlahir dari keluarga ini, aku harusnya menghilang dari muka bumi ini, aku hanya bisa membuat kalian sedih karena cemoohan," tangis Lee Ji An meledak.
"Cucuku jangan berkata seperti itu, Kakek tidak menyalahkanmu, Nak. Kakek menyayangi dirimu, kamu adalah keturunan kami yang sangat berharga," kata kakek Lee dengan tangisanya. Kakek tua itu lalu berjalan menghampiri cucu kesayangannya. Dan memeluk tubuh Lee Ji An dengan penuh kasih sayang.
"Kakek, maafkan aku, aku mohon maafkan aku," tangisan wanita itu begitu nyaring, dan terdengar sangat lirih setiap orang yang mendengar pasti akan ikut menangis pula.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf seperti itu cucuku, kami akan memaafkan semua perbuatanmu. Jika kamu pun ikut bersalah, tapi kali ini kamu tidak bersalah, ini hanya permainan Takdir yang Tuhan berikan untukmu, Nak. Jadi berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri atau semua kegaduhan ini," tangkas Kakek dengan pelukan yang sangat erat.
"Kakeeek hiks hiks hiks." Wanita itu terus menangis dengan tersedu, dia benar-benar merasakan kesakitan yang teramat dalam karena telah menjadi penyebab hancurnya nama baik keluarga, untuk kesekian kalinya.
"Jangan menangis lagi cucuku, Nenek pun tidak kuat jika terus melihat kamu menangis seperti itu, Sayang. Nenek tidak pernah menyalahkan kamu sama sekali, betul kan Jin An?" kata sang Nenek kepada putrinya.
"Benar sekali apa yang dikatakan Kakek dan Nenekmu Lee. Tidak ada yang pernah menyalahkanmu walaupun kami memang menanggung malu, tapi bukan karena dirimu Sayang. Kami menyayangimu, kami mencintaimu, tidak mungkin kami menyalahkanmu, Nak," kata nyonya Lee Jin An. Kepada putri kesayangannya.
Lee Ji An sendiri masih belum mengetahui apa yang terjadi. Belum tahu kalau dia adalah satu-satunya penerus dari keluarga Lee. Lee belum tahu bahwa sang kakak Lee Young Joon adalah kakak angkatnya. Bukankah kakak kandungnya.
"Benarkah apa yang Ibu katakan? Bahwa kalian masih menyayangi aku, walau pun aku sudah membuat kalian menanggung malu?" lirih wanita itu menangis dengan tersedu, tetesan air matanya tidak berhenti mengalir. Dia benar-benar merasakan bahagia kali ini, karena ternyata keluarganya mendukungnya dengan sepenuh hati.
"Hah?" Hal ini seolah Lee terkejut mendengar ucapan dari ibunya.
"Awal mulanya memang dia dan selalu ada dia, yang membuat hidupmu kacau Lee. Memang semua ini udah Takdir Tuhan. Ibu tidak akan pernah menyalahkan kamu, Nak. Karena itulah sebisa mungkin kamu harus menghindari pria tersebut, untuk mengurangi nasib burukmu," kata sang ibu dengan suara yang rendah. Air mata pun menetes di pipi wanita paruh baya itu, berharap bahwa putrinya cepat melupakan pria yang bernama Nathan. Karena menurutnya Nathan tidak baik untuk putrinya.
__ADS_1
"Benar apa yang dikatakan oleh Ibumu Lee, rasa sayang kami tidak akan berubah, walaupun banyak kejadian yang menimpa kami, tetapi alangkah baiknya kita menghindari nasib buruk dari pria itu, Nenek mendukung keinginan Ibumu, Nak," kata sang nenek.
Suasana sangat hening, ucapan kasih sayang yang diucapkan oleh keluarga membuat hatinya begitu hangat, dan Lee harus segera melupakan Nathan untuk membahagiakan keluarganya.
"Jadi Ibu tidak suka dengan Nathan?" ungkap Lee dengan suara yang rendah.
"Iya, ingatlah ayahmu meninggal karena berhubungan dengan perbuatannya juga kan, walau memang itu tidak di sengaja, tetapi Ibu masih mengingat semua itu," ungkap sang ibu sambil meneteskan air matanya.
"Ibu jangan menangis seperti itu, itu membuatku semakin bersalah, meninggalnya itu gara-gara aku, aku semakin merasa menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, karena hanya bisa menyakiti semua keluarga saja," Lee Ji An kembali menitikan air matanya.
"Sudah Ibu, sebaiknya jangan ungkit lagi soal meninggalnya ayah, karena itu bukan cuma akan menyakiti hati Lee Ji An, itu pun menyakiti hatiku, sebagai anak yang tertua aku tidak bisa berbuat apa-apa, malah melihat ayah kesakitan seperti itu," kata Lee Young Joon kepada sang ibu.
"Baiklah! Ibu tidak akan mengungkit semua itu, sudahlah. Kalian tidak usah menangis lagi yang pasti kasih Sayang ibu untuk kamu Lee. Apapun yang terjadi, rasa sayang keluarga untukmu tercurah sepenuhnya," lirih sang ibu dengan tetesan air matanya, Lee Ji An pun mengangguk, lalu dia menangis kembali, karena rasa bahagianya, karena keluarga begitu mendukung dirinya walaupun banyak kekacauan yang sudah dia buat.
Dia tidak menyangka bahwa di sayangi oleh keluarga sangat menyenangkan. Tetapi dia harus melupakan Nathan demi keluarganya.
__ADS_1
"Ya Tuhan mempukah aku untuk melupakan Nathan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, tetapi demi keluargaku. Aku harus melupakan pria tersebut. Semoga saja kak Lee Young Joon bisa segera mengambil Ryu Jin dari tangan Nathan. Benar-benar aku tidak bisa hidup tanpa putraku," lirih Lee Ji An di dasar hatinya. Wanita itu benar-benar merasa terpukul, dengan keadaan yang menimpanya saat ini, tetapi dukungan keluarga begitu besar untuknya, sehingga dia merasa hangat seketika.
"Kasihan sekali Lee, dia pasti merasa kebingungan dengan permintaan Ibu, aku tahu jelas dengan perasaan hatinya, bahwa dia masih mencintai Nathan begitu dalam, aku mengerti semua perasaanmu. Semoga kamu bisa segera melupakan pria itu, tetapi aku sendiri ragu. Bisakah kamu melupakannya?" lirih Kim Mi So di dasar hatinya, sambil menatap kearah Lee Ji An dengan mata yang berkaca-kaca. Kim Mi So selalu saja mengerti apa yang dirasakan oleh Lee, karena mereka adalah sahabat sejati.