
"Terima kasih banyak Sekretaris Chen atas semua informasinya," ungkap Lee Ji An kepada Sekretarisnya tersebut.
"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya tutup dulu sambungan teleponnya, semoga saja anda bisa memikirkan matang-matang dan bisa segera datang ke sini untuk melihat kondisi Tuan saya," kata Sekretaris Chen dengan penuh harap.
"Baiklah Sekretaris Chen. Terima kasih banyak, akan saya pertimbangkan," kata Lee Ji An lalu menutup panggilan telepon tersebut.
Tiba-tiba Suster Ino datang dengan beberapa burger untuk Dokternya.
"Apa ini, Suster ino?" tanya Lee Ji An kepada Susternya.
"Beberapa burger serta makanan lainnya, diberikan oleh keluarga pasien untuk kita, sebagai ucapan terima kasih karena kita sudah membantu menolong keluarganya," kata Suster Ino sambil tersenyum manis.
"Aduh Suster Ino kenapa baunya sangat menyengat. Aku tidak suka dengan bau ini," kata Lee Ji An sambil menutup hidungnya.
"Dokter. Apakah anda sakit? Bukankah biasanya kalau ada makanan seperti ini anda langsung memakannya dengan rakus." Suster Ino terkekeh, dia tidak percaya Dokternya menolak makanan lezat ini.
"Mungkin saja pencernaanku kurang baik, sumpah jauhkan makanan itu dariku," kata Lee Ji An sambil mencoba melempar Suster Ino dengan sebuah bantal leher.
"Ya ampun Dokter, sampai segitunya. Ya sudah ya sudah aku bawa ke ruangan lain saja. Anda cepat sembuh ya Dokter biar bisa makan sepuasnya seperti dahulu." Suster Ino terkekeh lalu dia pun pergi meninggalkan Dokter Lee Ji An sendirian di ruangan jaga tersebut.
🎄🎄🎄
__ADS_1
Di sisi lain, nyonya Liao begitu cemas apakah Lee Ji An akan datang atau tidak. Nenek itu berharap Lee Ji An mau datang bersama dengan cucunya.
"Bagaimana Sekretaris Chen apakah wanita itu mau datang ke sini sekedar untuk membawa cucuku melihat ayahnya?" tanya nenek Liao kepada Sekretarisnya.
"Barusan beliau mengatakan ia tidak bisa untuk datang ke sini, karena dia juga merasa kurang enak badan, tetapi saya menyarankan untuk mempertimbangkannya kembali, semoga saja Nyonya Lee mau mempertimbangkan untuk datang ke sini membawa cicit anda nyonya," kata Sekretaris jenderal pada nyonya Liao.
"Semoga saja dia mau mempertimbangkan untuk datang ke sini, karena bukan cuma Nathan Yang merindukan balita itu, aku merindukan betapa tampannya balita itu, keturunanku yang sangat aku dambakan, aku sangat bahagia tatkala mendengar bahwa ternyata Nathan memiliki seorang anak kandung, karena selama ini aku berpikir Nathan ternyata memiliki anak adopsi, bukan anak kandung, setelah mengetahui kenyataan itu hidupku seolah begitu hangat," ucap nenek Liao kepada Sekretaris Chen dengan mata yang berkaca-kaca, terlihat bahwa kehadiran baby Ryu Jin di keluarga liau sangat berarti.
"Nyonya aku akan selalu mendo'akan supaya hati nona Lee bisa luluh dan bisa segera datang ke sini membawa buah hatinya," kata Sekretaris Chen sambil memeluk nenek Liao. Dan Sekretaris Chen menganggap nenek Liao sebagai neneknya sendiri, walau pun statusnya itu adalah atasan, tetapi Sekertaris Chen sangat menyayangi nenek Liao dan sebaliknya juga nenek Liao sangat menyayangi Sekretaris Chen, karena Sekretaris Chen selalu membantu Nathan segala macam pekerjaannya.
"Sekretaris Chen kamu seperti cucuku saja, aku menyayangimu. Cepatlah menikah, berikan aku juga," ungkap sang nenek dengan senyuman manisnya.
"Nenek saya belum kepikiran untuk semua itu, saya ingin fokus bekerja terlebih dahulu," kata Sekretaris Chen sambil menorehkan senyum yang manis kepada nyonya besarnya.
"Kalau begitu terserah anda saja," kata Sekretaris Chen dengan senyuman yang manis.
"Anak pintar, memang seharusnya seperti itu. Menurutlah kepada Nenek, menikahlah cepat menikah, ok," kata sang nenek dengan menorehkan senyum yang manis kepada sekretaris Chen dan Sekretaris Chen pun membalas dengan senyuman yang manis pula.
Tiba-tiba saja Nathan terbangun dan dia terkejut melihat dia sudah berada di Rumah Sakit, ditemani oleh Nenek, Sekretaris Han dan Sekretaris Chen.
"Nenek," sapa Nathan dengan suaranya yang rendah.
__ADS_1
"Cucuku ini kenapa ya Tuhan, sakit lagi. Padahal kamu masih muda sakit-sakitan terus," kata nenek dengan kecemasan yang teramat dalam, wanita paruh baya itu tidak tega melihat cucunya sakit-sakitan.
"Aku tidak bisa makan, rasanya sangat mual," ungkap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca, dan dia pun merasakan lapar pada perutnya, tapi dia belum bisa makan sama sekali.
"Mual, kamu seperti orang mengidam saja, Nenek masih ingat waktu kamu dulu mengidam anak pertama mu, Ryu Jin kamu mengalami hal seperti ini juga ya bisa makan sama sekali," ungkap Nenek Liao kepada Nathan.
"Mengidam?" Nathan mengerutkan dahinya lalu dia berpikir, apakah benar dia sedang mengidam, masalahnya kejadian yang terjadi di Indonesia bisa membuat dia benar-benar mengidam. Apakah benar dia berhasil membuat Lee mengandung bayinya? Nathan benar-benar merasa penasaran.
"Iya itu dulu waktu 6 tahun lalu, kamu mengalami mual dan muntah seperti ini, Nenek tidak tahu waktu itu, kalo kamu sedang mengidam, karena tidak tahu bahwa kekasihmu sedang hamil, jadi Nenek pikir kamu kena asam lambung ternyata memang bukan," tutur sang nenek dengan senyumannya, lalu Nathan pun terdiam sesaat, dan melihat ke arah Sekretarisnya, jelas saja Chen bisa mengetahui semuanya, di mana Sekretarisnya mengetahui bahwa Tuan mudanya dan Nona Lee Ji An Indonesia telah tinggal satu rumah.
"Semoga saja itu benar Tuan," bisik Sekretaris Chen pada Nathan.
"Semoga saja," kata Nathan dengan suara yang rendah.
"Apa yang kalian bicarakan, sampai berbisik-bisik seperti itu, benar-benar membuatnya kesal. Nathan sekarang apakah kamu mau mencoba makanan yang nenek bawa, ini sangat lezat," kata sang nenek sambil membuka kotak makan di hadapan Nathan.
"Ya Tuhan ini baru mencium baunya saja aku sudah ingin muntah, tidak tahan. Nenek aku tidak tahan, cepat tutup makanan itu bau sekali," ungkap Nathan sambil mengerutkan dahinya, rasa pusing pun kini sudah menyelubungi kepalanya, dia tidak tahan dengan rasa mual yang dirasa saat ini sungguh sangat menyiksanya.
"Nathan mana mungkin ini bau? Yasudah nenek tutup lagi. Terserah mau makan atau tidak," kata Slsang nenek sambil menutup makanannya.
"Seminggu ini Tuan muda jarang makan, dan dia hanya meminum kopi saja, serta beberapa biskuit, dan itu sudah membuat saya sangat khawatir, tapi ternyata kekhawatiran saya benar adanya, Tuan muda langsung jatuh sakit dan harus dirawat seperti ini," Sekretaris Chen pun bercerita kepada sang nenek tentang kegiatan Nathan yang tidak memakan makanannya selama seminggu lebih.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh seperti ini, cucuku kamu harus sehat. Kamu adalah penerus keluarga kami, semuanya bertumpu hanya padamu, Nak," kata nenek Liao dengan mata yang berkaca-kaca, menatap Nathan dengan sendu lalu mengelus rambutnya dan dengan penuh kasih sayang. Nathan hanya terdiam saja dengan tatapan yang datar.