Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Kerinduan


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Seorang pria sedang sibuk dengan setumpuk berkas yang memenuhi mejanya. Tetapi pria itu benar-benar tidak bisa makan apa pun. Entah kenapa rasanya yang ada di pikirannya hanya wanita itu. Wanita yang hampir satu bulan lebih tidak berjumpa dengan dirinya.


"Sudah satu bulan setengah. Ampur Lee aku sangat merindukanmu. Entah kenapa rasanya aku tidak pernah bisa berpaling darimu, walaupun satu detik saja," lirih Nathan dalam hatinya. Sambil memandangi tumpukan berkas di mejanya.


"Tuan sebaiknya anda makan, saya tidak ingin anda kelelahan dan akhirnya sakit," ungkap sekretaris Chen pada Nathan sambil membawakan makanan di meja di samping meja kerja Nathan.


"Aku belum lapar sama sekali, suruh Sasa untuk membuatkan aku secangkir kopi saja," kata Nathan memerintahkan sekretarisnya untuk membuat kopi.


"Tuan jika perut sedang kosong lalu anda meminum kopi, maka itu tidak baik untuk pencernaan anda, asam lambung anda akan meningkat," kata sekretaris Chen kepada Nathan.


"Memangnya kamu Dokter, ya sudah buatkan saja aku benar-benar tidak ingin makan. Dan hanya ingin minum kopi saja," kata Nathan sambil menatap Chen dengan wajah yang malas.


"Baiklah kalau seperti itu saya tidak bisa memaksa. Sasa tolong buatkan kopi sekarang juga," kata sekretaris Chen kepada Sasa asisten sekretarisnya.


"Baik sekretaris Chen," kata Sasa sambil langsung pergi untuk membuatkan Nathan segelas kopi.


"Kemarilah duduk Tuan. Lihatlah makanan ini sangat lezat," kata Sekretaris dan sambil membuka beberapa kotak makanan yang terlihat sangat lezat. Ada ayam goreng, kwetiau, nasi putih, capcay dan makanan lainnya.


"Kamu itu yakin sekali kalau makanannya lezat, ya sudah kita makan bersama, tunggu Sasa membawakan kopi lalu kita bertiga makan berbarengan," kata Nathan sambil bangkit dari tempat duduknya dan beralih menghampiri Sekretaris Chen lalu duduk disamping Sekretarisnya.


"Lihat ini Tuan, bukankah ini sangat menggiuarkan," kata Chen dengan wajah sumringah melihat ke arah makanan yang tampak begitu lezat.


"Siapa yang masak, banyak sekali apa istrimu?" tanya Nathan sambil menorehkan senyum yang manis dan mencoba melihat kearah makanan.


"Saya belum menikah Tuan, yang memasak semua ini adalah ibu saya. Karena itulah anda harus makan, saya lihat anda sekarang jarang makan. Saya takut snda sakit, sehari kemarin saja anda hanya meminum kopi 1 gelas dan beberapa biskuit. Sebenarnya anda kenapa bisa kehilangan nafsu makan seperti itu, saya perhatikan anda kehilangan nafsu makan sudah satu minggu," kata Sekretaris Chen kepada Nathan.


"Itu karena saya tidak fokus, saya merindukan dia," ucap Nathan sambil menatap Chen dengan tatapan yang sendu.


"Nyonya Lee Ji An?" Chen mengerutkan dahinya.


"Hmm ...." jawab Nathan.


"Kenapa anda tidak menemuinya saja?" tanya Chen dengan suara yang rendah.


"Aku sudah berjanji tidak akan menemuinya lagi, padahal aku tidak tahan, aku sangat merindukan dia, entahlah apa yang aku rasakan saat ini, apa dia pun merasakannya," lirih Nathan dengan suara yang rendah. Tiba-tiba saja sasa datang,

__ADS_1


"Bos ini kopinya, silahkan di coba," kata Sasa dengan senyuman manisnya.


"Terimakasih Sasa." Pria itu langsung mengambil kopi tersebut dan langsung meneguknya.


"Tuan tidak baik minum kopi saat perut kosong," sekali lagi Chen memberi tahu. Namun Nathan tidak perduli.


Setelah menghabiskan setengah cangkir kopi, akhirnya Nathan hendak mencoba kwetiau kesukaannya. Tetapi tiba-tiba saja dia berhenti.


"Ya Tuhan, perutku," kata Nathan pelan sambil menyentuh perutnya.


"Kenapa Tuan," tanya Sekertaris Chen.


"Chen, perutku tidak nyaman." Nathan berkata dengan perlahan dan dia langsung pergi ke kamar mandi. Nathan muntah di kamar mandi.


"Tuh kan apa saya bilang, asam lambung anda pasti naik, karena seminggu ini tidak makan teratur dan hanya meneguk kopi saja," Chen menggelengkan kepalanya.


Nathan keluar dari kamar mandi dan hendak duduk, tetapi dia kembali berlari ke kamar mandi dan muntah kembali.


"Kasian sekali Bos," kata Sasa dengan rasa khawatir.


"Oke." Sasa langsung pergi.


Nathan kembali keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa. Saat Sasa memberikan air hangat Nathan sangat senang dan mencoba untuk meneguk air hangat tersebut. Tetapi tiba-tiba saja rasa mual kembali datang pria itu langsung berlari kembali ke dalam kamar mandi dan alhasil Nathan melakukan itu selama kurang lebih 10 kali.


Itu membuat dia tanpak lelah dan lemah.


"Anda pucat sekali Tuan," kata Sekertaris Chen dengan rasa khawatirnya.


"Aku tidak punya tenaga lagi Chen, perutku terus merasa mual dan sakit sekali," kata Nathan perlahan


"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang juga, Sasa batalkan semua janji dan saya serta tuan akan segera ke Rumah Sakit," kata Sekertaris Chen dengan lugas.


"Ok baiklah," kata Sasa.


Lalu dengan cepat mereka berangkat ke Rumah Sakit. Sesampainya di instalasi gawat darurat akhirnya Nathan di nyatakan harus dirawat karena dehidrasi dan asam lambung.


Chen segera mengurus pembiayaan dan memesan kamar VIP untuk bosnya.

__ADS_1


Nathan sendiri masih memegang perutnya karena kesakitan. Dia lalu di beri obat pereda sakit dan obat tidur oleh Dokter sampai akhirnya pria itu langsung tertidur.


Chen merasa sangat cemas. Walau kini bosnya sudah masuk kamar VIP tetapi dia bingung harus berbuat apa. Haruskanya dia melaporkan semua ini kepada Nenek Liao, secara nyonya Liao sendiri sudah tua dan mungkin akan terkejut mendengar Nathan masuk Rumah sakit'.


"Aduh aku harus apa ini?" Sekertaris Chen terlihat begitu gelisah.


"Ryu, Sayang. Ayah rindu padamu anaku, ayah ingin bertemu denganmu dan dengan ibumu," kata Nathan berbicara sambil tertidur. Dan itu membuat Sekretaris Chen cemas.


"Haruskah aku memberitahukan kabar ini kepada nyonya Lee, bahwa Tuan Nathan sakit dan merindukan mereka?" lirih sekertaris Chen di dalam sanubarinya. Dengan semua kecemasan yang telah dia rasakan saat ini.


"Lee, sayang bawa Ryu kemari, Sayang," Nathan kembali bermimpi, dan kini suaranya begitu lemah.


"Tuan maafkan saya, saya tidak berguna karena tidak bisa berbuat apa pun," kata Sekertaris Chen dengan kecemasannya.


Tiba-tiba nyonya Liao datang bersama Sekertaris Han.


"Apa yang terjadi dengan cucuku?"


"Nyonya, anda tahu dari mana Tuan ada di sini?" tanya Sekertaris Chen kepada nyonya besarnya.


"Sasa yang memberitahuku, kasian sekali cucuku, Chen kamu sebaiknya beristirahat saja, biar saya dan Sekertaris Han yang berjaga," kata nyonya Liao.


"Nyonya anda yang harus beristirahat, saya tidak mau anda sakit," kata Chen.


"Tidak, apa-apa. Karena tujuan hidupku hanya untuk merawat cucuku," kata sang nenek.


Sekertaris Chen ikut tersenyum." Kalau begitu saya pun akan ikut berjaga saja bersama Nenek."


"Anak bandel, yasudah terserah kamu," kata nenek Liao dengan suara rendah, tersenyum dengan manis ke arah anak muda tersebut.


"Lee," sekali lagi Nathan mengigo.


"Ini pasti karena Nathan terlalu merindukan Lee. Chen cepat kamu hubungi Lee Ji An, agar membawa Ryu Jin ke sini, semoga kedatangan mereka bisa membuat Nathan sembuh," kata sang nenek perlahan.


"Tapi Nenek, apa nyonya Lee akan bersedia datang?" tanya Chen.


"Entahlah, tetapi sebaiknya di coba saja," kata sang nenek dengan tatapan sendu.

__ADS_1


__ADS_2