
Cuaca pada hari minggu memang terlihat begitu cerah. Saat itu Lee bangun lebih pagi dari biasanya. Ketika dia terbangun dia melihat Lele asistennya sedang membersihkan rumah dengan sangat sibuk. Sedangkan Kim Nana pagi-pagi sudah melakukan yoga di depan televisi.
Lee Ji An pun langsung bergegas menuju ke dapur dia hendak membuat sebuah sarapan pagi untuk orang yang berada di rumah. Sarapan pagi yang biasa mereka makan ya itu hanya beberapa lembar roti tawar beserta coklat dan selai stroberi di tambah selai nanas kesukaan Kim Nana.
Tidak lupa wanita hamil itu memeras jeruk untuk di hidangkan bersama dengan roti tersebut. Perasan jeruk yang begitu segar membuat pagi semakin indah. Dengan senyum yang manis wanita hamil itu menata meja makan dengan sangat indah.
Setelah semuanya selesai di simpan di meja makan. Lalu Lee pemanggil Lele dan Kim Nana untuk sarapan bersama.
"Ayo cepatlah kalian berkumpul di meja makan, kita sarapan dulu!" kata Lee sambil berteriak. Wanita itu sudah tidak tahan menahan lapar. Sepertinya bayinya pun sudah merengek minta makan sama Mami-nya memberikan makan untuknya.
Kim Nana yang penuh keringat akhirnya datang menuju ke meja makan, dan duduk di sana.
"Ya Tuhan, keringatmu banyak sekali, apa-apaan ini, sana mandi! Setelah mandi baru sarapan!" kata Lee sambil tertawa menertawakan Kim Nana yang basah dengan keringat.
"Tidak-tidak aku tidak mau mandi. Aku ingin sarapan terlebih dahulu, setelah sarapan aku baru mandi," sela Kim Nana kepada Lee Ji An, sedangkan Lele hanya tersenyum mesem melihat tingkah dari Kim Nana. Asisten pribadinya Lee Ji An itu jarang banyak bicara, jika ada orang-orang luar yang berada di rumah.
"Dasar kamu jorok sekali, bagaimana ini, apakah Dokter Haikal tahu kalau kamu sejorok ini, kalau dia sudah tahu apa dia masih ingin menjadikanmu seorang Istri?" Lee Ji An terkekeh melihat tingkah laku Nana yang benar-benar membuatnya tertawa.
"Aku tidak peduli Kakak, aku lapar," kata Kim Nana sambil menyambar sebuah roti dari tempatnya. Dan langsung dengan seketika memakan roti tawar tersebut dengan sangat rakus, sepertinya Kim Nana benar-benar kelaparan karena dia lelah setelah olahraga yoga.
"Kamu masih saja seperti anak kecil. Padahal kamu sudah mau menikah," Lee masih terkekeh melihat tingkah laku sang adik sepupu yang sangat dia sayangi.
"Aku tidak peduli, yang kutahu Haikal menyayangi aku dan aku menyayangi dia," kata Kim Nana dengan mulut yang penuh dengan roti, dia pun berbicara dengan ngosom.
Tetapi tiba-tiba saja dering telepon membuyarkan suasana rumah.
__ADS_1
Ring ring, ring ring, ring ring.
Dengan segera Lele bangun dari tempat duduknya dan menerima panggilan telepon tersebut. Dan ternyata itu ada telepon untuk Lee Ji An.
"Eh Nona muda, ini ada telepon untukmu. Cepatlah kemari sepertinya ini seorang cowok ganteng, aku dengar dari suaranya serak-serak basah," teriak asisten pribadinya Lee.
"Oke tunggu!" dengan secepatnya menghampiri Lele yang sedang menggenggam telepon rumahnya. Sedangkan Kim Nana masih rakus memakan makanannya.
"Setelah memberikan telepon tersebut kepada Lee ji An, Lele pun dengan segera melanjutkan sarapannya.
"Hallo Siapa ini?" Tanya Lee Ji An di balik sebuah telepon.
"Hallo ini aku, Sehun," kata Sehun dengan datar.
"Iya aku sudah berada di Indonesia dan sekarang akan menuju ke rumahmu aku masih berada di hotel tapi aku ingin sarapan bersamamu," kata Sehun.
Deg.
Jantung Lee berdetak begitu cepat dia belum bisa menerima kehadiran orang lain di rumahnya. Mengingat kondisinya sekarang benar-benar sangat jelek. Dengan perut yang gendut dan benar-benar sangat parah. Lee memang sangat gendut saat itu,bkehamilannya memang sudah bulannya. Bahkan beberapa hari lagi juga Lee sudah boleh melahirkan. Dokter mengatakan bahwa Lee bisa mules kapan saja.
"Tapi Sehun, untuk apa kamu ke rumahku. Bukannya aku menolak kamu. Tapi, aku belum bisa bertemu dengan orang lain, mengingat kondisi ku seperti ini," Lee merasa sedih mengingat dirinya kini telah mengandung seorang janin tanpa seorang Ayah. Wanita itu sungguh sangat minder jika salah satu temannya melihatnya dalam kondisi seperti itu.
"Apa maksudmu? Aku sengaja ke sini datang untuk menemuimu. Aku tahu kondisimu kamu sedang mengandung kan sedang hamil besar dan menunggu persalinan. Aku sengaja datang dari Korea untuk menemanimu bersalin. Aku bahkan akan tinggal bersamamu di rumahmu, aku sudah meminta izin kepada kakakmu!"bkata Sehun dengan senyumannya.
"Apakah itu benar? ini tidak boleh terjadi. Aku tidak mau bertemu denganmu, kembalilah ke Korea aku mohon! Sampai jumpa lagi," Wanita itu dengan segera menutup sambungan teleponnya dan berjalan kembali ke arah meja makan.
__ADS_1
Lee kembali mengunyah makanannya. Walaupun memang dia kehilangan selera makan setelah tahu Sehun berada di Indonesia. Lee sangat minder jika Sehun melihatnya dalam kondisi seperti ini. Mengingat Sehun dulu adalah pria yang Lee taksir.
Tidak butuh menunggu lama selang 10 menit saja bunyi bel pun berdering begitu kencang. Lele asisten pribadi dengan segera membuka pintu apartemen mereka dan benar saja yang datang itu adalah Sehun.
Mata Lee membulat dan benar-benar sangat terkejut dikala Sehun kini sudah berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan penuh senyum bahagia.
"Hai Lee," kata Sehun sambil tersenyum dengan manis. Sehun pun memperhatikan Lee dari atas sampai ke bawah, menurut Sehun Lee benar-benar sangat cantik. Dengan wajahnya yang begitu bersinar, dan perutnya yang sekarang sangat gendut, itu memperlihatkan sikap keibuan Lee dan begitu mengagumkan buat Sehun.
"Sehun Sudah kubilang tidak usah datang kemari, kamu tidak bisa melihatku dalam kondisi menyedihkan seperti ini, aku malu untuk bertemu denganmu!" Kata Lee sambil berdiri dari tempat duduknya.
Sehun duduk di kursi meja makan tanpa di persilahkan, secara otomatis Lele dan Kim Nana meninggalkan mereka berdua, agar mereka bisa mendapatkan privasi dan lebih leluasa.
"Apa yang kamu takutkan? Aku tidak akan berbuat apapun kepadamu, aku akan mendukung semua kegiatanmu, mendukung kehamilanmu. Aku disini untuk menemanimu agar kamu tidak kesusahan pada saat persalinan kelak. Kamu pasti butuh laki-laki Untuk mengantarmu ke rumah sakit dan menemanimu saat bersalin!" kata Sehun dengan senyumannya. Lalu Sehun mengambil satu lembar roti tawar dan mengoleskan selai strawberry lalu memberikan roti tersebut kepada Lee untuk dimakan.
"Terima kasih Sehun, atas semua niat baikmu itu, tetap saja aku merasa minder dengan kondisiku," Lee Ji An benar-benar merasa malu saat itu.
"Tenang saja, hanya aku yang tahu kondisimu saat ini, aku tidak akan membicarakannya kepada siapapun. Aku akan mendukungmu!" ucap Sehun dengan senyumannya.
Lee pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sehun terlalu baik untuknya, dia tidak bisa dekat dengan pria lain selain Nathan, karena memang Nathan lah Ayah dari bayinya.
Bersambung.
Halo sahabat Nathan dan Lee, jangan lupa vote dan like setelah membaca ya.
Salam sayang dariku, Evangelin Harvey.
__ADS_1