Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Kesal


__ADS_3

Dering ponsel itu semakin nyaring dan Nathan masih memegang kendali dari ponsel tersebut.


"Aku harus apa ya Tuhan?" Lee terlihat frustasi ketika Nathan bahkan tidak tergoda oleh ciumannyaa.


Nathan terdiam wajahnya mulai merah, entah kesal atau apa, karena memang ponsel itu tidak mau berhenti berdering.


"Haruskah aku bicara padanya untuk tidak menggangu kita sekarang," kata Nathan dengan tatapan penuh rasa kesal. Pria itu sudah membuat Nathan begitu marah karena cemburu.


"Jangan Sayang, aku mohon jangan seperti itu." Lee Ji An mulai melirih, dia memohon dan meratap pada Nathan agar tidak bicara pada Sehun. Dia tak mau Sehun tau apa yang sudah dia perbuat saat ini.


"Dia mengganggu moment berharga kita, apakah kamu tau mood ku langsung hilang karena dering ponsel ini," kata nathan dengan suara yang rendah.


"Sayang maafkan aku, tolong kembalikan ponsel itu, Nathan Sayang aku mohon jangan berbuat nekad," kata Lee Ji An dengan mata yang berkata-kata.


"Kamu tidak kasian padaku, lihat dia sudah tidur lagi," kata Nathan sambil menunjuk ke arah bawah.


Lee terkejut karena memang Nathan kini sudah terlihat lemah.


"Maafkan aku Sayang, aku mohon jangan terima panggilan telepon tersebut, aku akan berusaha membuat dia bangun, ayo Sayang tolong," lirih Lee Ji An dengan kecemasannya.


"Kamu janji?" kata Nathan.


"Iya aku janji, aku yang akan berusaha membuat dia bangun, tetapi aku mohon kembalikan ponsel itu," kata Lee Ji An dengan penuh harap.


"Baiklah aku pegang ucapanmu, ini," kata Nathan sambil memberikan ponsel tersebut kepada Lee Ji An.


"Aku janji." Lee tampak senang dan segera mengambil ponselnya.


Wanita itu lalu menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo Sehun," kata Lee Ji An.


"Sayang, kamu lama sekali menerima panggilan teleponnya," kata sehun.


"Emmhh ... tadi aku sedang di kamar mandi," ucap Lee Ji An dengan rendah.

__ADS_1


"Kamu habis mandi, Sayang, pasti tubuh kamu basah, kamu menggodaku," kata Sehun terkekeh.


"Tentu saja sudah mengenakan baju, kamu mesum Sehun, ya ampun," kata Lee Ji An dengan senyuman yang manis.


Nathan terlihat marah ketika melihat senyum di bibir Lee Ji An. Pria itu rasanya ingin mengambil ponsel tersebut dan melemparkannya sampai hancur berkeping-keping. Sungguh luar biasa kekesalan yang Nathan rasakan saat ini.


"Apa kamu sudah sarapan, mana anak kita?" tanya Sehun.


"Ryu Jin sedang sarapan, dia memang makan agak lama karena sambil menonton televisi," kata Lee Ji An dengan senyuman manisnya.


Nathan semakin kesal, ketika Sehun mempertanyakan soal buah hatinya. Nathan memang baru sekarang di panggil ayah oleh Ryu Jin, tetapi Sehun sudah di panggil ayah oleh putranya jauh sebelum Nathan.


Tetapi dia adalah ayah kandung dari baby Ryu Jin. Karena itu dia tak mau mendengar orang lain mengklaim Ryu Jin sebagai putranya. Karena Ryu Jin adalah buah hatinya yang tercinta. Penerus keluarga Liao yang sangat berharga.


"Katakan bahwa aku sangat merindukan dia," ucap Sehun dengan suara penuh cinta. Pria itu tidak berbohong dengan perasaannya. Karena Sehun benar-benar mencintai Ryu Jin dengan tulus.


"Iya, pasti akan aku sampaikan padanya, Ryu pasti akan senang," kata  Lee dengan senang.


Nathan semakin marah melihat senyuman itu. Rasa marahnya telah membuat dia seolah terbakar, suhu tubuhnya sangat panas. Pria itu pun segera keluar dari kamar tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu meredam amarah yang memuncak dengan menguyur seluruh tubuhnya dengan air shower.


Prankk.


Suara pecahan kaca terdengar begitu nyaring. Tatkala kini tangan Nathan sudah berhasil memecahkah kaca tersebut. Tetesan darah segar telah keluar dari kepalan tangan yang kini sudah tertusuk beberapa pecahan kaca.


Lee Ji An terkejut mendengar suara nyaring itu.


"Sehun sebentar, aku mendengar sesuatu, aku takut Ryu jatuh," kata Lee.


"Baiklah nanti aku telepon lagi, Sayang," kata Sehun.


"Baiklah aku tutup dulu ya," kata Lee Ji An. Wanita itu lalu menutup panggilan telepon tersebut dan melemparkannya di atas kasur. Lee berlari ke arah kamar mandi untuk menghampiri Nathan.


Alangkah terkejutnya wanita itu ketika melihat Nathan telah memecahkan kaca di sana. Darah segar terus keluar dan pecahan kaca itu masih menusuk tangan Nathan.


"Ya Tuhan Nathan, apa yang kamu lakukan?" Lee hendak menghampiri Nathan.

__ADS_1


"Jangan mendekat, banyak pecahan kaca di bawah, aku takut kakimu terluka," kata Nathan dengan suara rendah.


Lee langsung mengambil handuk dan membungkus tubuhnya dengan handuk tersebut. Dia mencari keberadaan sandal agar bisa mendekati Nathan. Karena pecahan kaca itu sangat banyak berserakan di lantai kamar mandi.


Lee mengenakan sandal tersebut lalu dia mengambil sepasang sandai untuk Nathan. Ini pakai sandalnya, ini handuknya juga. Lee membantu melilitkan handuk tersebut di pinggang Nathan.


"Ayo duduk sini." Lee menuntun Nathan untuk duduk di atas closet.


Kini Nathan sudah duduk dan terdiam. Lee berusaha melepas satu persatu kaca yang masih menusuk ke daging tangannya Nathan.


"Apa yang kamu lakukan, kamu melukai diri sendiri, seperti ini." Lee berkata sambil fokus mengeluarkan pecahan kaca tersebut.


Nathan masih terdiam. Dia hanya menatap sang kekasih dengan tajam. Lee begitu telaten membersihkan tangan nathan dari serpihan itu.


Nathan masih terdiam seolah dia enggan untuk berkata apa pun kali ini.


"Jangan melukai diri sendiri," ucap Lee sambil mengambil perban dan betadine. Lee membungkus tangan Nathan dengan perban. Darah itu kini sudah mengering dan Nathan hanya terdiam melihat Lee merawat lukanya.


"Selesai," kata Lee Ji An dengan perlahan.


Nathan masih terdiam.


"Ayo kita ke kamar." Wanita itu berhasil membujuk Nathan masuk ke dalam kamar. Nathan kini duduk di atas kasur dan Lee Ji An mengenakan kembali pakaiannya. Nathan hanya melihat Lee mengenakan baju.


"Bibi tolong bersihkan kamar mandi di kamar Tuan," kata Lee Ji An menelepon ke lantai bawah.


"Baik, Nyonya," kata pelayan itu.


Lee mengambil bathrobe untuk Nathan kenakan. Dan membantu Nathan mengenakan bathrobe tersebut.


Pelayan itu mengetuk pintu dan Lee Ji An segera membuka pintu tersebut. Ternyata pelayan datang bersama dengan baby Ryu Jin.


"Ayah! Teriak Ryu Jin sambil memeluk tubuh sang ayah dengan girang. Ryu Jin tidak tahu kalau tangan sebelah kanan sang ayah terluka.


"Ryu Sayang," ungkap Nathan dengan senyuman manisnya. Senyum datang ketika melihat keceriaan dari buat hati kesayangannya. Buah hati yang hanya boleh memanggilnya dengan sebutan ayah.

__ADS_1


__ADS_2