
Keesokan harinya, Lee dengan terpaksa harus kembali bertemu Nathan di kamar VIP 2. Bagaimana lagi, dia adalah Dokter penanggung jawab di ruangan VIP. Jadi otomatis dia harus visite setiap hari.
Wanita itu masuk dan mulai memeriksa keadaan para pasiennya. Dokter Lee Ji An tanpak anggun berjalan di iringi para Perawat dan Susternya.
Wanita itu begitu telaten memeriksa kondisi pasien satu persatu. Semua pasien suka dengan keramahan dari Dokter cantik itu. Termasuk Nathan.
Pria yang kini masih terbaring lemah itu mulai memperhatikan setiap gerakan yang terlihat. Nathan menatap Lee Ji An dengan rasa kagum. Pria itu bahkan merasa hangat ketika Dokter itu datang.
"Ada apa denganku? Kenapa kehadiran Dokter ini membuat hatiku terasa hidup, setelah sekian tahun semua hampa dan terasa mati. Dokter ini begitu baik hati wajahnya pun begitu cantik. Semoga bisa aku dekat dengannya. Sepertinya aku tertarik dengan Dokter ini. Bisakah aku berkenalan dengan dia. Kenapa hatiku sudah tidak sabar untuk segera perkenalkan diri padanya," lirih Nathan di dasar hatinya, sambil terus melihat dan memperhatikan Dokter Lee Ji An yang kini sedang memeriksanya.
"Apa ada keluhan sekarang, Tuan?" tanya Lee Ji An kepada Nathan. Wanita itu mencoba untuk menganamnesa pasiennya, padahal Lee sama sekali tidak bisa berkata dengan nyaman, ketika dia bertanya kepada pria itu, setiap dia bertemu dengan Nathan hatinya terasa teriris, dan sakit, dia tidak mau bertemu dengan Nathan Liao lagi, karena bertemu dengannya sama saja dengan mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan, apalagi kini Nathan bahkan berpura-pura tidak mengenalnya, sungguh sangat perih.
Pria yang sudah menghancurkan hidupnya, kini ada di hadapannya dan berpura-pura tidak mengenalinya. Lee Ji An rasanya ingin menjambak rambut pria tersebut, menampar pipinya lalu menendang perutnya, tetapi apalah daya pria itu ternyata sedang terbaring lemah tak berdaya dengan kondisi anemia berat yang diderita.
__ADS_1
"Aku hanya masih merasa pusing dan lemah," kata Nathan dengan suara yang pelan sambil terus menatap ke arah Dokter Lee Ji An.
"Begini ... Anda harus banyak makan. Saya dengar Anda tidak makan sama sekali, kalau memang Anda ingin sembuh maka makanlah makanan yang dari Rumah sakit' atau Anda boleh menghadirkan keluarga anda datang ke sini untuk merawat anda, istri atau orangtua anda," ucap Lee Ji An dengan nada yang datar, wanita itu sengaja berkata begitu untuk mengetahui apakah Nathan sudah berkeluarga atau belum.
"Saya tidak suka dengan makanan Rumah Sakit, rasanya tidak enak jadi saya tidak bisa memakannya, dan keluarga saya pun berada di Cina, tidak bisa datang ke sini, mereka tidak boleh tahu kalau aku sakit di sini, kalau tidak mereka akan cemas," kata Nathan dengan suara yang rendah, pria itu memang tidak memakan semua makanannya, bahkan Perawat sudah memantau dia hanya menatap makanannya saja, lalu Perawat tersebut melaporkan kejadiannya kepada Dokter. Bagaimana Nathan bisa sembuh kalau setiap makanan yang diberikan oleh Rumah Sakit tidak pernah dia makan sama sekali hanya mencicipi beberapa lalu setelah itu diabaikan.
"Tidak baik menyembunyikan kesakitan Anda. Sebaiknya anda memberitahu kepada keluarga anda, kalau Anda dirawat di sini," ungkap Lee Ji An dengan nada yang datar. Wanita itu mencoba untuk profesional berbicara dengan pria yang kini ada di hadapannya, pria yang sudah meremukkan seluruh jiwa dan raganya.
"Untuk itu Maaf, saya tidak bisa bahkan keluarga saya satu-satunya sedang sakit stroke, dia tidak bisa berbuat apapun jadi saya harus mandiri tinggal di sini sampai sembuh dan pulang kembali kepadanya," kata Nathan dengan suara yang rendah, pria itu terlihat sedih dan galau menceritakan neneknya, benar sekali Nenek memang sudah menderita stroke selama 5 tahun ini, beliau seperti mayat hidup dan tidak bisa bergerak sedikit pun, bahkan Bicara pun dia tidak sanggup.
"Nenek saya menderita stroke sudah hampir 5 tahun, sedangkan saya menderita anemia, Dokter mengatakan sudah lebih dari 5 tahun juga," ucap Nathan dengan perlahan. Lee Ji An pun selesai memeriksa dada Nathan, yang hendak bangkit lalu tiba-tiba saja tangan Nathan memegang tangan Lee Ji An.
"Ada apa ini, apa maksudnya?" tukas Lee Ji An merasa terkejut, jantungnya berpacu begitu kencang. Entah kenapa sentuhan tangan Nathan pada tangannya membuat jantungnya berdetak lagi, sepertinya dia masih belum bisa membuang rasa cintanya kepada Nathan. Padahal sudah jelas cinta dan benci menjadi satu di kepalanya, hatinya hancur tak terkira saat pria itu pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Maaf Dokter," ujar Nathan dengan suara yang rendah, Lee langsung menarik tangannya, mencoba untuk menghindari pria tersebut.
"Tidak boleh berlaku tidak sopan seperti itu, apalagi ada banyak Perawat dan Susterku yang melihat," ucap Lee Ji An sambil memberikan wajah yang kesal, kepada Nathan, dan pria itu tersenyum manis, dia merasa senang bisa menyentuh wanita yang ada di hadapannya, walaupun pada akhirnya dia kena marah juga.
"Terima kasih telah merawatku, aku sangat bersyukur bahwa bisa bertemu dengan Dokter sebaiknya anda," ucap Nathan menorehkan sedikit senyum kepada Lee Ji An, sedang Lee sendiri tidak membalas senyuman itu sama sekali.
"Baiklah Anda harus segera beristirahat, dan saya akan memeriksa pasien yang lainya, Perawat, Suster ayo kita pindah ke ruangan lain," kata Dokter Lee sambil mengajak rombongan Perawat untuk pergi ke kamar yang lain.
"Baiklah Dokter," kata salah satu Perawat, lalu mereka pun pergi mengikuti langkah kaki Lee Ji An. Lee melangkah meninggalkan ruang rawat inap Nathan, meninggalkan Nathan dalam kesendirian.
Pria itu menatap Lee Ji An dengan matanya yang sendu, dia merasa sangat sedih harus sendiri lagi seperti ini, kehadiran Dokter Lee berhasil membuat Nathan merasa tenang dan aman, ada rasa yang tersimpan dalam hatinya, tetapi pria itu sangat bahagia bisa bertemu dengan Dokter sebaik dan secantik Lee Ji An.
"Andai saja aku bisa lebih dekat denganmu dan berkenalan saja aku sudah senang apalagi bisa menjadi temanmu, setidaknya hatiku tidak akan merasa sepi. Terima kasih banyak telah menjadi dokterku, merawatku sampai saat ini, aku tidak akan melupakan kebaikanmu, kenapa aku merasakan ada hal yang aneh ketika berada di dekatmu. Ya Tuhan kenapa pikiranku seperti ini? sungguh sangat membingungkan, padahal aku baru saja berjumpa dengannya, baru saja berkenalan dengannya, itu pun tidak terlalu resmi, tetapi kenapa hatiku terasa begitu hangat tatkala melihat dia di hadapanku," tutur nathan di dasar hatinya, sambil menatap pintu kamar VIP 2 yang kini mulai tertutup, ditutup oleh Perawat yang pergi bersama dengan Dokter Lee Ji An.
__ADS_1
B⭐e⭐r⭐s⭐a⭐m⭐b⭐u⭐n⭐g