
Nathan pulang ke rumah dengan wajah yang merah penuh amarah. Hatinya berdegup begitu kencang. Rasanya semuanya penuh dengan aura membara.
"Ada apa nak, kenapa wajahmu seperti itu," tanya nenek Liao kepada Nathan.
"Nenek aku marah sekali, aku harus segera pergi ke Jepang sekarang, Nathan akan mengambil Ryu Jin dan membawanya kemari," kata Nathan dengan penuh amarah, tidak bisa membiarkan putranya tinggal bersama pria lain di rumah orang lain.
"Ada apa Nak, kamu marah seperti itu, padahal kemaren kamu biasa saja." Nenek Liao mengerutkan dahinya.
"Ini karena besok Lee Ji An akan menikah dengan Sehun. Sehun si brengsekk itu telah mempercepat pernikahan mereka, sangat menyebalkan, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak akan membiarkan pernikahan mereka berjalan dengan lancar, aku akan datang ke pernikahan itu walau pun tidak diundang, aku akan membawa Ryu Jin bersamaku," ungkap Nathan dengan suara yang pelan, namun penuh dengan penekanan Pria itu benar-benar marah menceritakan semua kekesalannya kepada sang nenek.
"Ya Tuhan. Lee ternyata besok akan menikah, cucuku kamu harus berangkat ke Jepang dan membawa keturunan Liao secepatnya! Nenek akan menyiapkan banyak pengacara untuk melawan mereka," kata sang nenek ikut marah pula melihat Nathan marah seperti itu.
"Lee sudah dengan keputusannya, menikah dengan pria itu, Nathan mungkin tidak bisa mengganggu gugat semua keinginannya, tapi tidak akan Nathan biarkan Lee masukan Ryu Jin ke dalam kartu keluarga mereka, tidak akan Nathan biarkan Ryu Jin memanggil Sehun dengan sebutan Ayah lagi, tidak akan!" Pria itu benar-benar merasa kesal, semua kekesalannya akan ditumpahkan besok, untuk saat ini dia tahan dulu karena dia harus mengemasi barang-barangnya terlebih dahulu.
"Sabarlah Nak, sabar. Jalan Tuhan untukmu tidak mudah, jadi tetaplah berdo'a semoga besok kamu bisa membawa Ryu Jin tepat waktu," kata sang Nenek dengan semangat yang menggebu. Nenek paruh baya itu benar-benar menginginkan Ryu Jin datang dalam pelukannya.
Sangat tidak dipungkiri, Ryu Jin adalah sumber kekuatan untuk keluarga Liau.
__ADS_1
"Baiklah Nenek, Nathan akan berkemas terlebih dahulu, karena Sekretaris Chen sudah menyiapkan semuanya termasuk tiket," kata makan sambil berjalan menuju ke arah kamarnya untuk membawa beberapa baju ganti.
"Baiklah Nak, tapi apakah kamu akan datang berdua saja, dengan Sekretaris Chen?" Sang nenek terlihat begitu cemas.
"Sama saja dengan bunuh diri kalau seperti itu. Aku akan membawa serta anak buahku, Sekretaris Chen sudah menyiapkan beberapa bodyguard untuk aku bawa ke sana," tangkas Nathan sambil berlalu.
"Baguslah Cucuku, Nenek mendukung semua keinginanmu, Nenek akan selalu berada di belakangmu, mengikuti semua langkah kakimu. Ambillah pewaris kita, dan Nenek harap setelah Ryu Jin tinggal di sini, maka Lee Ji An akan ikut ke sini pula," kata sanv Nenek dengan suara yang rendah, dia menaruh harapan besar untuk hari esok, semoga saja Nathan bisa berhasil masuk ke dalam pesta tersebut dan membawa serta sang cucu pulang ke Cina.
Kini Nathan sudah berusaha untuk membereskan semua barangnya dan Sekretaris Chen sudah tersedia di mobil bersama beberapa bodyguard yang akan mereka bawa, tidak tanggung-tanggung pria tersebut menyiapkan 15 pengawal bersamanya, karena pasti di sana kan banyak orang yang menghadang Nathan.
"Bagaimana Bos, apakah sudah siap semuanya?" tanya Sekretaris Chen pada Nathan.
"Saya membawa serta 15 anak buah kita, dan aku yakin kita akan berhasil besok, karena tidak tanggung-tanggung aku bawa Security perusahaan yang berbadan besar, agar bisa menjadi bodyguard kita besok," ungkap Sekretaris Chen dengan senyumannya yang terlihat optimis, besok mereka bisa mengambil baby Ryu Jin dan membawanya ke Cina.
"Ini adalah usaha terakhir kita Sekretaris Chen, karena saya sudah berusaha untuk membujuk dan merayu Lee Ji An supaya tidak menikah dengan Sehun. Tetapi dia tetap pada pendiriannya, maka terserah. Yang pasti aku tidak akan membiarkan putraku tinggal bersama dengan mereka," lirih Nathan sambil menatap foto mereka bertiga. Siapa lagi kalau bukan Nathan Lee dan Ryu Jin.
Banyak sekali foto-foto mereka bertiga di dalam ponsel Nathan, apalagi di dalam laptop Nathan, semua kenangan indah selama di Indonesia akan Nathan simpan dan semuanya akan menjadi sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.
__ADS_1
Mungkin saja Nathan akan hidup dengan kenangan tersebut, berbahagia dengan kenangan itu.
"Tuan tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, anda tidak usah secemas itu. Lihatlah wajah anda begitu merah, tenangkan dulu amarah ada," kata Sekretaris Chen kepada Nathan.
"Aku belum bisa menstabilkan rasa marah ini, sebelum aku berhasil mengambil Ryu Jin dari sana," seru Nathan sambil menatap Sekretarisnya dengan tajam, lalu pria itu kembali melihat ponselnya lagi, kembali mengingat masa lalu beberapa bulan kebelakang, di mana mereka masih bisa bersama memadu kasih penuh cinta seperti layaknya sebuah keluarga.
Perjalanan dari Cina ke Jepang tidaklah sebentar, tetapi Nathan benar-benar merasa perjalanan itu lebih lama dari biasanya, karena tidak sabar ingin berjumpa dan ingin mengamuk di pesta tersebut. Siapa tahu dengar kedatangannya Lee bisa mengubah pikirannya untuk menikah dengan Sehun dan ikut dengannya.
"Lee kamu tega sama aku, kamu akan menikah dengan orang lain? Lantas bagaimana denganku, bagaimana dengan anak kita, dia akan sedih jika kita berpisah, dia akan menangis seperti kemaren, ya Tuhan aku sangat mencintainya Tuhan." Nathan terus memandang foto Lee Ji An dalam ponselnya sambil berkata dengan lirih sambil meneteskan air matanya.
Sekretaris Chen hanya bisa diam saja, dia tidak bisa berkata apapun, tatkala melihat bosnya menangis seperti itu.
"Kasihan sekali Tuan Nathan. Aku tidak tahu perasaan Tuan seperti apa saat ini, yang pasti hatinya sangat kacau, saya tidak bisa memberi dukungan lebih dari ini Tuan. Semoga saja Tuan bisa kuat ya. Semoga perjalanan kita menuju ke Cina sukses tanpa ada hambatan apa pun," tutur Sekretaris Chen di dasar hatinya sambil terus menatap kearah bosnya.
Nathan terus menitikkan air matanya, dengan mata yang terpejam dan terdiam, air mata itu terus menitik oadahal dia tidak menangis. Kenapa rasa sakit dalam dadanya semakin hari semakin menyiksanya.
"Tuan minumlah ini, ini segar sekali," kata Sekretaris Chen sambil menyodorkan minuman dingin kepada Nathan.
__ADS_1
Nathan menoleh." Terima kasih banyak sekretaris Chen, kamu sudah terlalu baik kepadaku," ungkap Nathan sambil menatap Sekretarisnya dan mengambil minuman tersebut.
"Ini semua sudah tugas saya Tuan. Semoga saja Tuan puas dengan pekerjaan saya." Chen lalu menorehkan senyuman manis kepada bosnya, berusaha untuk mengalihkan pikiran tujuannya, agar tuannya tidak merasa sedih lagi. Karena tidak dipungkiri tangisan Nathan bisa membuat hatinya luluh pula, membuat jiwanya remuk jua, padahal Sekretaris Chen hanya melihat adegan tersebut, apalagi kalau dia ikut merasakan sakit hati yang Nathan rasakan saat ini.