Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Dingin


__ADS_3

Disaat Nathan dan Lee sedang duduk di sofa ruang rawat inap tersebut, tiba-tiba saja kedua orangtua Lee Ji An masuk ke ruangan tersebut. Lee yang tadinya sedang santai menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih, sambil melihat-lihat gambar di ponsel milik Nathan, karena mereka masih memilih cincin dan perhiasan lainnya, tiba-tiba saja Lee menjauhkan tubuhnya dari Nathan.


Kedua orangtua Lee duduk sambil mendiamkan Lee dan Nathan. Nathan langsung duduk dengan tegap, dia tidak mau terlihat lemah di depan calon Ibu dan Ayah mertuanya.


"Lee apa Young Joon sudah datang?" tanya sang Ibu kepada putri cantiknya.


"Belum Eomoeni mungkin Oppa lagi di perjalanan," ungkap Lee kepada ibunya.


"Mi So mengatakan bahwa dia akan membawakan kita sarapan, pagi ini. Karena Lee Young Joon sudah memasak untuk kita, jadi sabar saja, tahan dulu laparmu atau kamu mau makan makanan dari Rumah Sakit?" tanya sang Ibu.


"Tidak Eomoeni kita lebih baik makan bersama saja," jawab Lee.


"Baiklah, tapi kenapa kamu pindah ke situ? Harusnya kamu beristirahat saja, tidur. Malah duduk di kursi," Eomoeni mulai menatap kearah Lee Ji An.


"Lee sudah baik-baik saja Eomoeni nanti sore sudah boleh pulang, tadi Suster mengatakan hal itu, dan aku sangat bahagia. Mungkin aku akan segera membawa Ryu Jin kita pulang juga," kata Lee Ji An sambil memberikan senyum yang manis kepada sang ibu.

__ADS_1


"Benarkah Ya Tuhan, terima kasih banyak. Kita akan segera pulang ke Korea, kalau seperti itu caranya, semoga saja Ryu jin juga bisa ikut pulang bersama kita ke Korea," Eomoeni terlihat begitu bahagia mendengar kabar bahwa Putrinya sudah diperbolehkan pulang.


"Kamu tidak memiliki keluhan apapun Putriku? katakan saja mumpung kita masih berada di Rumah Sakit, jangan sampai sesampainya kita di rumah kamu mengalami keluhan yang tidak kamu kemukakan di sini," kata sang Ayah pada putrinya.


"Aku baik-baik saja Aboeji semuanya terasa nyaman. Walaupun memang luka sesar ini masih membuat aku merasa tidak nyaman, mungkin ini akan segera sembuh setelah Ryu Jin berusia empat puluh hari, karena Suster mengatakan empat puluh hari Masa nifas adalah empat puluh hari penyembuhan bagi Ibu bersalin," ungkap Lee kepada sang Ayah.


Kini Nathan hanya bisa diam saja, sama sekali tidak ada yang menyapa Nathan atau melihat ke arahnya. Eomoeni dan Aboeji sama sekali tidak menatap kearah Nathan, dia hanya menatap kearah Lee Ji An, sama sekali tidak menatap Nathan dan mendiamkannya begitu saja.


Sikap Aboeji dan Eomoeni kepada Nathan sangat dingin, benar-benar mengacuhkannya seolah-olah di sana itu hanya ada mereka bertiga, seolah-olah Nathan tidak ada di sana, benar-benar mendiamkan Nathan dan itu sangat membuat Nathan tidak nyaman.


"Mereka berdua masih tidak mau memaafkan aku, kesalahanku yang begitu besar telah menghamili putrinya dan mengabaikan putrinya. Wajar saja jika mereka berdua masih marah kepadaku, sehingga mereka berdua mendiamkan aku seperti ini seolah-olah aku tidak ada di ruangan ini," lirih Nathan di dalam hatinya, Pria itu merasakan ketidaknyamanan dan hawa yang sangat menyesakkan.


"Lee sebaiknya kamu menjaga jarak dari orang yang tidak kamu kenal, jangan sampai kamu menyesal untuk kedua kalinya," ucap sang Ayah kepada putri kesayangannya dan itu membuat Lee untuk terkejut.


"Apa maksud Ayah berkata seperti itu? Aku tidak pernah bergaul dengan orang yang tidak aku kenali," Lee Ji An menjawab pertanyaan sang Ayah.

__ADS_1


"Dengarkan Ayahmu Lee, bisa saja seseorang sengaja memanfaatkan kepolosanmu, mendekatimu hanya untuk menyakitimu," Ibu Lee berkata seperti itu karena kedua orangtua Lee sekarang malah mencurigai Nathan. Mungkin saja Nathan memang berniat untuk menyakiti Lee Ji An sebagai bukti pembalasan dendam karena kedua orang tuanya telah meninggal.


Kedua orangtua Lee Ji An sangat takut putrinya terluka untuk kedua kalinya. Sudah cukup Lee merasa tersakiti karena harus hamil diluar nikah, dan diabaikan selama sembilan bulan. Ayah dan ibu Lee Ji An tidak mau sampai Lee Ji An terpuruk dan menderita lagi. Orangtua mana yang ingin melihat anaknya menderita dan terluka, semua orangtua pastilah menginginkan buah hati mereka bahagia, dipenuhi dengan senyum yang menyejukkan.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang Ibu kemukakan barusan. Siapa yang dimaksud? Apakah itu Nathan? Apakah ibu bermaksud menyindir Nathan?" Lee Ji An langsung menatap kearah sang Ibu, lalu menatap kearah Nathan. Namun kedua orangtuanya tidak menjawab. Aboeji maupun Eomoeni tetap diam membisu, dia sama sekali tidak melihat ke arah Nathan dan menganggap Nathan sekolah memang tidak ada.


Sikap dingin yang diberikan oleh kedua orang tua terhadap Nathan membuat Nathan benar-benar merasakan pedih, hatinya seolah tergores sebilah pisau, membuat dadanya terasa sesak dan memilukan. Apalagi sekarang orang tua Lee menyangka bahwa permintaan maaf Nathan itu hanya main-main belaka dan Nathan hanya ingin mempermainkan Lee Ji An untuk melukai Lee Ji An.


Padahal semua itu tidak benar. Nathan sangat bersungguh-sungguh menyukai Lee mencintai wanita yang kini ada di sampingnya, dia berniat untuk menikahi gadisnya berusaha untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, tetapi kini bahkan kedua orang tua Lee Ji An tidak mempercayai ucapannya. Tidak mempercayai perbuatannya, bahkan Nathan dituduh hanya ingin mempermainkan Putri mereka.


Pria itu hanya bisa menelan saliva. Bicara pun percuma karena memang di ruangan itu dia seolah tak ada, dia tak dianggap kedua orangtuanya Lee tidak pernah menatap dia dan tidak menoleh sama sekali. Membuat Nathan menjadi begitu rendah diri dan Tersakiti.


"Eomoeni, Aboeji, kami berdua akan segera menikah, Nathan akan segera melamarku, kita bahkan sudah memilih beberapa cincin dan perhiasan untuk pernikahan kami. Kenapa Aboeji dan Eomoeni masih tidak mempercayai perbuatan baik yang diberikan oleh Nathan kepadaku. Nathan bersungguh-sungguh meminta maaf kepada Aboeji dan Eomoeni atas perbuatannya, dan aku sudah memaafkan Nathan. Tapi sekarang kenapa malah Aboeji dan Eomoeni tidak mampu memaafkan perbuatannya?" Lee Ji An bertanya kepada kedua orangtuanya, mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dia tidak tega Natan didiamkan seperti itu. Sedangkan kedua orangtua Lee hanya diam saja.


"Tidak apa-apa Sayang, yang penting aku sudah bersungguh-sungguh ingin melamarmu, aku ingin menikahimu dan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku, aku memang pantas mendapatkan itu semua, Aboeji dan Eomoeni-mu pantas untuk mencurigai aku," ungkap Nathan kepada sang kekasih. Kini Lee Ji An hanya bisa menatap kekasih hatinya dengan mata yang sendu, merasa kasihan dan tidak tega karena kedua orang tuanya bahkan mengabaikan Nathan begitu saja.

__ADS_1


🎀🎀🎀


__ADS_2