
Langit sudah mulai menggelap, dan tiga hari sudah hampir selesai, rasanya kedua insan itu enggan untuk berpisah, tapi apalah daya Lee Ji An besok harus segera pulang ke Jepang. Karena dia tidak bisa berlama-lama di Indonesia, selain harus bekerja dia pun sudah menempati janji untuk menjadi istrinya selama 3 hari.
"Ryu Sayang, nanti jika kita sampai di Jepang, jangan ceritakan bahwa kita tinggal bersama Ayah, hanya cukup diam saja karena kalau tidak Ayah dan ibu tidak akan bisa berjumpa lagi, karena nenek pasti akan melarang kita udah pergi ke Indonesia lagi," kata Lee Ji An kepada putra kesayangannya, wanita itu mencoba untuk memberi pengertian kepada Ryu Jin, agar Ryu Jin ikut berbohong.
Memang bukan pelajaran yang baik mengajarkan anak sebuah kebohongan, tapi apalah daya, dia tidak boleh sampai membuka rahasia di depan semua orang apalagi depan Sehun.
"Baiklah Ibu Ryu tidak akan berkata apapun," jawab Ryu Jin kepada sang ibu.
"Ibu tahu Ryu sangat pintar, dan sangat pengertian, Ryu tahu sendiri kan, kakek dan nenek buyut, serta nenek tidak menyukai Ayah, jadi kita harus merahasiakan nama Ayah kepada siapa pun orang di rumah oke," kata Lee Ji An sambil tersenyum dengan manis.
"Baiklah Ibu, Ryu berjanji tidak akan menepati janji, Ryu dan tidak akan mengatakan apapun kepada siapa pun." Anak itu berkata dengan menorehkan senyum yang manis kepada ibunya.
"Terima kasih Sayang, ibu sangat menyayangimu. Ya sudah sekarang Kita tidur yuk," kata Lee Ji An sambil mengacak Ryu Jin masuk ke dalam kamarnya, balita itu pun tersenyum lalu mengangguk karena memang sudah jam 8 malam waktunya anak kecil untuk tidur.
Setelah memastikan bahwa buah hatinya tertidur dengan lelap, wanita itu pun keluar dari kamar buah hatinya, dan kembali ke ruang televisi, untuk sekedar duduk dan menonton televisi, tetapi tiba-tiba saja Nathan datang dan duduk disampingnya.
"Aku ingin hari hari ini tidak berakhir. Aku ingin kamu selalu menjadi istriku. Apa kamu sudah bulat dan keputusanmu ingin menikah dengan pria itu?" tanya Nathan kepada Lee Ji An, Nathan begitu sedih wajahnya begitu sendu, dia benar-benar merasa sakit hati karena harus ditinggalkan oleh Lee Ji An.
"Bukankah kamu sendiri sudah tahu, dari awal kita sudah membuat perjanjian, hubungan kita hanya akan berjalan selama 3 hari, setelah itu kamu tidak akan mengganggu hidupku lagi," kata Lee Ji An sambil menatap Nathan dengan sendu.
__ADS_1
"Aku tahu janjiku, jika memang keputusanku sudah bulat, maka aku pun akan menepati janjiku. Aku tidak akan menemuimu dan mengganggu kalian lagi, tapi aku hanya berpesan tolong jaga buah hatiku, tolong jaga Ryu Jin, karena dia adalah penerus keluarga Liao, suatu saat semua yang kumiliki itu akan menjadi miliknya," kata Nathan dengan mata yang berkaca-kaca, dia itu merasa sangat sedih, karena besok Lee Ji An akan pulang.
"Ya sudahlah, kita tidur. Besok aku harus berangkat pagi-pagi, karena perjalanan dari Indonesia ke Jepang bukanlah perjalanan yang sebentar," kata Lee Ji An kepada Nathan, Nathan mengangguk, akhirnya mereka sudah sampai di kamar, Lee langsung mengganti pakaian dengan baju tidur.
Tapi saat Lee mau menggunakan baju tidurnya, Nathan tiba-tiba melarangnya.
"Jangan pakai baju seperti itu, malam ini jangan menggunakan baju apa pun, kita akan menghabiskan malam kita sampai kita kelelahan," pinta Nathan sambil memeluk istrinya yang masih mengenakan tank top.
"Kamu tidak capek?" tanya Lee Ji An.
"Tidak sama sekali, aku ingin menghabiskan malam ini dengan penuh makna, aku ingin menikmati setiap detik setiap menit setiap waktu, aku tidak ingin sampai menyia-nyiakan waktu bersamamu," tutur Nathan sambil menggendong Lee Ji An, merebahkan tubuh Istri kesayangannya di atas kasur empuk milik mereka.
Gerakan yang Nathan berikan benar-benar membuat Lee tidak berdaya, dan wanita itu hanya bisa menutup matanya saja. Ini adalah malam terakhir mereka untuk bersama, setelah ini mereka berjanji tidak akan berjumpa lagi.
"Ahh ... Nathan ah, Sayang," kata wanita itu sambil mencengkram bahu Nathan dengan kencang, karena Nathan memberikan serangan extrim kepadanya.
"Iya Sayang," jawab Nathan.
"Nathan, aku pasti akan merindukan masa-masa ini," kata wanita itu sambil memejamkan mata, menikmati semuanya yang terasa begitu sempurna.
__ADS_1
"Aku pun sama, Sayang. Dan aku berharap kamu akan menjadi istriku selamanya," kata Nathan sambil terus memberikan serangan pada wanita yang sangat dia cintai, dan pada akhirnya kini Nathan pun menghujani Lee Ji An dengan seluruh cairan cintanya, menitipkan beberapa benih dengan harapan bisa tumbuh di rahimnya.
Rasa lelah sudah tidak bisa mereka sangkal lagi, pergulatan panas itu menguras energi mereka berdua, Lee Ji An pun hanya bisa menatap Nathan dengan sendu, karena ini adalah malam terakhir mereka dan besok tidak akan berjumpa lagi untuk selamanya.
Wanita itu terbangun dengan selimut yang masih melilit tubuhnya, dia keluar dan duduk di balkon. Udara malam hari memang sangat menyengat. Tetapi dia hanya ingin sendiri saja menikmati indahnya bintang dengan tubuh yang masih penuh dengan keringat.
"Inginku, aku tidak ingin hubungan ini selesai. Aku mencintaimu Nathan, tetapi aku tidak bisa menggagalkan pernikahanku, keluarga Sehun sudah terlalu baik kepadaku, apa lagi Ibunya bahkan menerima kondisiku menerima buah hatiku. Semuanya terlalu sempurna untuk aku hancurkan," lirih Lee Ji An di dasar hatinya, sambil menatap bintang-bintang di langit, diiringi dengan yang embusan angin yang berbisik mesra kepadanya, seolah terus mewarnai hari sedihnya.
Wanita itu meneteskan air matanya, tak bisa lagi dia menahan semua rasa sedihnya, hari ini adalah malam yang sangat menyedihkan untuk mereka berdua. Keduanya saling mencintai tapi mereka tidak bisa bersatu lagi.
Tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Lee dari belakang, tangan kekar itu ternyata milik Nathan, pria itu memeluk sang Kekasih dengan penuh kelembutan.
"Bisakah kamu tidak pulang. Bisakah kamu menjadi istriku saja selamanya. Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang. Aku mohon jangan pulang. Tetaplah menjadi istriku!" pinta Nathan memohon kepada Lee Ji An. Tetapi wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang Nathan rasakan dirasakan pula oleh Lee Ji An. Tetapi semuanya tidak bisa sesuai keinginan mereka.
"Besok aku harus meninggalkanmu, tapi aku pun tidak bisa terus tinggal bersamamu, perlu kamu tahu aku pun begitu mencintaimu Nathan, aku sangat menyayangimu dengan segenap jiwa dan ragaku, kamu hanya perlu mengingat itu, tapi kita tidak bisa untuk berjumpa lagi, kita tidak bisa menyakiti hati Sehun dan keluarganya, jika kelak kita berjumpa, anggaplah kita tidak pernah melakukan apa pun di sini, karena cukup kita saja yang mengetahui semua rahasia ini," pinta Lee Ji An kepada Nathan dengan tetesan air matanya.
"Aku sebenarnya tidak mau melakukannya. Aku ingin mengatakan pada Dunia bahwa aku mencintaimu, dan kamu juga mencintaiku, tetapi aku sudah berjanji kepadamu, aku akan menepati janji itu, asalkan kamu pun menjaga anak kita dengan baik, jangan sampai dia terluka atau merasa sedih, aku hanya punya dia," kata Nathan sambil menatap Lee Ji An dengan tangisannya
Mereka berdua saling menangis, saling menitikkan air mata, dan tidak kuasa. Pria itu hanya bisa memeluk kekasihnya. sampai esok tiba, semuanya akan sirna dan hanya akan menjadi sebuah kenangan saja.
__ADS_1