
"Joon Bagaimana kondisi adikmu sekarang?" tanya sang ibu kepada Putra sulungnya, kini mereka berdua sudah berada di sebuah Resto dan memutuskan untuk duduk sebentar di Resto mengisi perut mereka.
"Lee sudah keluar dari masa kritis. Tetapi dia masih belum bisa bangun dia masih belum sadarkan diri, ini adalah hari keempat Eomma,"Lee Young Joon menitikan air matanya dia tak kuasa untuk tidak menangis, ketika menceritakan perihal keadaan sang adik tercinta.
"Ya Tuhan kasihan sekali Putriku yang malang," Eomoeni menitikkan airmata pula namun sang Ayah hanya terdiam saja. Ayah terlihat lebih tegar dari pada yang lainnya.
"Lalu bagaimana dengan bayinya?" tanya sang Ayah dengan mata yang terlihat sendu.
"Kita telah kehilangan satu orang bayi, bayi itu bayi perempuan yang sangat manis dan cantik, bayi itu tidak bisa diselamatkan oleh dokter, dan akhirnya kami memutuskan untuk memakamkan disini, kami telah selesai memakamkan bayi itu dan mengadakan upacara yang sesuai dengan adat keluarga kita," kata Lee Young Joon sambil menatap sang Ayah dengan matanya yang basah, pria itu mengingat kembali kejadian di mana hatinya itu begitu teriris melihat sang bayi kecil yang menjadi kesayangannya harus dikubur di dalam tanah sendirian.
"Ya Tuhan putriku kasian sekali," lagi-lagi sang Ibu menangis dan dia bener-bener tak bisa menahan tangis. Wanita paruh baya itu begitu pedih ketika mendapati Cucu pertama mereka bahkan tidak terselamatkan.
"Kita akan melihat dia sebelum ke rumah sakit. Aku harus melihat Cucuku bagaimanapun dia adalah Cucuku. Aboeji telah memaafkan dia, Aboeji telah memaafkan Lee, ku telah memaafkan bayi itu, bayi itu tidak bersalah sampai ajal menjemputnya. Aboeji bahkan tidak sempat untuk melihatnya, Aboeji memang kakek yang benar-benar tidak berguna," kata Aboeji dengan menundukkan wajahnya, dengan sekuat tenaga Pria paruh baya itu menahan untuk tidak menangis, padahal hatinya sudah sangat sakit, sembilu sudah menabur seluruh jiwa hanya dirasakan. Tetapi dia harus kuat sebagai kepala rumah tangga dia harus bisa menjadi orang yang tangguh.
"Jadi kita akan ke pemakaman, dulu sebelum kita ketemu dengan Lee di rumah sakit?" tanya Eomma dengan tetesan air matanya, dia merasa sangat sedih karena kehilangan Cucunya, sebagai seorang wanita dia merasakan apa yang dirasakan oleh Lee, karena dia pun seorang ibu. Karena itulah Lee pasti akan merasa sedih ketika mendapati putra-putri yang dia kan belum selama sembilan bulan tidak bisa terselamatkan.
__ADS_1
"Iya kita ke pemakamannya dulu, sebagai penghormatan kepada Cucu kita Yeobo," kata Aboeji sambil menggenggam tangan sang istri dengan penuh kelembutan dan istri pun mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Baiklah Eomoeni, Aboeji, sebaiknya memang kita berangkat sekarang, tidak baik kita berlama-lama disini meninggalkan Mi So dan Lee sendirian di sana. Ayo kita berangkat ke pemakaman terlebih dahulu!" Ajak Joon kepada kedua orang tua mereka.
"Baiklah Joon. Ayo kita berangkat, kita tidak boleh menunda lagi. Kita sudah sampai di sini," Aboeji lalu memberikan kode kepada Eomoeni agar lekas berdiri lalu mereka pun berjalan menuju ke dalam mobil. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan termenung, kini Lee Young Joon hanya bisa duduk saja Sopir di sebelahnya pun hanya bisa terdiam.
"Kita mau ke mana Tuan?" tanya Pak Sopir tersebut kepada Lee Young Joon.
"Bawa kami ke pemakaman yang kemarin," perintah Lee Young Joon kepada sopirnya.
"Baiklah Tuan," Lalu Pak Supir itu pun melanjutkan kemudinya. Sesampainya di sana mereka langsung turun dan terlihat Eomoeni menangis dengan tersedu di depan pemakaman cucu mereka.
"Sudahlah Sayang, jangan menangis lagi biar kan lah ini menjadi sebuah pelajaran hidup untuk kita, kita harus bisa tegar kalau kita rapuh apa yang terjadi dengan Lee kita tidak boleh membuat Lee tambah sedih!" kata sang Ayah pada ibu.
"Tapi terasa sangat sedih Ayah, tidak menyangka kalau kita akan mengantar keturunan kita sendiri ke pemakaman," sang Ibu benar-benar merasakan kepedihan yang teramat dalam melihat makam Cucunya di hadapannya.
__ADS_1
"Iya... orang tua, Kakek dan Nenek mana yang tidak sedih jika melihat Cucu mereka harus dikubur terlebih dahulu yang sudah kita harus kuat demi Lee!" kata sang Ayah sambil memeluk istrinya dengan dekapan mesra penuh kasih sayang.
"Aboeji, Eomoeni, Joon memutuskan untuk tidak memberitahukan kabar meninggalnya bayi pertama kepada Lee Ji An, karena ini pasti akan membuat hatinya terluka," ungkap Joon kepada kedua orangtuanya.
"Lantas apa yang harus kita katakan ketika Lee mempertanyakan perihal bayinya?" tanya sang ibu dengan menyeka air matanya.
"Tenang saja Aboeji, Eomoeni, Lee kita itu melahirkan bayi kembar, satu bayi perempuan yang telah meninggal dan satu bayi laki-laki yang masih hidup dan sekarang masih dirawat di Rumah Sakit!" kata Lee Young Joon dengan menorehkan sedikit senyum karena kabar itu pasti akan membuat kedua orang tua mereka bahagia.
"Ya Tuhan, apakah itu sebuah Mukjizat?" sang Ibu Langsung menangis dengan haru mendengar kabar tersebut.
"Terima kasih Tuhan ternyata kamu begitu berbaik hati, masih membiarkan kami untuk melihat cucu kami yang satu lagi ternyata Lee putri kami melahirkan bayi kembar itu sungguh luar biasa," kata Aboeji sambil memejamkan matanya dia bersyukur kepada Tuhan atas apa yang dia dengar barusan.
"Tuhan memang sangat baik hati kepada kita karena itulah Aboeji, Eomoeni, kita anggap semuanya sudah selesai dan tidak terjadi apapun untuk selama ini untuk sementara kita rahasiakan dulu bayi yang telah tertidur di pemakaman ini, sampai benar-benar sehat dan bisa menerima kenyataan?" tutur Lee Young Joon kepada kedua orang tuanya dan akhirnya kedua orang tua Lee Young Joon menyetujui apa yang menjadi rencananya.
Itu semua memang demi kebaikan Lee Ji An sendiri karena Joon dan keluarga sangat takut Lee merasa cemas dan itu akan menghambat kesembuhan dia. Joon akan merahasiakan semua ini dari Lee untuk sementara Tetapi setelah dia sembuh semuanya akan diungkap.
__ADS_1
"Cucuku Sayang, Halmoeni dan Haraboeji datang ke sini untuk menjengukmu nak, bukan bermaksud kami merahasiakan keberadaanmu dari Eomma+mu tetapi kami ingin Eomma-mu sehat terlebih dahulu, baik-baiklah di surganya. Lihatlah Eomma-mu akan bahagia. Kami akan pergi melihat Eomma-mu maafkan kami!" Eomoeni meneteskan air matanya, ketika dia harus berpamitan kepada Cucu pertamanya.
Bersambung.