Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Batu Nisan


__ADS_3

"Hanya making out apa tidak boleh, Sayang?" tanya Nathan dengan mata yang seperti anak kucing seolah memelas meminta jatahnya kepada sang istri padahal pada kenyataannya mereka bahkan belum menikah sama sekali.


"Cuma sekedarnya saja, tidak apa-apa. Tapi untuk yang lainnya masih sakit. Lihatlah bekas luka sesar ini masih sangat ngilu, baru 21 hari setelah operasi. Mana mungkin aku bisa menahan tekanan berat," Lee dengan sengaja memperlihatkan luka di atas perutnya.


Wanita itu dengan sengaja membuka pakaian untuk memperlihatkan bahwa dia masih merasa sangat kesakitan. Lokasi bekas sesarnya belum sembuh secara benar. Karena itulah Lee Ji An ingin pengertian dari kekasihnya, tidak mau menolak semua permintaan Nathan, akan tetapi dia tidak mau pulang dari Cina merasa sakit, keduaorang tuanya pasti akan marah pada dia.


Nathan terkejut , merasa menyesal telah meminta banyak padahal Lee Ji An, pria itu memang sangat bernafsu saat ini dia seolah ingin memakan biji yang hidup-hidup dengan gairah yang dia miliki. Soalnya seorang lelaki seperti dia selama ini sudah sangat kuat menahan diri, ketika ada wanita cantik yang ada di dalam peluknya.


"Maafkan aku Sayang. Aku melupakan sesuatu hal yang sangat penting yaitu kesehatanmu, masa nifas setelah 40 hari, juga luka operasimu yang sembuh secara total, aku sudah meminta yang lainnya padamu, tapi aku tidak akan membuatmu kelelahan Sayang, maaf ya Sayang," ucap Nathan kepada sang kekasih hati padahal sebenarnya bukan ingin bercinta tetapi berciuman saja. Cuman Lee Ji An salah faham.


"Kenapa harus minta maaf, kamu tidak melakukan hal apapun, Sayang. Aku tahu kamu pun khawatir tentang kondisiku, sini kecup aku, kamu bisa mengecup aku sesuka hatimu tapi, tapi tidak lebih."


"Oke aku akan mengecupmu sesukaku, tetapi aku takut sekali, bagaimana kalau aku tidak bisa menahan diriku, karena itu sebaiknya tidak aku awali semua itu," ungkap Nathan sambil mengelus lembut kening sang kekasih hati.


"Iya Sayang, lagian aku ingin melakukannya setelah kita menikah aku ingin menjadi istrimu, melayanimu dengan degenap hatiku," ungkapan Lee dengan senyuman manisnya mereka kini saling bertatapan mereka sebenarnya sudah memiliki nafsu yang begitu besar, rasa saling memiliki sudah sangat mengikat. Karena itulah sebagai seorang pria Nathan takut Kebablasan.


Udah itu tahu Lee adalah kelemahannya dan sangat mengetahui titik lemah pada dirinya. Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu siapa lagi kalau bukan nenek

__ADS_1


"Nathan bangunlah ini sudah siang. Lihatlah sudah jam 8 pagi, ayo kita sarapan dan bergegas kita akan pergi ke tempat pemakaman ayah ibumu, kita memberikan salam dan memperkenalkan diri kepada orangtuamu," ucap sang nenek di balik pintu.


"Baiklah Nek, kami akan segera turun," kata Nathan menjawab ucapan sang nenek.


"Kalau begitu, Nenek turun lebih dulu ya. Cepat jangan sampai terlambat," kata nenek Liao sambil beranjak pergi dari pintu tersebut.


"Kita mau ke mana?" tanya Lee Ji An kepada Nathan.


"Sayang, karena kamu sudah ada di sini jadi kamu harus bertemu dengan kedua orang tuaku. Kita harus menghadap di depan batu nisan mereka, aku akan langsung memperkenalkanmu sebagai calon istriku sebagai ibu dari anakku," kata Nathan dengan senyumannya.


"Benarkah Sayang. Baiklah kalau begitu sana kamu mandi," Lee tersenyum sambil menyuruh Nathan ke kamar mandi.


"Sayang aku sudah mandi, kamu yang belum mandi, eh mandi cepat aku ingin segera bertemu dengan kedua orangtuamu."


"Oke baiklah tunggu ya, Sayang," kata Nathan sambil beranjak dari posisi tidurnya, lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Pria itu pun langsung membersihkan tubuhnya, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Lee Ji An sendiri sudah menyiapkan baju untuk dia kenakan, Lee terlihat seperti istri yang sangat manis dan penurut, sudah mempersiapkan satu stel baju yang akan Nathan pakai.

__ADS_1


Merasa sangat senang melihat Lee berperilaku semanis itu. Dia langsung mengenakan pakaian yang sudah disiapkan. Setelah itu mereka pun langsung turun untuk sarapan bersama sang nenek tercinta.


Suasana di meja makan begitu hangat, nenek terus menerus mamuji Lee, begitu pula dengan wanita itu. Mereka berdua sangat akrab, dan saling menyayangi, nenek sudah benar-benar terpikat oleh gadis yang akan bawa Nathan kali ini. Baru pertama kali datang membawa seorang wanita ke dalam rumah dan kali ini wanita itu langsung membuat sang nenek jatuh hati.


Bukan cuma Nathan yang jatuh cinta kepada Lee Ji An, tapi sang nenek pun menyayangi Lee Ji An dengan tulus. Perlakuan sang nenek benar-benar membuat Lee Ji An bahagia, dia tidak menyangka akan sebaik ini. Hatinya begitu hangat dan tenang dengan sikap yang ramah seperti itu. Sepertinya demikian akan sangat betah tinggal di Tiongkok.


Mereka akhirnya berangkat, setelah sarapan. Menuju ke sebuah pemakaman keluarga. Kini Lee Ji An melihat dengan jelas kedua batu nisan milik orangtuanya Nathan. Mereka berdiri dengan keheningan yang sempat menusuk kedalam sukma. Nenek Liao pun tidak bisa berkata-kata lain selain menitikkan air matanya, sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun lamanya rasa sakit ditinggal oleh seorang anak masih saja dia rasakan.


"Mama Papa aku datang ke sini untuk memperkenalkan seseorang kepada kalian, di sampingku ada seorang wanita yang sangat aku cintai, aku akan segera menikahinya dia adalah ibu dari bayiku, ucapkan salam pada mereka Lee," kata Nathan kepada Lee Ji An.


"Paman bibi saya memperkenalkan diri semoga paman dan bibi menyukai kehadiran saya," Lee Ji An berkata seolah-olah di hadapannya ada dua orang manusia yang sedang menunggu kata-katanya. Padahal di hadapannya hanyalah batu nisan.


"Mama dan papa pasti menyukaimu, Sayang. mama lihatlah aku sudah memiliki seorang anak, memang mama melihat sendiri bagaimana kondisi anak kami, Lee telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anak kami pada akhirnya semuanya ...." Nathan menghentikan kata-katanya, dia mengingat bayi yang telah dilahirkan oleh Ji An, bayi yang kecil yang diberi nama Lee Ji Nan.


"Semuanya tidak ada yang sia-sia, karena aku melahirkan bayi yang sehat aku memberi namanya Ryu Jin, paman bibi. Tadinya aku ingin membawanya kesini tetapi takut jika membawanya, maka bisa membuat dia sakit, tubuhnya terlalu lemah untuk bisa diajak bepergian jauh, dia baru berusia 21 hari dan sangat lucu," tutur Lee melanjutkan ucapan Nathan. Memang sebenarnya Lee tahu Nathan menghentikan kata-katanya karena sedih mengingat bayi yang telah meninggal itu.


"Sayang tidak perlu memanggil mereka paman dan bibi, tetapi panggilan mereka mama dan papa seperti aku manggilnya karena, tidak dipungkiri setelah pulang dari Cina kita akan segera bersatu dalam ikatan pernikahan," kata Nathan kepada kekasihnya, Lee Ji An pun mengangguk menyetujui ucapan dari sang pujaan hati.

__ADS_1


🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄


__ADS_2