
"Selamat Tuan dan Nyonya, sekarang Tuan dan Nyonya sudah resmi menikah, kalian tidak akan bisa dipisahkan lagi, tidak akan ada yang menentang hubungan kalian karena bahkan presiden sekali pun tidak akan pernah menentangnya," kata Sekretaris Chen memberikan senyum yang manis kepada kedua bosnya tersebut.
"Terima kasih Sekretaris Chen, ini semua berkat dirimu yang selalu membantuku," kata Nathan sambil menorehkan senyuman manis kepada Sekretarisnya.
"Sama-sama Tuan, saya adalah Sekertaris anda, jadi sudah sewajarnya saya mengerjakan semua pekerjaan yang tidak bisa anda kerjakan," kata Sekretaris Chen dengan ramah.
"Yasudah sekertaris Chen, sekarang kamu boleh bersantai di hotel, karena saya akan segera menemui mertua saya," kata Nathan.
"Baiklah Tuan, Nyonya kalau begitu saya permisi dulu," ujar Sekretaris Chen langsung pergi meninggalkan Nathan dan Lee Ji An.
"Sayang. Hari ini adalah hari yang paling berharga, paling penting buat kita Sayang, ayo kita posting foto surat nikah kita di sosial media," kata Nathan sambil tersenyum manis.
"Aku masih takut," ujar Lee Ji An dengan tubuh yang bergetar.
"Tidak apa-apa, kan cuma posting saja, kalau kamu tidak mau biar aku yang mempostingnya hari ini, dan aku akan summon akun kamu sayang," kata Nathan sembari memainkan ponselnya.
Kini Lee hanya terdiam, dia sebenarnya sangat bahagia karena hubungannya kini sudah resmi. RUU Jin kini sudah mendapatkan kedua orangtuanya dengan lengkap. Tidak akan ada lagi kata-kata yang akan menjelekkan dia di masa depan. Karena kedua orangtua Ryu Jin kini sudah bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan.
Nathan kini sudah memposting buku nikahnya dan ternyata banyak sekali yang komentar. Termasuk Dokter Yuan Chuan.
"Sayang. Lihatlah Yuan Chuan memberi kita selamat," kata Nathan.
"Agatha, pasti akan sangat kecewa mendengar kabar berita kebahagiaan kita," kata Lee sambil menatap kearah ponsel Nathan.
"Sudahlah aku membencinya. Soalnya dia telah membohongi aku, dan aku tidak akan pernah memaafkannya," kata Nathan sambil tersenyum sinis, dia masih ingat betapa Agatha membohongi dia, dia tidak ingin dibohongi seperti itu lagi.
"Mood-mu langsung berubah, Sayang," sahut Lee ji An.
__ADS_1
"Yasudah, bagaimana sekarang kalau kita telepon Nenek dulu," kata Nathan sambil menorehkan senyum yang manis.
"Baiklah, bagaimana kalau kita video call saja, sekalian kita melihat keadaan Ryu Jin," seru wanita itu sumringah, karena dia sudah merindukan putranya tersayang.
Nathan langsung menekan nomor ponsel nenek, dan beberapa saat kemudian saluran telepon itu pun tersambung. Mereka melakukan video call.
"Nathan anak nakal, apa yang kamu lakukan?" kata sang nenek dengan kemarahannya.
"Ada apa Nenek, sampai semarang itu?" Nathan terkekeh melihat kemarahan sang nenek.
"Kamu menikah di Catatan Sipil tidak mengadakan pesta sama sekali, bagaimana ini, mau di taruh di mana muka nenek dihadapan semua orang, cepat pulang lalu kita adakan pesta secepatnya," perintah nenek Liao.
"Baiklah nanti aku akan segera pulang, apa Nenek mau berbicara dengan Lee sekarang?" tanya Nathan.
"Baiklah ... Lee apa kamu ada di sana, Sayang?"
"Cucuku Sayang, terima kasih sudah mau menikahi cucu nenek. Terima kasih sudah menjadi anggota keluarga Lioa, yang terutama terima kasih sudah memberikan putra semanis Ryu Jin, juga tolong jaga kandunganmu baik-baik, Sayang. Jangan sampai kamu kecapean, cepatlah pulang ke Cina, kita adakan pesta pernikahan secepatnya, kita umumkan kepada Dunia bahwa sebenarnya kalian sudah menikah lama, agar Ryu Jin tidak digunjingkan oleh orang," tutur sang nenek dengan penuh kasih sayang.
"Nenek terima kasih banyak, tapi Lee harus berbicara dulu dengan orangtua di sini, Lee pasti akan pulang ke Cina bersama Nathan, kami sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan Ryu Jin. Dan maafkan Lee Nenek, karena Lee lagi-lagi harus mengandung diluar nikah," ungkap Lee Ji An kepada sang nenek.
"Jangan jadikan beban nak, kehamilanmu adalah anugerah untuk keluarga kami, karena berkat kamu lah Nenek bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang buyut." Nenek Liao meneteskan air matanya, dia tidak menyangka bahwa semasa dia hidup dia bisa melihat cicit dan calon cicitnya.
"Terima kasih Nenek. Hanya itu yang bisa dikatakan, Ryu Jin ada di mana, Nek?" tanya Lee. Karena dia sudah tidak sabar ingin melihat putra kesayangannya.
"Ah ada, sebentar Nenek panggilkan dulu, Ryu Sayang ibumu dari Jepang menelepon, Nak," teriak sang nenek kepada cicitnya.
Jelas saja Ryu Jin langsung berlari menghampiri sang nenek, dia sudah sangat merindukan ibunya.
__ADS_1
"Ibu Ibu Ibu. Kapan datang ke Cina?" tanya Ryu Jin dengan senyum yang merekah.
"Ryu Jin anak ibu, tampan sekali, sudah mandi ya? Tenang sayang Ibu sama Ayah akan segera pulang, dan ibu juga membawa oleh-oleh buat Ryu," kata Lee sambil menorehkan senyum yang manis, betapa bahagianya wanita itu bisa melihat dan menatap putra kesayangannya.
"Apa itu, Ibu?" Ryu Jin terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh sang ibu.
"Ryu akan segera mempunyai seorang adik, lihat di perut ibu ada adiknya Ryu. Apakah kamu senang?" tanya Lee Ji An dengan senyumannya.
"Benarkah asik-asik, Ryu akan menjadi seorang Gege," Ryu Jin berteriak kegirangan dan itu membuat nenek Liao begitu senang. Nathan hanya tersenyum sambil memeluk Lee dengan lembut, mereka berdua begitu bahagia melihat putra kesayangan mereka jingkrak-jingkrakkan karena merasa senang.
"Ya sudah Nenek, Ryu Jin Sayang, karena Ibu harus bertemu dengan Nenek Lee, maka Ibu tutup dulu ya teleponnya," kata Lee Ji An dengan senyumannya.
"Baiklah cucuku, silakan kamu harus cepat-cepat bicara dengan kedua orang tuamu, untuk membicarakan pernikahan kalian," ungkap nenek Liao.
"Kalau begitu saya tutup dulu Nenek," ujar Lee sambil menutup sambungan telepon tersebut.
"Lihatlah Sayang Ryu Jin dan Nenek begitu bahagia tentang pernikahan kita dan kehamilan kamu. Apakah kamu tidak ikut bahagia juga?" seru Nathan sambil menatap istri kesayangannya.
"Aku bahagia Sayang, tapi aku belum merasa tenang jika belum berjumpa dengan keluargaku." Wanita itu menundukkan wajahnya, senyum yang tadinya merekah tiba-tiba saja menghilang dan berubah menjadi sendu.
"Jangan sedih seperti itu, bukankah kita akan menghadapinya bersama, sekarang kita tarik napas dan kita yakinkan bahwa keluargamu akan menerima pernikahan kita," jelas Nathan pada kekasihnya.
"Semoga saja, kalau begitu ayo kita berangkat," ajak Lee Ji An kepada sang suami.
"Baiklah. Ayo kita berangkat, kita hadapi semuanya bersama, aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Nathan lalu mengemudikan kendaraannya, dan pria itu begitu bersemangat karena ingin berjumpa dengan keluarga dari istrinya. Sesampainya di halaman rumah, Lee bahkan enggan untuk turun. Ia masih merasakan ketakutan jika dia akan dimarahi oleh keluarganya. Tetapi Nathan selalu meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Karena itulah ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah.
🎄🎄🎄
__ADS_1