
"Sayang aku mohon selamatkan Nathan, Sayang, jangan terlalu banyak berfikir." Istriku terus menangis meminta aku, untuk menyelamatkan adik iparku.
"Aku," kataku terhenti tatkala tiba-tiba saja sebuah ledakan kecil keluar dari mesin mobil Nathan.
"Kamu jahat, jangan diam saja. Di saat orang lain menolong sesama manusia, kamu malah diam. Lee tidak akan memaafkanmu," tangis istriku dengan begitu nyaring, dia memukul Dadaku dengan sangat kencang dengan kedua tangannya.
"Aku harus kembali ke Rumah Sakit, Lee lebih penting dari apapun," kataku mencoba untuk mengingkari bahwa aku sangat malas untuk menyelamatkan Nathan.
"Kamu Jahat, kamu orang jahat Lee Young Joon. Lihatlah orang yang sedang berusaha mengeluarkan Nathan dari mobil dan sekarang kamu malah menjadi penonton dan merasa bahagia, jika terjadi sesuatu kepada Nathan, maka aku akan menjadi saksi betapa kamu orang yang paling jahat di muka bumi ini, akan aku katakan pada Lee bahwa kamu bukan kakak yang baik, aku akan segera meminta cerai darimu. Aku tidak percaya bahwa aku telah menikahi seorang laki-laki yang sangat sadis, membiarkan adik iparnya sendiri di dalam mobil dalam keadaan luka di sekujur tubuhnya, bahkan sadarkan diri." Istriku terus menangis sambil memukuliku. Bahkan dia meminta cerai kepadaku, apa yang harus aku lakukan.
Tiba-tiba saja seseorang datang dan langsung membantu Nathan keluar dari mobil.
"Tuan Tuan, saya akan menyelamatkan anda, Tuan bersabarlah," teriak Sekretaris Chen dengan tangisan yang begitu lirih.
Perasaan hatiku tergugah, orang lain benar-benar membantu Nathan dan Sekretarisnya pun datang untuk membantu tuannya. Aku hanya terdiam, ada rasa sakit hati dan sebuah sesal, aku memutuskan untuk membantu menyelamatkan dia walau pun hatiku masih membencinya.
"Usaplah air matamu, aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau Lee membenciku, walau aku sangat membenci Nathan, aku akan menyelamatkannya demi kalian," kataku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku lalu berlari untuk membantu Sekretarisnya dan mengeluarkan tubuh Nathan dari dalam mobil tersebut. Tetapi belum sempat aku datang.
Duaaarr.
Ternyata sebuah ledakan besar telah terjadi dan mobil itu pun terbakar dengan seketika.
"Nathan, Nathan, ya Tuhan, Nathan." Aku melihat istriku menangis sambil menjerit-jerit.
Semua orang kini menjauhi mobil tersebut karena mobil itu sudah terbakar dengan api yang begitu besar.
__ADS_1
"Nathan, maafkan aku." Aku hanya bisa berkata itu dengan suara yang rendah.
Kim Mi So istriku sendiri tiba-tiba saja menampar wajahku, plak. Benar-benar sebuah tamparan yang membangunkan aku, bahwa perbuatanku ini sudah salah. Aku sudah membuat orang lain meninggal dengan keegoisanku.
"Kamu brengsekk Joon, tega-teganya kamu membiarkan adik iparmu mati di depan matamu sendiri, dasar pembunuh!" Wanita yang menganggap aku sebagai suami kesayangannya sekarang memakiku.
"Sayang." Aku mencoba untuk menyentuh pipinya. Tetapi dia menepis tanganku dengan kasar, Kim Mi So kesayanganku kini malah berlari ke arah api.
"Jangan kesana jangan!" Aku berteriak kepada istriku, tetapi istriku malah mendorongku dan menendang selangkanganku.
Buggh.
"Ahh, Sayang." Aku sungguh kesakitan, istriku terus berlari ke arah kobaran api dan ternyata api semakin besar.
Dengan rasa sakit yang kurasakan. Aku mencoba berjalan tertatih-tatih untuk mengejar istriku, karena istriku terlalu dekat dengan api. Saat aku hendak mendekatinya tiba-tiba Sekretaris Chen datang dengan wajah yang penuh dengan warna hitam karena asap.
"Nyonya Lee mana?" tanya Sekretaris Chen dengan matanya yang basah, pria itu sepertinya menangis lalu bertanya tentang keadaan adikku.
"Sudah di bawa oleh ambulance berangkat menuju ke Rumah Sakit," kata Istriku sambil menangis menatap pilu ke arah Sekretaris Chen, air matanya yang terus mengalir.
"Tuanku Ingin bertemu dengannya. Aku mohon pertemukan Tuanku dengannya," pinta Sekretaris Chen dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa? Benarkah, Nathan dimana dia, apakah dia selamat?" tangis istriku tak terelakan lagi, ketika kini bahkan dia mempertanyakan adik iparku yang harusnya aku menangisi pria itu.
"Tuan Nathan sudah selamat. Lihatlah beliau ada di sana, dan dia sudah sadarkan diri, tapi sepertinya dia hanya bisa menyebut nama istrinya, tolong pertemukan Tuanku dengan istrinya." Sekretaris Chen berkata dengan begitu lirih, tidak kuasa menahan semua kesedihan yang dirasakan.
__ADS_1
Ternyata Nathan selamat dari ledakan itu. Sekretarisnyalah yang menyelamatkannya dari kobaran api itu, sampai dia mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sedangkan aku sebagai kakak yang tidak berguna malah berunding dengan hati kecilku yang penuh dengan iblis kebencian, berunding antara menyelamatkan atau tidak.
"Ayo cepat kita bawa Nathan ke Rumah Sakit. Ayo cepat kita pertemukan mereka berdua," Lagi-lagi istriku menangis, dia pun berlari ke arah Nathan, bersama Sekretaris Chen. Aku pun mengikuti mereka dan benar saja, Pria itu selamat, walau dalam kondisi luka di sekujur tubuhnya, tetapi beruntung sekali tidak ada luka bakar sedikit pun.
"Lee, mana Lee?" tanya Nathan dengan suara yang rendah, aku sempat iba mendengar suara pria tersebut, saat dia benar-benar tak berdaya, ternyata dia masih menyebutkan nama adikku.
"Nyonya sudah selamat dan sudah di bawa ke Rumah Sakit," kata Sekertaris Chen dengan isak tangisnya.
"Lee, syukurlah," kata Nathan lalu pria itu kembali tidak sadarkan diri.
"Nathan, Nathan, ayo cepat bawa ke Rumah Sakit." Istriku kembali meneriakan nama pria itu, dan aku hanya bisa jadi penonton saja.
Dengan sigap Sekretarisnya lalu masuk ke dalam sebuah mobil ambulance, dan dia pun ikut masuk ke dalam ambulance tersebut, bersama dengan Kim Mi So istriku.
Aku tidak boleh diam saja, aku pun harus ikut menyusul, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil mobilku dan mengikuti ambulance dari belakang.
Sesampainya di Rumah Sakit para Perawat dan Dokter langsung memberikan pertolongan kepada Nathan, dan aku melupakan satu hal, di mana adikku sekarang apakah dia sudah sadar?
Nathan sudah dibawa ke ruangan Instalasi Gawat Darurat dan ternyata Nathan ditidurkan tepat di ranjang di sebelah Lee Ji An.
"Ya Tuhan mereka berdua begitu menyedihkan." Lagi-lagi istriku menangis, aku begitu bodoh, karena selama ini selalu egois dan tidak melihat betapa mereka saling mencintai.
"Bangunlah Lee, bangunlah Nathan, aku sudah merestui kalian berdua. Pulanglah kalian ke Cina, bahagiakan adikku di sana. Aku akan berusaha membujuk keluarga besarku, untuk menerima hubungan kalian, asalkan kalian tetap hidup dan tetap bernafas." Aku mengucapkan kata-kata itu, di depan kedua manusia yang sudah tak berdaya, dengan tubuh yang penuh dengan luka dan tubuh yang penuh dengan darah disekujur tubuh mereka.
Selesai.
__ADS_1