
"Sayang aku sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu," ungkap Nathan di balik telepon. Lee Ji An dan Nathan sedang melakukan panggilan telepon, karena ternyata besok adalah hari pernikahan mereka, dan mereka tidak boleh berjumpa beberapa hari sebelum menikah.
"Aku pun sama Sayang, sangat merindukanmu, sudah satu minggu lebih kita tidak berjumpa, anak kita pun menangis terus. Sepertinya dia rindu pada Ayahnya," kata Lee Ji An sambil menggendong buah hatinya, melakukan panggilan video call bersama Nathan.
"Coba lihat Dedek, ya ampun ini Ayah Sayang. Ini Ayah Dek, Ayah rindu sama kamu, tunggu sampai besok ya, Sayang. Besok Ayah dan Ibu akan bersatu, Kami akan segera menikah dan kamu tidak akan lagi berjauh-jauhan dengan Ayah," kata Nathan sambil menorehkan senyum yang manis menatap ke arah layar ponsel yang memperlihatkan jelas wajah buah hatinya yang tercinta.
"Aku merasa gugup, besok adalah hari pernikahan kita, Sayang. Kamu jangan telat datang ya, ko aku merasa takut seperti ini ya, aku takut kamu tidak datang di hari pernikahan kita," ungkap Lee kepada Nathan mencurahkan semua rasa takutnya.
"Jangan khawatir akan hal yang tidak jelas. Besok aku akan segera datang menjadi seorang pangeran yang paling tampan untukmu, menjemputmu untuk menjadi istriku dan kita tidak akan terpisahkan lagi, Sayang. Aku sangat mencintaimu, bukan cuma kamu aku pun menantikan hari esok, hari di mana kita bersatu untuk selamanya," kata Nathan memberikan senyum yang manis, dia berkata dengan jujur semua tentang perasaannya.
"Aku hanya takut saja, aku hanya takut dan gugup, wajar kan aku ketakutan. Aku sangat mendambakan pernikahan ini, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu hal yang akan membuat kita_,"
"Cukup Sayang! Itu tidak perlu dilanjutkan lagi, tidak ada yang akan membuat kita terpisah, karena tekadku sudah bulat, aku sudah tidak kuat berlama-lama berjauhan denganmu, Sayang. Aku bahkan memimpikan malam kedua kita, malam itu aku akan memakanmu sampai habis, aku akan membuatmu tak berdaya di bawahku, kamu tinggal bersiap, karena besok malam aku akan melakukannya. Bagaimana pun kamu harus siap, sudah boleh kan, kamu sudah lepas dari masa nipas." Nathan berkata dengan senyum Devilnya, membuat Lee Ji An merona merah. Pipinya benar-benar memerah, wanita itu hanya bisa tersenyum sambil menundukkan wajahnya.
"Sayang kamu mulai mesum. Aku tidak tahu, aku tidak memikirkan .alam kedua kita, aku hanya memikirkan perasaan kita, saat kita bersumpah kepada Tuhan itu saja," kata Lee Ji An dengan suara yang lembut.
"Tenang saja, Sayang. Jangan khawatirkan apapun, semuanya sudah beres. Hotel catering bahkan apapun itu, bahkan bagian terkecil sekalipun sudah beres, tinggal datang saja cuma itu," kata Nathan sambil menolehkan senyum yang manis.
"Tetap saja aku merasa berdebar. Karena ini adalah pernikahan pertamaku," kata Lee tersenyum manis membalas senyuman dari kekasihnya.
"Tentu saja pernikahan pertama, ini juga merupakan pernikahan pertamaku, kita berdua melakukan pernikahan pertama, Sayang. Jangan terlalu cemas yang berlebihan, tidak akan terjadi apapun," ujar pria itu mencoba menenangkan pikiran dan hati sang kekasih.
__ADS_1
"Apakah semuanya akan baik-baik saja, kenapa perasaanku tidak nyaman seperti ini? Ada rasa gelisah dan ketakutan," kata Lee Ji An dengan suara yang rendah.
"Buang semua kecemasan itu, Sayang. itu malah akan membuatmu stress dan depresi masa pengantin perempuan terlihat jelek? Besok kamu tidak boleh Stress kamu harus bahagia dan perlihatkan wajah cantikmu di hadapan dunia, karena besok seluruh keluarga dan teman-temanku akan melihat betapa cantiknya istriku," tutur Nathan kepada sang kekasih.
"Nathan Sayang, aku kan mencoba membuang semua kecemasan itu. Tapi aku harap kamu harus datang tepat waktu, jangan sampai terlambat, jangan terlambat walaupun cuma satu menit, aku tidak bisa menunggu terlalu lama, dengan semua kegelisahan yang kurasakan," ungkap Lee terlihat begitu sendu, matanya mulai berkaca-kaca, wanita itu memang mengalami situasi kecemasan sebelum pernikahan.
Setiap perempuan pasti mengalami hal itu, tetapi kecemasan yang dialami Lee Ji An terlalu berlebihan dan tanpa mengatakan itu tidak baik untuk dia.
"Sayang ... ayo tarik napas dulu, jangan seperti itu, yuk tarik napas lalu buang keluar. Ayo lakukan seperti itu?"
Wanita itu melakukan apa yang Nathan perintahkan, dia ingin sekali mendapatkan ketenangan di dalam hatinya, tetapi tetap saja hatinya merasa cemas.
"Untuk apa? Aku tidak mau, aku ingin memakainya besok langsung, karena setelah memakainya aku tidak mau melepaskannya," kata Lee tersenyum manis membuat Nathan pun ikut tersenyum.
"Begitu dong senyum, jangan cemberut seperti tadi, kecemasan yang berlebihan tidak baik, Sayang. Percayalah kepadaku, tidak akan terjadi sesuatu hal besok, aku akan datang tepat waktu, Sayang," kata Nathan sambil menorehkan senyuman yang manis membula Lee sedikit merasa tenang.
"Sayang, kamu di mana sekarang?"
"Aku sedang di kantor, aku membereskan beberapa file lalu aku akan segera pulang ke rumah, karena ternyata tadi sekretaris Han menyuruhku untuk pulang kenapa," sahut Nathan dengan suara yang rendah.
"Memangnya kapan sekertaris Han meminta kamu pulang?" tanya Lee Ji An kepada Nathan.
__ADS_1
"Jadi sekitar 30 menit yang lalu, katanya nenek kurang enak badan, aku harus melihat ini dia, nenek memang sudah tua, usianya sekarang sudah 65 tahun, aku harus segera melihat kondisi nenek, aku tidak boleh membiarkan Nenek sakit, kasihan dia sudah lansia," ungkap Nathan sambil membayangkan sang nenek.
"Aku pikir nenek sudah berusia 70 tahun, ternyata masih muda," kata Lee Ji An.
"Ya ... entahlah pokoknya usianya lebih dari 65 tahun, aku kurang tahu berapa. Karena nenek tidak pernah merayakan pesta ulang tahunnya, semenjak meninggal ayah dan ibu. Nenek tidak pernah mau merayakan pesta ulang tahunnya," kata Nathan dengan mata yang sendu.
Nathan memang selalu terlihat murung dan sedih, tatkala dia mengingat orangtuanya. Dia selalu tampak tidak bahagia ketika dia mengungkit kedua orangtuanya, baik dia nenek atau orang lain. Jika dia mendengar ucapan tentang kedua orangtuanya maka dia akan langsung merasa sedih.
"Sudahlah Sayang, lupakan saja. Sayang tahukah kamu, kamu harus berbakti kepada nenekmu, nenek bilang kamu sangat nakal dahulu," Lee terkekeh menertawakan Nathan.
"Apa ini? Kamu menertawakan kenakalanku, aku tidak nakal, aku memang jarang menurut ucapan nenek, karena kamu tahu, nenek selama ini selalu mejodohkan aku dengan banyak perempuan yang tidak aku sukai," kata Nathan sambil menatap kearah Lee Ji An.
"Benarkah?! Ya sudah kalau begitu kamu tidak usah menurut sama nenek," pekik Lee Ji An, dengan mulut yang manyun, dan itu membuat Nathan terkekeh, pria itu merasa sangat gemas melihat kekasihnya merajuk seperti itu. Dia ingin sekali mendekat dan memeluk kekasihnya tercinta. Sayangnya mereka hanya bisa video call saja saat ini karena sebagai calon pengantin, seminggu sebelum pernikahan mereka tidak diperbolehkan untuk berjumpa.
"Mulutmu itu begitu seksi. Andai saja kamu berada di hadapanku. Aku akan menggigitmu," kata Nathan dengan suara yang gemas. Pria itu sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan kekasihnya tercinta.
"Memangnya aku apa? Aku tidak mau kamu gigit seperti itu, sudah dulu ya sepertinya ibu memanggil, aku harus segera menghampirinya," kata Lee mencoba untuk menutup sambungan video call.
"Iya Sayang, sampai jumpa besok ya, aku akan datang tepat waktu tenang saja."
🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g
__ADS_1