Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Rasa Sakit


__ADS_3

Sesak sekali, Sehun kembali mendengar keinginan dari calon putranya. Ryu Jin kembali mengulangi keinginan bahwa dia ingin kembali ke Indonesia bersama ayah dan ibunya.


Sehun lalu melepaskan genggaman tangannya pada Lee Ji An dan dia duduk sesaat untuk menetralisir rasa perih dalam hatinya. Sesak tentu saja dia rasakan. Sakit sudah jelas.


"Lee, Ayo kita pulang!" ajak Sehun dengan suara yang rendah. Lee Ji An terdiam dia mencoba untuk menyeka air matanya yang menetes.


"Baiklah Sehun, ayo Ryu kalau kamu memang sayang Ibu, ikut pulang bersama dengan Ibu!" ajak Lee Ji An kepada putranya.


"Tidak mau Ibu, tidak mau." Anak itu malah menangis dengan kencang. Memeluk Nathan dengan erat. Melihat tangan putranya melilit ke tubuh Nathan, Sehun semakin merasa bahwa dirinya tak berarti. Dia ingin sekali melempar barang dan meledakkan amukkannya, tetapi semua itu dia redam.


"Jangan paksa anakku Lee," kata Nathan dengan mata basahnya.


"Nathan, kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu tidak akan mengganguku lagi, kenapa sekarang malah menahan putraku untuk ikut denganku?" Lee Ji An menangis lagi. Dia tak kuasa dan akhirnya membentak Nathan.


"Lee Ji An, jangan bentak cucuku seperti itu!" Teriak sang nenek dengan tetesan air matanya. Ternyata sedari tadi nenek Liao menonton adegan drama keluarga tersebut. Dan membuat hatinya sakit dan perih.


"Maafkan aku Nenek, tetapi Nathan sudah berjanji, lantas kenapa sekarang Nathan malah mengingkari janjinya," lirih Lee Ji An dengan tangisan yang meledak.


"Lee, aku mencintai putraku, dan dia ingin bersamaku, sebagai seorang Ayah aku tidak sanggup untuk membuat darah dagingku sendiri menangis," lirih Nathan.


"Kamu sudah berjanji dan kamu harus menepati janjimu padaku," kata Lee Ji An dengan mata yang basah.


"Tuan Nathan yang terhormat, anda memang Ayah kandung dari Ryu Jin, tetapi apa kamu lupa, kamu bahkan sudah menelantarkannya selama lima tahun, dan jika ini di usut maka kak Lee Young Joon lah yang paling berhak atas Ryu Jin," kata sehun dengan suara yang berat.


Hatinya masih sakit, seolah-olah ratusan pedang penghujam seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang dia rasa telah membuat tubuhnya seolah lemas tak bertenaga. Apalagi kini dia harus menahan semua emosi yang membuat pikirannya berontak dan tak bisa lagi menahan sabar.


"Kamu tidak perlu ikut campur urusan keluarga kami," kata Nathan dengan kepedihannya.


"Keluarga yang mana? Keluarga terbentuk dari sebuah hubungan pernikahan, tetapi kamu dan Lee bahkan tidak pernah menikah, dan apa kamu lupa, bahkan bulan depan aku dan Lee akan segera menikah, karena itu bulan depan, yang di sebut keluarga itu aku Lee dan Ryu Jin, bukan kamu, Lee dan Ryu Jin," kata sehun dengan suara yang bergetar. Pria itu sekuat tegana bersikap tenang tetapi pada kenyataannya dia ingin menjerit karena sangat sakit hati.

__ADS_1


"Pernikahan belum terjadi, bahkan itu bisa saja batal," kekeh Nathan seolah mengejek.


"Kamu!"


"Sehun sudah, jangan bicara lagi," tangkas Lee Ji An sambil memeluk Sehun. Ketika Sehun hendak mendorong Nathan.


"Lee, kamu tau kan betapa aku mencintaimu, aku tidak peduli apa yang kamu lakukan bersama dengannya, bahkan kamu memiliki putra dengannya aku tetap menerimamu apa adanya, itu karena aku sangat mencintaimu, Lee. Ayo kita pulang Sayang," lirih Sehun dengan dada yang sesak. Seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya.


"Iya Sehun, aku akan membujuk Ryu sebentar lagi," jawab Lee.


"Baiklah, aku tunggu di luar," kata Sehun sambil pergi meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu berdiri di balik pintu dan meneteskan air mata yang sedari tadi dia tahan.


Hancur semuanya ketika mengetahui bahwa wanita yang sangat dia cintai kini berselingkuh di belakangnya, bahkan tinggal satu rumah selama beberapa hari.


"Lee, apa yang terjadi padamu, menjak kapan kamu pandai berbohong, kamu pergi ke Indonesia ternyata bersamanya, kamu menghancurkan hatiku, tidak tahukan bahwa aku sudah mencintaimu sejak sangat lama," lirih Sehun di dasar hatinya.


Lee sendiri kini mencoba duduk di samping Ryu Jin dan Nathan Liao.


"Ryu, Ayah Sehun marah, kamu tidak datang kah kepada Ibu, Ryu tega sama Ibu," ungkap Lee Ji An dengan tetesan air matanya.


"Ryu sayang Ibu kecil," kata Ryu Jin sambil menyeka air matanya.


"Kalau memang Ryu sayang kepada Ibu, ayo kita pulang sekarang, kita bertemu dengan ibu besar dan ayah Young Joon," kata Lee Ji An


"Ryu masih ingin bersama Ayah Nathan," isak Ryu Jin.


"Baiklah, kalau begitu berarti Ryu sudah tidak sayang sama Ibu lagi." Lee Ji An menangis dengan tersedu.


"Ibu jangan menangis, kenapa Ibu menangis, Ryu sayang sama Ibu." Ryu Jin lalu memeluk Lee Ji An.

__ADS_1


"Ini karena Ryu tidak sayang lagi kepada ibu," tangis Lee Ji An.


"Ryu sayang sama ibu," kata Ryu Jin terus memeluk ibunya.


"Kalau begitu ayo kita pulang, Nak. Kalau memang Ryu sayang kepada Ibu," ajak Lee Ji An.


Ryu Jin lalu menyentuh pipi Lee Ji An yang basah. Dia menatap Nathan sesaat." Ayah, Ryu ingin di sini bersama dengan Ayah."


"Baiklah Ryu tinggal di sini bersama dengan Ayah, Nak," Nathan tersenyum.


"Tapi Ryu sayang Bbu, Ryu Jin tidak suka melihat ibu menangis, karena itu Ryu akan pulang, maafkan Ryu, Ayah." Anak itu menatap sang ayah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ryu Jin Liao," tangis sang nenek dengan tersendu mendengar ucapan perpisahan dari cicitnya.


"Ryu sayang," desahh Nathan dengan helaan napas yang berat.


"Maaf Ayah, Nenek, Ryu pulang dulu ya, Ryu sayang Ayah," kata Ryu Jin lalu Lele Ji An menggendong tubuh sang buah hati.


"Nathan, Nenek, Sekertaris Chen, Sekertaris Han, saya permisi dulu," kata Lee Ji An sambil berjalan menuju ke pintu untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Lee kamu tega sama aku," ungkap Nathan dengan tangisannya.


Lee Ji An tidak menoleh sama sekali. Sebenarnya hatinya sangat sakit. Karena tidak di pungkiri bahwa Nathan masih ada di dalam hatinya. Rasanya cintanya belum hilang dan malah semakin terasa.


Lee kini sudah keluar dari ruangan rawat Nathan. Sehun tersenyum dan mengambil alih Ryu Jin dan menggendong putranya. Mereka berjalan keluar dari Rumah Sakit dengan kesakitan hati yang telah membekas untuk keduanya.


Sedang Nathan sendiri masih meraung dengan luka yang menganga karena di tinggalkan dengan sia-sia.


Ketiga manusia ini merasakan rasa sakit yang sama perihnya. Tidak ada yang bahagia di antara ketiganya. Dan semuanya seolah menjadi lemah dan hancur. Cinta segitiga ini membunuh mereka dengan perlahan.

__ADS_1


__ADS_2