
Kini Ayah langsung masuk ke dalam kamar rawat inap sang buah hati. Ayah sudah tidak mau berdebat lagi dengan putranya. Semua yang Ayah lakuka demi kebahagiaan Lee sendiri, sebagai seorang Ayah dia tidak mau sampai putrinya menderita lagi, karena itulah keputusannya itu baginya sangat tepat, karena itu keputusannya tidak bisa di ganggu gugat.
Dan kini semuanya ikut ke dalam ruang rawat inap Lee Ji An. Terlihat Lee sudah cantik selepas mandi, ini adalah hari kedelapan paska operasi, karena itu Lee sudah boleh mandi, wanita itu kini sudah terlihat segar dan cantik karena nanti siang dia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, kini bahkan selang infus pun sudah terlepas. Semua orang tersenyum karena Lee sudah sehat kembali.
"Apa ini, kamu terlihat begitu cantik, aih aku senang," kata Kim Mi So kepada sang sahabatnya. Kim Mi So lalu memeluk sahabatnya tersayang. Lee Ji An tersenyum manis dan membalas semua pelukan dari kakak iparnya.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera pulang Eonni, aku pun ingin segera memeluk baby gantengku Ryu Jin," kata Lee Ji An sambil menorehkan senyuman yang manis kepada sang kakak ipar dan dia pun lalu menoleh kepada Ayah dan Ibu serta kakaknya, wanita itu tersenyum begitu bahagia. Sudah bisa di lihat gurat kebahagiaan yang terpantul dari wajah wanita itu. Wanita itu berbinar dan sangat senang.
Lee tidak tahu kalau sebenarnya buah hatinya belum di perbolehkan pulang ke rumah, karena kondisinya belum memunginkan untuk di bawa ke rumah. Bayi Ryu Jin masih belum bisa lepas dari infus, dan mendadak haemoglobin-nya turun.
"Eomma senang sekali kalau melihat putri bungsu Eomma terlihat sehat seperti ini, kita akan segera pulang ke rumah, tetapi bayimu belum bisa ikut pulang nak," ucap sang ibu kepada putri cantiknya.
"Hah ... kenapa tidak bisa pulang, apa yang terjadi pada bayiku?" tanya Lee Ji An kepada sang ibu.
"katanya Hb Ryu Jin tiba-tiba saja turun Lee, jadi Ryu tdak bisa pulang berama kita," kata sang ibu kepada putrinya.
"Apa itu bahaya?" kata Lee Ji An dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu tadinya begitu bahagia, tetapi kini wajah bahagia itu pun kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan kecemasan. Semua yang ada di ruangan itu sangat tidak tega melihat ekpresi dari wanita yang bernama Lee itu. Sang ibu langsung menggengam tangan Lee Ji An dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Sayangku, jangan terlalu cemas, Ryu Jin akan baik-baik saja, tinggal di Rumah Sakit untuk sementara waktu adalah keputusan yang terbaik, Nak. Dari pada kita memaksakan membawa bayimu pulang ke rumah, itu bahkan akan membuat bayimu dalam bahaya, Sayang. Jadi jangan cemas ya, di sini Ryu Jin akan baik-baik saja,'' kata Ibu Lee kepada putrinya.
Lee Ji An pun mengangguk, wanita itu menyeka air matanya yang tadi sempat menetes. Dia percaya dengan kata-kata sang ibu bahwa bayinya akan baik-baik saja. Ibu mana yang tidak sedih ketika mendengar bahwa bayinya dalam kondisi yang tidak baik.
"Lee, benar kata ibu, dan kita bisa melihat Ryu Jin setiap hari, jadi jangan cemas, walau memang karena ini kita tertuda untuk pulang ke Korea, bukankah Indonesia sangat nyaman, Ibu dan Ayah bisa sambil berlibur di sini," kata Lee Young Joon kepada sang adik tercinta.
"Tapi, apa sebelum pulang aku apa bisa memeluk buah hatiku?" ungkap Lee Ji An. Wanita itu sama sekali belum pernah memeluk sang buah hati. Sebagai seorang ibu dia sangat menantikan moment tersebut. Moment di mana dia mendekap erat bayi yang selama ini dia kandung dalam rahimnya selama sembilan bulan.
"kalau itu Oppa belu tau, tetapi nanti Oppa akan meminta ijin kepada Dokter anak supaya kamu bisa memeluk Ryu Jin sebelum kita pulang," kata Lee Young Joon kepada adiknya tercinta.
"Iya Oppa janji akan bicara pada Dokter, dan sekarang ayo kita makan terlebih dahulu, Oppa sudah memasak untuk kita makan," kata Lee Young Joon kepada sang adik.
"Benar sekali, Aboeji sudah sangat lapar," kata Aboeji sambil tersenyum.
Lalu Kim Mi So tersenyum dan langsung membukan kotak makan yang sudah mereka bawa dari rumah.
"Ayo Lee makan juga, lihatlah masakan Oppa-mu sangat menggugah selera," kata Ibu Lee dengan senyumannya. Kini Lee sudah duduk bersama untuk sarapan, ini memang sudah agak siang dan bukan lagi jam sarapan, mereka sudah sangat kelaparan menunggu kiriman makanan dari Lee Young Joon.
__ADS_1
Lee Ji An sebenarnya tidak nafsu makan, Karena dia memang kepikiran dengan kondisi bayinya saat ini. Dia sangat merindukan bayinya. Ingin sekali dia mengecup dan membelai lembut sang buah hati. Tapi kini dia harus pulang terlebih dahulu meninggalkan buah hatinya di Rumah Sakit sendirian. Walau memang di Rumah Sakit ada Perawat bayi dan Dokter anak, tetap saja Lee merasa sangat cemas.
Kecemasan itu memang wajar di rasakan oleh seorang Ibu, perasaan seorang Ibu memang sangat sensitive jika menyangkut dengan anaknya. Kasih sayang seorang Ibu itu seluas samudra. Dan semua itu adalah sebuah kenyataan. Kini kegelisahan yang di rasakan oleh Lee Ji An memang sangat besar. Walaupun Lee kini hanya bisa diam, tetap saja hatinya tidak merasakan ketenangan sama sekali.
Di saat seperti ini bahkan masakan yang di masak oleh sang kakak rasanya sangat hambar. Karena memang pikirannya melayang kemana-mana. Menelan sesuap makanan saja sangat sulit, rasanya sangat tidak nyaman. Dan semua orang yang ada di hadapannya kini sudah melihat gerak gerik dari Lee Ji An.
"Ada apa ini, kenapa adikku makan sangat sedikit, bagaimana ASI-mu akan keluar, jika kamu makan seperti ini," kata Kim Mi So.
"Nah benar sekali apa yang di katakan oleh kakak iparmu ini, kamu harus memerah ASI-mu untuk bayimu, Sayang. Baby Ryu Jin harus tetap minum ASI walaupun di perah, karena ASI adalah sumber makanan yang sangat baik untuk bayi, tidak ada susu formula yang bisa memberikan kualitas terbaik seperti ASI," kata sang ibu dengan senyuman yang manis, mencoba mambujuk Lee agar mau makan lebih banyak lagi
"Apa iya makanan berengaruh?" tanya Lee Ji An kepada sang Ibu.
"Jelas saja berpengaruh dong, Sayang. Ya ampun putri ibu ini, hehehe," Ibu terkekeh. Dan kini Lee Ji An mulai makan kembali walau memang dia tidak merasakan rasa nikmat ketika menyantap makanannya kali ini. Tetapi demi si buah hati wanita itu harus tetap makan dengan porsi yang sesuai dan gizi yang seimbang.
Seluruh keluarga tersenyum bahagia tatkala melihat Lee kembali menyantap makanannya. Mereka berharap Lee bisa bahagia. Dan benar saja sumber kebahagiaan Lee untuk saat ini ada pada bayinya. Wajar saja, karena hewan pun pasti menyayangi anak-anak mereka, apalagi Lee Ji An sebagai manusia.
🎀🎀🎀
__ADS_1