Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Teringat Seseorang


__ADS_3

Setelah dari ruangan laboratorium, akhirnya Nyonya besar Liao kembali ke ruangan untuk melihat kondisi pewarisnya. Nenek Liao sungguh sedih ketika melihat cucu yang tampan itu, kini masih terbujur lemah tak berdaya, dengan wajah yang penuh dengan luka goresan trotoar.


Kini Nathan tidak terlihat seperti Nathan lagi. Ketampanannya telah tertutup dengan luka-luka di sekujur wajahnya. Luka yang mulai mengering itu berwarna merah kebiruan sehingga menutupi ketampanan dari sang cucu. Nenek Liao begitu iba kepada cucunya, tapi dia masih bersyukur bahwa Nathan masih di berikan usia yang panjang walaupun belum bisa siuman sampai saat ini.


Dokter mengatakan dalam beberapa jam lagi Nathan akan segera siuman. Nenek Liao berdo'a dengan harapan yang penuh, semoga cucunya segera sembuh dan dia akan segera melakukan operasi plastik pada wajahnya, untuk memperbaiki, membuat wajah Nathan kembali tampan seperti semula, tanpa harus mengubah bentuk wajahnya, karena dari awal memang Nathan sudah tampan.


Dia menggenggam tangan sang cucu dengan sangat erat. Tanpa terasa air matanya menetes dan membuat dia tak sanggup berada lama-lama di sana. Nenek Liao pun bangkit dari tempat duduknya, melepaskan genggaman tangan cucu kesayangannya. Dia berjalan perlahan keluar ruangan Intensive Care Unit dan berdiri di balik pintu ruang intensive itu.


Kali ini tanpa sengaka mereka pun berjumpa kembali. Lee sekarang sudah berada di hadapan Nenek Liao.


"Ya ampun Nenek, kita berjumpa lagi, tapi kenapa Nenek sedih seperti itu?" Lee Ji An begitu pilu melihat Nenek Liao menangis dengan tersedu.


"Ya Tuhan nak, malu sekali Nenek terlihat begitu rapuh di hadapanmu, Ini adalah ruangan di mana cucuku tertidur dengan lelap setelah selesai di operasi.


"Cucu Nenek ya? Apakah sekarang masih belum siuman?"


"Iya betul sekali, cucuku belum bisa siuman karena dia baru selesai di operasi dan beberapa jam lagi pasti akan segera siuman," tutur sang Nenek dengan isak tangisnya.


Lee Ji An mulai merasakan iba kepada Nenek tersebut, dia benar-benar tidak tega melihat seorang ibu tua menangis seperti itu, tanpa di sadari kini Lee Ji An sudah memeluk tubuh sang Nenek dengan begitu erat. Membuat Nenek Liao terkejut dengan perhatian yang di berikan oleh orang yang baru saja dia kenal.


"Siapa namamu nak, kenapa rasanya kita begitu dekat. Padahal kita baru saja saling mengenal?" Ucap sang Nenek sambil memeluk erat tubuh Lee Ji An.

__ADS_1


"Panggil aku Lee Nek, sebenarnya itu adalah margaku, tapi entah kenapa keluarga aku memanggil aku dengan sebutan Marga. Padahal seharusnya mereka memanggil aku dengan sebutan Ji An atau An An, tetapi karena aku adalah anak bungsu mungkin itu alasannya,"


"Lee Ji An nama yang sangat bagus, kalau di Cina maka aku akan menyebutnya dengan sebutan Xiao An,"


"Xiao An.. ?" Lee tersenyum manis ketika sang nenek memberikan dia nama Cina padanya.


"Iya Xiao An, mulai hari ini aku akan memanggilmu dengan sebutan Xiao An," Nenek Liao tersenyum begitu manis melihat betapa cantiknya Xiao An.


"Aku sungguh berterima kasih, kepada Nenek karena telah memberiku nama dari Negara asal Nenek. Padahal memang namaku juga An, tetapi memang keluargaku memanggil aku dengan sebutan Lee saja,"


"Kamu adalah wanita yang cantik dan baik. Semoga Kelak kamu bisa melahirkan keturunan yang cantik dan tampan, serta memiliki sifat yang baik sepertimu, Nak," tutur sang Nenek sambil mengelus lembut perut Lee yang masih rata.


"Terima kasih banyak Nenek, atas semua do'anya, aku belum mengetahui jenis kelamin dari bayiku. Dokter tadi belum mengatakan apapun, dia hanya menyarankan aku untuk periksa, pada bulan depan," tutur Lee kepada sang Nenek.


Nenek sendiri hanya bisa tersenyum dengan manis, dia merasa terobati ketika ada seseorang yang bisa di ajak untuk berbicara. Kesusahan hatinya, kelukaan hatinya dan juga semua tentang Nathan, memang buat Nenek begitu cemas dan resah.


"Nenek, mumpung aku kesini. Bolehkah aku menjenguk cucu Nenek?" ucap Lee Ji An kepada sang Nenek dan pada akhirnya Nenek Liao tersenyum dengan senang, dan mengizinkan Lee untuk masuk ke dalam ruangan ICU bersamanya. Tetapi sayangnya Suster tidak memperbolehkan Lee untuk masuk ke ruang ICU, karena hanya boleh satu orang saja yang masuk ke dalam ruangan.


"Xiao An. Maafkan Nenek Karena Nenek tidak bisa mengajakmu masuk kedalam, Nak!" Nenek Liao sungguh menyesal dan meminta maaf kepada gadis itu.


"Tidak apa-apa Nenek, namanya juga ruangan Intensive Care Unit jadi tidak sembarang orang kan bisa masuk ke dalam, mungkin aku bisa melihat cucu Nenek dari dinding kaca itu," Lee langsung menunjuk ke arah dinding kaca dan mulai berjalan ke arah itu. Dia penasaran dengan pria yang sedang terbaring yang di tangisi oleh sang Nenek.

__ADS_1


"Iya betul Nak, kamu bisa melihatnya di situ, ayo kita lihat!" Nenek Liao mengikuti langkah kaki Lee dan kini mereka sudah sampai di dinding kaca tersebut, dan melihat keberadaan Nathan di dalam.


"Ya Tuhan Nenek Ada apa dengan wajah cucu Nenek? kenapa penuh luka seperti itu?" Lee Ji An merasa begitu tidak tega, melihat pria itu penuh luka di seluruh wajahnya. Lee sama sekali tidak bisa mengenali bahwa itu adalah Nathan. Karena selain kepala Nathan yang di bungkus oleh perban, wajah Nathan pun rusak dan penuh luka. Sehingga wanita itu benar-benar tidak mengenali orang yang dulu pernah memadu kasih dengannya.


"Cucuku tertabrak sebuah mobil, dan dia terpental hingga beberapa meter dan jatuh tengkurap sehingga mukanya rusak seperti itu." Nenek Liao mulai meneteskan airmatanya kembali, mengingat kejadian yang telah di tuturkan oleh sekretaris Huo.


"Ya Tuhan kasihan sekali, apakah akan segera di lakukan operasi plastik?"


"Dokter mengatakan operasi plastik akan segera dilakukan, setelah cucuku siuman dan agak sedikit sembuh, mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi baru bisa di lakukan operasi plastik pada wajahnya,"


"Semoga cucu Nenek baik-baik saja ya. Kasihan sekali pasti rasanya sakit, pasti wajahnya sangat perih, sehingga dia menyisakan luka yang sebanyak itu," Lee Ji An terus menatap pria yang kini sedang terbaring di ruangan intensif itu. Wanita itu benar-benar tidak mengenali wajah Nathan.


Tetapi tiba-tiba perasaan sedih dan sakit menusuk ke dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu mengapa melihat pria itu rasanya sangat sakit. Melihat cucu sang Nenek terbaring lemas tak berdaya seperti itu membuat begitu iba, dan merasakan kesedihan yang teramat dalam.


"Ada apa dengan hatiku, melihat pria itu tertidur seperti itu, kenapa aku tiba-tiba mengingat Nathan?" Lee Ji An tiba-tiba meneteskan air matanya. Entah kenapa air mata itu terjatuh tanpa dia inginkan.


Mereka berdua kini bahkan begitu dekat, saking dekatnya mereka hanya terhalang oleh tembok kaca saja. Tetapi sayangnya mereka berdua masih belum bisa bersama.


Sebuah kesabaran akan membuahkan sebuah hasil yang manis. Maka bersabarlah Lee Ji An.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2