Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Rasa Takut


__ADS_3

Desahan napas menggebu, kini mereka sudah bersatu di dalam mobil sedan yang sudah Nathan sewa untuk berjalan-jalan selama dia di Jepang.


Mobil itu bergoyang di pinggir pantai. Entah apa yang terjadi di dalam mobil tersebut. Yang pasti di dalam ada dua manusia yang saling merindukan, dan di penuhi gairah cinta. Wanita yang berada di dalam mobil tersebut malah kini seolah menjerit dengan lemah. Beruntunglah kaca mobil tersebut gelap. Sehingga orang di luar tidak bisa melihat kondisi di dalam mobil.


Selang tiga puluh menit kemudian. Mereka sepertinya telah menuntaskan pekerjaannya. Di jok belakang kini Lee sudah tidur di pangkall paaha Nathan. Wanita itu terlelap begitu pula dengan Nathan. Mereka masih belum mengenakan pakaian masing-masing. Karena baju mereka basah. Kini mereka hanya berselimut sehelai kain saja. Kain yang ada di jok belakang.


Setelah itu Nathan terbangun dan meminta sekertaris Chen untuk membelikan mereka pakaian. Dan Sekertaris Chen langsung berangkat untuk membeli baju kedua bosnya.


Dan butuh waktu tiga puluh menit lamanya akhirnya Sekertaris Chen sampai di tujuan dengan membawakan dua stel baju. Nathan lalu mengambil baju tersebut dan menyuruh Sekertaris Chen untuk menyewa mobil lain untuk mengikuti mereka ke mana pun Nathan pergi. Dan Sekertaris Chen menyetujui semua perintah atasannya.


Lee dan Nathan kini sudah mengenakan pakaiannya kembali. Mereka memutuskan untuk menginap semalam di pantai itu.


"Kita jadi makan nggak Sayang? Aku udah lapar banget nih," kata Nathan sambil mengelus lembut pipi sang kekasih yang sangat putih, bersih dan begitu mulus, sehingga Nathan tidak berhenti membelai lembut pipi cantik wanitanya.


Lee Ji An lalu membuka matanya dia pun mencoba untuk bangun.


"Mau makan apa, Sayang?" tanya di Lee Ji An kepada sang kekasih.


"Lobster, abalone," pinta Nathan sambil mencubit hidung Lee dengan gemas.

__ADS_1


"Kenapa mencubit aku? Apakah aku mirip abalone atau lobster." Lee Ji An memicingkan matanya.


"Lebih lezat dari pada itu, sehingga rasanya aku ingin memakanmu lagi, Sayang," kata Nathan sambil mengecup lembut pipi sang kekasih.


"Jangan sekarang, tidakkah lelah kalau terus kita lanjut, tadi kita sudah melakukannya sampai mandi keringat." Wanita itu merengek manja.


"Kalau begitu nanti malam," bisik Nathan dengan halus. Lalu pria itu langsung keluar dari mobilnya.


Lee Ji An menyusul Nathan dan mereka pun ke resto di samping pantai, tidak lupa Nathan menelepon Sekretaris Chen agar ikut makanĀ  bersamanya.


Setelah melakukan makan siang, mereka langsung berangkat ke Hotel, mereka memutuskan untuk beristirahat di hotel karena Lee sendiri merasa sangat lelah dan tadi perutnya terasa sedikit kram.


"Dede jangan bikin Ibu sakit, ya," bisik Nathan di atas pusat sang kekasih.


Lee Ji An sendiri terlihat begitu tenang, matanya terpejam, karena merasakan sebuah kenyamanan tatkala Nathan mengelus perutnya. Rasanya dia tidak mau berpisah dari suasana ini, suasana yang membuatnya begitu bahagia, dan tak bisa terbantahkan hal yang seperti ini adalah hal yang di dambakan oleh Lee sejak dulu, pada saat ia mengandung Ryu Jin.


"Sayang besok kita bertemu keluarga besarmu, dan aku akan melamarmu hadapan mereka," kata Nathan dengan senyuman yang manis, menatap kearah Lee, tentu saja Lee Ji An terkejut dan langsung membuka matanya, menatap Nathan dengan mata yang membulat.


"Mereka tidak akan menyetujui kita, mereka sangat membencimu," ungkap Lee Ji An dengan mata yang berkaca-kaca, dia terlihat ingin menangis, saking sedihnya. Mengingat bahwa sang kekasih dan dirinya tidak bisa bersama karena keluarganya tidak menyukai Nathan.

__ADS_1


"Kita akan menikah Sayang, kita tidak akan membiarkan anak kedua kita lahir tanpa ikatan pernikahan. Aku akan memberikanmu sebuah pernikahan yang bahagia aku berjanji," kata Nathan dengan kesungguhannya.


"Aku tidak mau menikah, aku takut pernikahan ku gagal lagi, pesta sudah disiapkan dan kamu malah tidak datang, dan yang kedua, pesta sudah disiapkan dan kamu malah datang menghancurkan pesta pernikahanku dengan Sehun, aku trauma dengan pesta pernikahan." Wanita itu menitikkan airmata, mengingat betapa pedihnya dia karena setelah gagal menikah sebanyak 2 kali.


"Sayang, kalau kita tidak menikah bagaimana dengan anak kita, aku tidak mau orang lain menghina putra kita, menghina anak-anak kita karena kita membuat mereka tidak di dalam sebuah ikatan pernikahan, dan mereka lahir diluar pernikahan, pikirkan tentang masa depan putra-putri kita Sayang, apakah kamu mau putra-putri kita dicemooh pada saat di sekolah, karena orangtua mereka tidak ada ikatan pernikahan. Apakah kita akan selamanya seperti ini, bertemu, tidur, bercinta lalu berpisah, aku tidak mau. Aku ingin selalu bersamamu selamanya," kata Nathan menjelaskan semua keinginannya kepada sang kekasih.


"Aku takut, aku takut pernikahan kita gagal lagi. Aku tidak mau kehilanganmu lagi, sepertinya aku tidak cocok dengan pernikahan," lirih Lee Ji An dengan isak tangisnya.


"Sayang kita harus menikah, setidaknya walaupun kita tidak merayakan pesta pernikahan kita, kita tetap harus menikah secara resmi di hadapan hukum Negara, kita bisa pergi ke kantor Catatan Sipil dan kita bisa menikah dengan Chen sebagai saksinya, dengan 1 buah tanda tangan kita resmi bisa hidup bersama selamanya," tutur Nathan.


"Aku takut, sudah ku katakan aku takut dengan ucapan pernikahan. Aku tidak mau pernikahan itu sampai gagal lagi, dan aku pasti akan sangat kecewa lagi." Lee Ji An menitikan air matanya lalu Nathan langsung memeluk sang kekasih dengan lembut.


"Besok kita akan menikah, besok kita akan bersatu, kita akan berbicara kepada kedua orangtuamu, kakek nenekmu dan beserta kakak-kakakmu, kita tidak akan pernah terpisahkan lagi," kata Nathan sambil mengecup lembut kening wanitanya dan memeluk Lee Ji An dengan penuh kasih sayang.


"Nathan, mereka tidak akan merestui pernikahan kita, sampai kapan pun." Wanita itu terus menangis dengan pilu.


"Karena itulah kita harus menikah dengan atau tanpa persetujuan mereka, besok pagi bersiaplah kita akan berangkat ke kantor Catatan Sipil dan setelah itu kita berdua akan bahagia selamanya," kata Nathan dengan suara yang rendah, mencoba untuk membujuk sang kekasih agar mau pergi ke Catatan Sipil bersamanya besok.


"Kamu tidak tahu rasanya menjadi aku, keluargaku mengekang semua kegiatanku bersamamu, mereka pasti akan melarang dan mereka pasti akan berlaku kasar kepadamu, jadi aku takut melihat kemarahan mereka." Wanita itu terus menangis didalam pelukan sang kekasih.

__ADS_1


"Tenang saja aku akan menerima semua perkataan kasar mereka, baik itu hujatan atau perbuatan fisik. Aku tidak akan melawan, yang penting aku sudah resmi menjadi suamimu. Karena itulah besok kita harus segera meresmikan hubungan kita. Apa kamu tidak kasihan kepada putra kita harus berpisah dengan salah satu orangtuanya?"


__ADS_2