Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Sebuah Pertanyaan


__ADS_3

"Setelah ini anda akan kemana tuan?" tanya tuan Hyuga pelan.


"Saya ingin pulang terlebih dahulu, saya ingin menemui nenek saya," Jawab Nathan dengan mata yang terpejam, pria itu seolah sangat depresi dengan kejadian ini.


"Iya tunggulah besok, tapi hari ini anda harus beristirahat terlebih dahulu," kata tuan Hyuga kepada Nathan.


"Saya tidak bisa menunggu besok, Saya harus segera mencari tahu semua ini, bertemu dengan nenek demi mencari tahu keadaan membingungkan seperti ini," ungkap Nathan lalu beranjak bangun dari posisi tidurnya, pria itu melepas selang infus yang menempel pada nadinya, hingga terlihat ceceran darah setelah keluar dari nadi di lengannya.


"Tuan anda tidak boleh seperti ini. Lihatlah masih ada darah keluar dari tangan anda," kata tuan Hyuga kepada Nathan.


"Tidak bisa, Saya tidak boleh berdiam diri seperti ini, Saya harus segera pulang ke Cina dan bertanya langsung kepada nenek, tidak masalah hanya setetes darah, yang jadi masalah adalah kenapa Saya tidak bisa mengingat anak dan kekasih saya?" ungkap Nathan kepada tuan Hyuga sambil mencoba mengenakan pakaiannya.


"Ya sudah terserahlah, kalau seperti itu keinginan anda tuan, setidaknya tunggu dulu Chen, dia bukannya sedang mengurus tes DNA putra anda," kata tuan Hyuga kepada Nathan.


"Saya akan menyusulnya ke ruang Dokter. Terima kasih tuan Hyuga karena selama ini anda sudah berbaik hati menolong saya, dan juga membawa saya ke Rumah Sakit," kata Nathan menorehkan sedikit senyum miring, dan tuan Hyuga pun mengangguk membalas senyuman Nathan.


Nathan langsung mencari ruangan Dokter, tetapi ternyata Chen tidak ada disana, tiba-tiba saja Nathan berpapasan dengan Chen.


"Ya Tuhan. Tuan anda mau kemana, anda masih lemah saat ini harus beristirahat?" tanya Chen dengan rasa cemasnya.

__ADS_1


"Saya harus pulang, Saya harus menemui nenek dan bertanya soal Ryu Jin," kata Nathan sambil mencoba masuk ke dalam lift, segera diikuti oleh Chen dan tuan Hyuga.


"Tapi anda harus memperhatikan kesehatan anda, tubuh anda terlalu lemah dan depresi sehingga anda pingsan seperti tadi," kata Chen dengan mata yang sangat iba.


"Bagaimana saya tidak depresi, rasanya sangat sakit, jika tidak bisa mengingat apapun, tidak ada satu pun masa lalu yang bisa ku ingat, itu sudah hampir membuat Saya gila, kedatangan saya kesini untuk berbisnis, ternyata menguak semuanya, Saya akan pertanyakan ini kepada nenek," ungkap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi Tuan,"


"Sudahlah Sekretaris Chen, ikuti saja keinginan tuan anda, yang sakit dia, yang merasakan lemas dan pusing pun dia, kita ikuti saja dari belakang," kata tuan Hyuga kepada Chen. Lalu Chen pun mengangguk, setelah itu tuan Hyuga, Nathan dan Chen berpisah, Chen dan Nathan berangkat ke bandara, untuk segera pulang ke Cina, sedangkan Tuan Hyuga kembali ke kediamannya.


Di dalam perjalanan, Chen tidak berhenti menatap tuannya, yang kini begitu terlihat lemah, Nathan sendiri hanya bisa memejamkan matanya, karena dia masih sangat lemas.


Butuh waktu berapa jam, sehingga akhirnya Nathan sampai di Indonesia. Pria itu dengan segera meluncur menggunakan taksi untuk pulang ke kediamannya, Chen masih setia mengikuti Nathan, sampai saat ini. Karena dia takut kalau dia pulang ke rumah, Nathan membutuhkan bantuannya, karena itu Chen memutuskan untuk menginap di rumah Nathan.


"Aku merindukanmu. Aku merindukanmu nenek, dan ada sesuatu hal yang ingin Nathan tanyakan kepada nenek, siapa Nathan sebenarnya. Kenapa nenek tidak mengatakan bahwa Nathan sudah memiliki seorang putra. Apa nenek tahu tidak, aku bertemu dengan putraku di Jepang, dan dia sangat mirip denganku, lihat wajah ini, ini adalah wajah copy paste denganku," Kata Nathan memperlihatkan layar ponselnya, dan di sana terlihat jelas gambar Nathan sedang memeluk baby Ryu Jin.


Nenek Liao terkejut tatkala melihat cucunya ternyata menggendong seorang balita yang sangat mirip dengan dia.


"Nenek, anak ini namanya Ryu Jin, dia Anakku Nenek," ungkap Nathan dengan tangisannya, sambil bersujud dan bersimpuh di kaki sang nenek.

__ADS_1


"Tuhan ... cucuku. Kenapa kalian sangat mirip, apa keluarga Lee membohongi kita. Apakah ternyata Lee Ji An melahirkan bayi kembar, sungguh di luar dugaan, benar-benar keturunanku, keturunan keluarga Liao. Aku telah membiarkan anak tersebut pergi jauh dari keluarganya. Andai saja aku bisa berbicara akan kukatakan semuanya kepada cucuku, bahwa Ryu Jin memang putranya, tidak perlu melakukan tes DNA, dari wajahnya pun sudah terlihat bahwa dia adalah keturunan Liao," lirih nenek Liao di dasar hatinya, wanita itu menangis sambil membelai lembut rambut cucu kesayangannya.


"Tunggu, Nenek bisa membelai rambutku, tangan Nenek bisa bergerak. Katakan padaku apa benar aku memiliki seorang istri dan seorang anak? Kertas dan pulpen cepat ambilkan, Chen," kata Nathan dengan suara yang tinggi.


Chen datang dengan membawa sehelai kertas dan sebuah pena. Mempersilahkan Nenek untuk memegang bolpoin tersebut.


"Katakan padaku. Apakah aku punya seorang istri?"


Nenek Liao mencoba untuk menulis di kertas tersebut. Tapi masih belum sanggup untuk sekedar menulis. Wanita renta itu masih bergetar, hanya sekedar memegang bolpoin saja. Bukan cuma usia nenek yang sudah sangat tua tetapi stroke yang dialami nenek memang belum sembuh sama sekali.


"Aku tersiksa Nenek, dengan hilangnya ingatanku seperti ini, tadi aku bertemu dengan anak itu dan anak itu ternyata keturunan Liao, apa yang harus aku lakukan, ini semua membuat kepalaku serasa mau pecah," kata Nathan dengan suaranya agak tinggi, pria itu benar-benar berjuang ingin mendapatkan sebuah informasi tetapi bahkan neneknya tidak bisa memberikan info apapun.


"Tuan Nathan. Jangan dipaksa!Nyonya besar belum pulih, tidak baik membuat Nyonya besar stress, takutnya darah tingginya melonjak lagi," ucapkan kepada Nathan. Lalu Nathan tanpa mengganggu peri itu sebenarnya ingin mencari tahu tetapi semuanya sia-sia, tidak ada yang bisa mencari tahu tentang dia dan rincian saat ini.


"Nenek kasihani aku, karakan kepadaku, Aku butuh sebuah jawaban yang pasti," ucapan Nathan dengan bahasa yang berkaca-kaca.


Sesaat suara hening, tak ada satu kata pun yang terucap. Nathan masih berada dalam kegelisahan yang menghadangnya. Pria itu berdiri di dalam sebuah api yang membara, yang seolah-olah membakar tubuh dan jiwanya.


"Nenek aku sudah melakukan tes DNA di Rumah Sakit. Walaupun memang sudah dipastikan anak itu adalah putraku, tetapi aku harus mendapatkan bukti kuat," kata Nathan sambil menatap sang nenek dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Nenek hanya bisa meneteskan air matanya, wanita paruh baya itu bahkan sekarang tidak bisa berbuat apapun. Nathan sendiri kini harus berjuang lebih keras untuk bisa mendapatkan kembali memori dalam otaknya.


🎄B🎄e🎄r🎄s🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g


__ADS_2