
Nyonya Lee masih memeluk putri kesayangannya, dia masih belum menyadari keberadaan nyonya Liao di sekitarnya, nenek Liao memang tidak mengenali dirinya, yang nenek kenal adalah suaminya, orang yang telah menabrak putra kesayangannya.
Kini nyonya Lee hanya bisa menunduk, duduk di samping Nathan dengan wajah yang iba, melihat ibu dan anak itu terus menangis dengan tersedu.
"Ibu maafkan aku, Ibu maafkan aku," kata gadis itu sekali lagi meminta pengampunan dari sang Ibu.
"Gadis nakal, aku pasti akan selalu memaafkan kamu Nak, kamu anak kesayangan kami, berjanji tidak membuat ayah marah lagi," kata sang ibu dengan isak tangisnya.
"Lantas bagaimana dengan kondisi ayah sekarang Bu? Aku sungguh mencemaskan keadaan ayah, aku bahkan tidak merasa tenang selama di perjalanan, aku terus memikirkan ayah, aku takut terjadi sesuatu hal kepada ayah," kata Lee Ji An meneteskan air matanya. Dia sangat penasaran dengan kondisi ayah kesayangannya.
"Ayo kita masuk ke dalam, kita boleh masuk ke dalam tapi cuma sebentar," kata sang ibu mengajak putrinya untuk masuk ke dalam ruangan ICU.
"Baiklah bu," jawab Lee Ji An kepada sang ibu.
Akhirnya ibu Lee mengajak putrinya masuk ke dalam ruangan, tempat suaminya dirawat. Sebelum masuk tentunya mereka harus menggunakan baju khusus terlebih dahulu. Sampailah mereka di dalam. Ayah masih tertidur karena pengaruh obat.
Lee Ji An menitikkan air matanya, dia tidak kuasa melihat sang Ayah sakit seperti itu, apalagi alasan sakitnya itu karena dirinya.
"Ayahmu begitu mencemaskan kamu Lee. Sangat takut Nathan melukaimu Sayang, karena itulah Ayah terus memikirkanmu. Bukannya Ayah tidak mau kamu menikah dengan Nathan Sayang, tetapi ia sangat takut Nathan mengecewakan dan membuat kamu terpuruk," ungkap sang ibu dengan suaranya yang pelan.
"Nathan tidak akan mungkin melukaiku ibu, kami saling mencintai, aku sangat percaya kepadanya," ungkap Lee pada sang Ibu tercinta.
__ADS_1
"Itu adalah pemikiran orang yang sedang jatuh cinta, lihat dengan pemikiran kami, Nak," kata sang ibu kepada putrinya.
"Ibu dan Ayah harusnya percaya pada kami, orang yang sedang jatuh cinta tidak akan mungkin mau dipisahkan atau terpisahkan," kata Lee Ji An dengan suaranya yang pelan.
"Melihat keadaan Ayahmu seperti ini, kamu masih saja memikirkan cintamu yang Agung. Itu benar-benar membuat Ibu miris, kamu lebih memilih cinta dari pada kesehatan Ayahmu." Nyonya Lee menggelengkan kepalanya dia berdecak kesal kepada putri kesayangannya.
"Maafkan aku ibu, lantas apakah Ayah sedang tidur?" tapi lee Ji An dengan mata yang berkaca-kaca, sambil menatap sang Ibu tercinta.
"Benar sekali, Ayah memang tadi sempat pingsan, tapi Dokter telah memberikan pertolongan dan segera, akhirnya Ayah kembali bangun, sekarang ia tidur karena pengaruh obat dari Dokter, lagian apa kamu tidak kasihan melihat Ayah terbaring seperti ini," tanya sang Ibu sambil menatap puterinya.
"Bersyukurlah ternyata Tuhan masih menyelamatkan Ayah, sepanjang jalan tidak merasa tenang Bu, Lee ingin segera sampai disini, dan melihat kondisi Ayah, mana mungkin Lee tidak kasihan kepada Ayah," tangkas gadis wanita itu berkata sambil menatap ayahnya yang kini masih tertidur dengan lelap.
"Kalau begitu ayo kita tunggu aja di luar saja. Biarkan saka Ayah beristirahat, jangan sampai terganggu, kasihan. Paling satu jam lagi Ayah terbangun, baru kita masuk," ungkap ibu kepada sang putrinya. Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan Intensive Care Unit.
"Sayang, bagaimana kondisi Ayah sekarang?" tanya Nathan dengan cemas.
"Ayah sedang tertidur, kita tidak bisa lebih lama di dalam takut malah mengganggu waktu istirahat Ayah," kata Lee Ji An kepada Nathan.
"Bersyukurlah, apa sekarang kamu sudah agak tenang dari pada tadi?" tanya Nathan kepada Lee Ji An. Wanita itu pun mengangguk dengan menorehkan sedikit senyum manisnya.
"Apakah itu Ibumu Lee? Nenek ingin berbicara dengannya," kata Nenek Liao kepada Lee Ji An.
__ADS_1
"Ya betul sekali Nenek, akan aku perkenalkan pada Ibu," kata Lee Ji An pelan.
Lee Ji An dan nenek Liao menghampiri ibu yang kini sedang duduk bersama Lee Yong Joon dan nyonya Liao langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat bersama ibunya Lee.
Nyonya Lee terkejut tatkala melihat ada seorang wanita paruh baya di hadapannya, tersenyum manis ke arahnya. Apa yang harus dilakukan wanita itu. Nenek Liao terlalu manis untuk dia berikan senyum masam.
"Nyonya Lee perkenalkan saya adalah Nenek Liao, saya Neneknya Nathan, turut berduka atas musibah yang terjadi kepada Tuhlan Lee," ucap nenek Liao kepada Nyonya Lee.
"Terima kasih banyak, suami saya tidak biasanya sakit seperti ini, tetapi beliau langsung pingsan setelah mengeluh merasakan sesak nafas dan sakit pada dadanya," kata Nyonya Lee dengan suara yang rendah, sedikit gagap menjawab ucapan dari nenek Liao.
Nenek Liao sama sekali tidak mengenali bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah istri dari pria yang sudah merenggut anak dan menantunya. Apa yang akan terjadi jika sampai nenek Liao mengetahui Kejadian ini, mengetahui siapa sebenarnya Lee Ji An cucu menantu yang sangat dia sayangi ini.
"Semoga tuan Lee bisa cepat sehat seperti sediakala ya, dan semoga anda diberikan kekuatan untuk terus memberikan dukungan kepada suami Anda," kata nenek Liao dengan senyumannya. Nyonya Liao pun hanya bisa tersenyum dengan kegugupan yang begitu kencang, Ibu Lee tidak bisa berkata apa-apa lagi, kalau saja nyonya Liao mengetahui bahwa di dalam itu adalah orang yang dia kenal pasti dia akan segera marah dan pergi dari ruangan ini.
Kini hanya menunggu waktu sampai nenek Liao melihat kondisi tuan Lee. Mau tidak mau kejadian ini harus terjadi, pasti akan mengetahui identitas Lee Ji An yang sebenarnya.
"Terima kasih Nyonya, anda sudah memberikan dukungan kepada saya dan suami saya, tetapi apakah Anda sengaja datang ke sini hanya untuk melihat kondisi suami saya?" tanya nyonya Lee dengan perlahan.
"Benar sekali, selain bertujuan untuk melihat kondisi suami anda, saya juga kesini untuk berterima kasih kepada anda, karena telah mengijinkan Lee untuk berangkat ke Cina, kami sangat menyayangi Lee, kedatangannya ke sana membawakan aroma kebahagiaan untuk seluruh keluarga, memang ini bukan waktu yang tepat, tetapi saya sangat menyetujui Nathan menikah dengan Lee Ji An," kata nenek Liao dengan senyumannya yang manis.
"Terima kasih atas kebaikan anda, sudah menerima Lee dengan baik, keluarga kami belum bisa memutuskan sebelum suami saya bangun dan sehat," kata Nyonya Lee dengan perlahan.
__ADS_1
"Iya tentu saja kita akan menunggu sampai tuan Lee sehat, seperti sediakala. Setelah dibawa pulang maka saya akan membawakan lamaran secara resmi untuk cucu saya tercinta, agar beliau segera melamar putri Anda yang cantik ini," ungkap nenek Liao dengan perlahan, tetapi memberikan sebuah keputusan yang sangat penting untuk Nathan dan Lee Ji An.
🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄🎄