
Hari ini hari pertama Lee Ji An bekerja, beliau ditugaskan di ruangan VIP merawat pasien disana. Wanita itu sangat sibuk. Dia benar-benar tidak tahu bahwa menjadi seorang Dokter harus kehilangan banyak energi di dalam tubuhnya.
Beruntunglah hari ini dia tidak terlambat datang ke tempat bekerja. Walaupun dia sempat mengantarkan buah hatinya ke sekolah.
"Dokter,Β pasien di kamar VIP 1 sudah saya berikan obat, apakah Dokter akan mengeceknya sekarang?" tanya seorang perawat kepada Lee Ji An.
"Terima kasih Suster, nanti saya akan mengeceknya," kata Lee Ji An kepada Suster tersebut, sambil menolehkan senyum yang manis.
Tanpa terasa kini Lee sudah dua bulan bekerja di Rumah Sakit tersebut. Wanita itu sangat kerasan bekerja di sana, karena rekan kerjanya begitu menghargai dia, sopan dan tidak pernah aneh-aneh. Dia berharap dia bisa bekerja disana selamanya, dia pun kini sudah mulai betah.
Kesibukannya sebagai seorang Dokter sangat menyita waktunya. Lee Ji An terkadang ditugaskan untuk masuk shift malam, dari jam 8 malam sampai jam 8 pagi. Wanita itu juga terkadang masuk shift pagi dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Tapi dia begitu menyukai pekerjaannya karena dia bisa membantu banyak orang di sana orang-orang yang sangat membutuhkan pertolongan medis.
Wanita itu berencana untuk melanjutkan kuliahnya, mengambil profesi sebagai Dokter spesialis bedah, tetapi tentu saja rencana itu belum bisa terealisasi, dia berencana akan sekolah kembali 2 tahun kemudian.
Untuk saat ini dia ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi Dokter umum. Dia sudah mulai merasa sangat nyaman dengan pekerjaannya seperti ini. Walaupun memang rasa lelah sudah sering menghujani tubuhnya.
Pasien di Rumah Sakit itu begitu banyak, membuat Lee Ji An benar-benar tidak percaya bahwa ternyata di dunia ini banyak sekali orang yang sakit. Terkadang dia mengingat kembali masa lalunya di mana dia masih kuliah di bidang bisnis, dia memang suka bidang bisnis, Lee tadinya berencana ingin melanjutkan perusahaan sang ayah, tapi sekarang dia membanting stir menjadi seorang Dokter.
Disela kesibukannya, dia sampai lupa untuk pulang karena pasien begitu banyak, selain dia ditugaskan di ruangan VIP Lee Ji An kadang dipanggil ke ruangan IGD. Wanita itu tidak pernah menolak untuk membantu temannya, jika ada yang meminta bantuan, walaupun itu bukan tugasnya. Lee sendiri selalu membantu temannya, ketika temannya tidak bisa berjaga, karena anaknya sakit, atau suaminya ada keperluan. Lee selalu bersedia menggantikan piket temannya.
__ADS_1
Kebaikan hati Lee Jiji An memang sudah terkenal beberapa bulan ini, sehingga membuat semua yang berada di sana merasa sangat senang, jika bertemu bersama dengan Lee Ji An, apalagi bisa bekerja sama.
Perawat, Dokter bahkan staf Rumah Sakit sangat menyukainya, dia bahkan selalu menjadi pusat perhatian, selain cantik wanita itu juga sangat pintar dan sangat cekatan dalam merawat setiap pasiennya. Bahkan kini dia akan diangkat menjadi seorang kepala Di ruangan Vip. Kabar itu sungguh membuat dia senang. Padahal dia baru bekerja beberapa bulan saja, sudah mau diangkat sebagai kepala ruangan VIP.
Keluarnya begitu senang tatkala LeeΒ Ji An memberitahukan kabar baik itu lewat video call.
"Selamat Sayang, akhirnya ini adalah pencapaian pertamamu, menjadi kepala kepala ruangan Vip, anak Ibu memang sangat hebat. Ibu takjub dan kagum kepadamu, Nak," kata nyonya Lee kepada putri kesayangannya.
"Terima kasih Ibu, dan maaf sepertinya Lee tidak bisa pulang hari ini, karena teman-teman mengadakan sebuah pesta perayaan atas jabatan baruku," kata Lee Ji An kepada sang ibu.
"Tidak apa-apa, Nak. Lanjutkan saja semua rencanamu," ujar nyonya Lee begitu senang dan memberikan semua dukungan penuh kepada putri kesayangannya.
"Oh iya. Tolong sampaikan kepada baby Ryu Jin bahwa hari minggu besok, kita akan segera berangkat ke taman hiburan, ya Bu," kata Lee Ji An sambil menolehkan senyum yang manis.
"Baiklah Ibu, Lee akan lanjut bekerja lagi," kata Lee Ji An sambil mencoba menutup panggilan telepon tersebut, nyonya Lee pun memutus sambungan video call itu.
Di sisi lain, hari ini adalah hari pertama Nathan berangkat ke Jepang. Pria itu membuka cabang di Jepang sesuai dengan rencana dari perusahaannya. Pria itu semakin hari semakin gemilang, perusahaannya pun semakin besar pada usianya yang beranjak 29 tahun, pria itu memang sudah sangat matang.
Kabar kesuksesannya dalam berbisnis sudah sangat terkenal. Saat ini Nathan sudah berada di Jepang, tepatnya di kota Tokyo. Beliau menghadiri acara konferensi pers. Tetapi entah kenapa tiba-tiba saja Nathan merasa kepalanya pusing, dan jatuh pingsan secara tiba-tiba.
__ADS_1
Sudah lama sekali Nathan tidak merasa sakit seperti itu, dia memang selalu menahan rasa sakitnya sendirian. Kali ini dia segera dilarikan ke Rumah Sakit terdekat, Rumah Sakit tempat di mana Lee Ji An bekerja.
Nathan pun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat dan di sana ternyata Lee begitu terkejut tatkala melihat Nathan terbaring lemah tak berdaya di ranjang kesakitan.
Hati Lee berdebar. Dia merasakan kesakitan yang teramat dalam, ketika setelah 5 tahun dia berusaha melupakan pria tersebut, pria itu kini hadir lagi di depan matanya.
"Apa-apaan ini, kenapa aku harus berjumpa dengan dia lagi, sangat menyebalkan, aku mati-matian melupakan dia, ternyata kini ia berada dihadapanku begitu saja. Aku sangat membenci pria yang ada di hadapanku ini, aku harus apa? Tetapi Nathan membutuhkan bantuanku sebagai seorang Dokter. Haruskah aku membunuhnya supaya dia tidak hidup lagi dan menyiksa batinku," ungkap Lee Ji An di dasar hatinya. Wanita itu hanya bisa menatap Nathan Liao dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dokter tolong selamatkan teman saya, tiba-tiba saja dia jatuh pingsan seperti ini, saya tidak tahu penyebabnya apa?" kata salah satu rekan bisnis Nathan sengaja mengantarkan Nathan ke Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi? Apakah pria ini sudah sarapan?" tanya Lee Ji An kepada pria penghantar itu.
"Saya sendiri tidak tahu, tiba-tiba saja jatuh."
"Baiklah saya akan mencoba memeriksanya," kata Les Ji An dengan hati yang begitu resah, dia harus berusaha terlihat normal.
Wanita itu tidak boleh memperlihatkan rasa cemas dan rasa bencinya. Dia harus profesional sebagai seorang Dokter, walaupun terkadang Lee Ji An menginginkan Nathan mati di tangannya, untuk saat ini.
Tetapi nalurinya sebagai seorang Dokter mencegahnya untuk berbuat malpraktek. Walaupun dia merasa sangat sakit hati kepada pria yang kini terbaring lemah itu, tetapi sebagai seorang Dokter dia tak sanggup untuk tidak mengobatinya.
__ADS_1
"Suster, lakukan cek laboratorium dan laporkan kepada saya secepatnya. Masukkan pasien ke dalam ruang rawat inap sekarang juga!" Perintah Lee Ji An kepada susternya. Suster itu langsung menyanggupi perintah dari Dokternya.
Bπeπrπsπaπmπbπuπnπg