
"Sayang kamu begitu beruntung karena memiliki masa kecil yang begitu bahagia, tidak seperti aku yang sangat menyedihkan, bagi anak seumurku waktu itu aku adalah anak yang paling menyedihkan karena harus hidup tanpa kasih sayang kedua orangtua," tutur Nathan kepada sang kekasih hati, dia membelai lembut rambut sang kekasih dia benar-benar merasakan kebahagiaan ketika ternyata kekasihnya merasakan kebahagiaan.
"Benar sekali aku sangat bersyukur, bahkan ketika aku telah membuat mereka kesal, marah dan mencoreng nama baik keluarga karena kehamilanku, itu membuat aku begitu menyesal, aku telah mengecewakan mereka yang menyayangiku dengan tulus tanpa pamrih," kata Lee Ji An sambil menundukkan wajahnya. Dia teringat kembali masa dimana kedua orangtuanya merasa kecewa kepadanya. Masa dimana seluruh keluarga merasa malu karenanya.
"Maafkan aku ya Sayang, itu semua karena aku, saat itu tidak langsung bertanggung jawab kepadamu, Sayang. Tetapi aku sekarang tidak akan menghindar lagi, aku akan menebus semua kesalahanku semua dosa-dosaku kepadamu dan keluargamu sayang, aku berharap setelah ini kita bisa membina keluarga sendiri, kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita hidup sedih sepertiku, tetapi aku ingin anak-anak kita merasa bahagia sepertimu sayang," ungkap Nathan kepada Lee Ji An.
Pria itu berkata dengan mata yang berkaca-kaca, impian yang begitu besar terhadap buah hati mereka. Walaupun Ryu Jin memang bukan anak kandungnya, tetap Nathan berjanji akan memberikan semua kasih sayangnya untuk Ryu Jin, jika kelak Lee Ji An pun melahirkan kembali, maka dia akan tetap mencintai Ryu Jin, tidak akan membeda-bedakan. Itulah yang ada di dalam benak Nathan saat ini.
"Iya Sayang, kita harus membahagiakan anak-anak kita, karena tanpa kita mereka akan rapuh dan lemah, hanya kita yang akan menjadi pelindung mereka, Sayang," kata Lee dengan senyuman yang manis, dan Nathan pun mengangguk, mereka lalu bertatapan dan hendak saling berciuman, tetapi tiba-tiba saja ada telepon masuk dari Lee Young Joon.
Dengan segera Lee menerima panggilan telepon dari sang kakak. Karena dia takut terjadi sesuatu hal di Indonesia.
Di dalam sebuah panggilan telepon.
"Halo Oppa?" kata Lee Ji An kepada sang kakak.
__ADS_1
"Halo bagaimana kabarmu? Apakah kamu sudah sampai dengan selamat di Tiongkok?" tanya Lee Young Joon dengan suara yang pelan sepertinya beliau memang sengaja meluangkan waktu untuk menelepon sang adik walau secara sembunyi-sembunyi.
"Benar sekali Oppa aku sudah sampai di Tiongkok, kami selamat tidak terjadi sesuatu hal yang akan membuatmu cemas, Oppa tenang saja," Jawab Lee Ji An kepada sang kakak.
"Kamu tidak memberikan Oppa sebuah kabar, padahal Oppa sangat menantikan kabar darimu, Oppa cemas takut terjadi sesuatu hal di perjalanan," tutur Lee Young Joon kepada sang adik, dia memberitahukan kecemasannya. Pria itu sangat mencintai adik kecilnya, Joon takut terjadi sesuatu hal yang akan menimpa Lew Ji An karena itu dia harus segera mencari kabar tentang adiknya.
"Oppa tenang saja aku disini baik-baik saja, kemarin aku tidak sempat menelepon karena memang sangat lelah, aku tidak menerima panggilan telepon atau menelpon seseorang, karena aku matikan ponselnya dengan sengaja, di sini aku bertemu dengan nenek Nathan, dan dia sangat baik kepadaku, karena itu aku menghabiskan waktu bersamanya," tutur Lee kepada sang kakak.
Lee Young Joon tersenyum manis dia merasa tenang mendengar jawaban dari sang adik tercinta. Bahwa neneknya Nathan memberikan sikap yang baik di sana sehingga dia tidak terlalu merasakan cemas lagi.
"Bersyukurlah nenek mertuamu memberikan kamu kebaikan hatinya, kamu tidak boleh menyia-nyiakan hal itu, jadilah menantu yang baik selalu disana, bantulah Nenek memasak atau temani dia berjalan-jalan, apapun itu. Tarik simpatinya agar dia tambah menyayangimu Lee," kata Lee Young Joon kepada sang adik.
"Tidak apa-apa tidak usah menjadi pikiran, kamu di sana harus bahagia. Jangan terlalu lelah dan Ingat jangan satu kamar dengan Nathan, Oppa takut terjadi sesuatu hal, kalian berdua bahkan baru saja memiliki bayi, tidak boleh memiliki bayi lain sebelum kamu sembuh total," kata Lee Young Joon.
"Baik Oppa. Aku akan mendengarkan semua perkataanmu, aku tidak akan membuat bayi lagi. Coba beri aku kabar bagaimana keadaan Aboeji?" Lee Ji An kembali mempertanyakan soal sang ayah, yang pastinya dia sudah bisa menebak ayahnya mengamuk dengan sangat hebat.
__ADS_1
"Sudahlah Jangan pikirkan, ayah dan ibu itu semua adalah urusanku, urusanmu sekarang adalah menikmati waktu seminggumu di sana, karena setelah ini Oppa bahkan tidak akan membiarkan kamu pergi lagi ke Cina sebelum pernikahan," tutur Lee Young Joon kepada sang adik, pria itu benar-benar tegas menyatakan keinginannya.
"Terima kasih banyak Oppa, aku sayangi padamu. Kamu memang selalu mendukungku, kebaikanmu takkan aku lupakan selamanya," kata Lee kepada sang kakak. Kakaknya tersenyum manis setelah mendengar ucapan dari sang adik.
"Ya sudah Oppa harus cepat-cepat keluar. Karena Oppa ini sedang menelpon di kamar mandi, Oppa juga akan segera ke Korea seminggu ini, Oppa akan berangkat ke Korea selama kamu di Cina. Banyak yang harus Oppa harus selesaikan di sana, setelah kamu pulang Oppa akan ikut pulang, tidak akan membiarkan kamu menanggung kemarahan Aboeji sendirian," ucap Lee Young Joon kepada sang adik.
"Terima kasih banyak Oppa. Kamu memang Oppa terbaik, hati-hati ya di perjalanan jangan sampai apa kelelahan, juga bekerja sewajarnya saja dan jangan lupa makan. Aku tahu kamu selalu melupakan makananmu," kat Lee Ji An berkata dengan penuh kasih sayang. Dia memang mencintai kakaknya sebaliknya pula dengan Lee Young Joon, mereka itu kalau bukan kakak adik lebih tepat untuk dikatakan sebagai sepasang kekasih, tetapi pada kenyataannya mereka bahkan adik kakak.
"Baik, kamu juga ya kalau begitu Oppa tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa minggu depan Lee."
"Baik Oppa sampai jumpa." Lee Ji An dan Lee Young Joon dengan segera menutup saluran telepon tersebut, Lee kembali menatap Nathan yang sedang menatapnya dengan wajah yang menakjubkan, dia selalu tampan dalam posisi apa pun, membuat Lee Ji An selalu saja jatuh cinta kepada pria tersebut.
"Kakak menghawatirkanmu?" tanya Nathan dengan suara yang pelan.
"Benar sekali. Dia sangat mengkhawatirkanku, dia memang selalu seperti itu setiap hari, aku bahagia punya kakak seperti dia," kata Lee menorehkan senyum yang manis kepada sang kekasih, tanpa membalas senyuman Lee mereka berdua saling bertatapan dan kali ini Nathan seolah orang ingin melakukan sesuatu terhadap Lee, pria itu langsung memeluk Lee dan memainkan payudara kekasihnya..
__ADS_1
"Jangan ... aku masih dalam masa nifas."
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐