
"Ya Tuhan kasian sekali cucuku, apa yang harus Nenek lakukan untuk membantunya?" ungkap nenek Liao di dasar hatinya, wanita paruh baya itu tidak bisa berkata lebih dari pada itu.
"Aku harus bagaimana, Nek? semua ini sangat menyedihkan, bahkab Putra ku sendiri memanggil orang lain dengan sebutan. Ayah tidak bisa dibiarkan," ungkap Nathan dengan tangisan yang melirih, pria itu benar-benar merasa hancur karena dia bahkan tidak berguna, hanya bisa menjadi pecundang dengan pikiran yang tak pernah dibayangkan, ia tidak memiliki sedikit pun kenangan itu membuat dia seolah-olah menjadi sampah belaka.
"Tuan Nathan sudahlah sekarang anda beristirahat dulu. Anda juga terlihat begitu lelah, tubuh anda pun belum stabil," ucap Chen kepada Nathan.
"Tidak apa-apa Chen. Aku hanya ingin bercerita kepada Nenek, betapa sedihnya menjadi aku, betapa pilunya karena tidak bisa mengingat apapun, apalagi sekarang yang aku miliki, aku tidak memiliki apapun karena anak kandung sendiri bahkan tidak menganggapku sebagai seorang ayah. Ryu Jin memanggil Ayah kepada orang lain. Sungguh sangat menyedihkan, kalau kamu menjadi aku apa yang akan kamu lakukan Chen?" ungkap Nathan sambil memejamkan mata, dia masih bersimpuh dan tidur di paha sang nenek. Nyonya Liao masih duduk di kursi roda, benar-benar tidak tega melihat cucunya seperti itu, karena penyakitnya melarang untuk melakukan banyak gerakan.
Nenek Liao meneteskan air matanya, padahal dia tidak bisa berkata apapun, tapi hatinya mengerti semua yang dirasakan oleh Nathan, dan yang dikatakan oleh Nathan. Sebagai seorang nenek dia tidak tega melihat cucunya menderita seperti itu.
"Sebaiknya anda minum obat dulu tuan. Ini obatnya! Anda harus minum obat agar anda cepat sehat," ungkapnya sambil menyodorkan beberapa tablet obat yang harus Nathan minum.
"Terima kasih banyak Chen. Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Nathan sambil melihat ke arah sekretarisnya.
"Bagaimana saya bisa pulang, melihat kondisi seperti ini, membuat saya begitu cemas dan ragu, untuk meninggalkan anda," ungkap Chen sambil menolehkan sedikit senyum kepada Nathan.
"Terima kasih banyak, Chen," kata Nathan sambil menganggukkan wajahnya.
__ADS_1
"Nathan," ucapa nenek Liao dengan suara yang begitu pelan, akhirnya setelah 5 tahun nenek bisa mengeluarkan lagi suaranya.
"Ini ... ini, Nenek memanggil namaku. Benarkah Nenek bisa berbicara lagi?" ungkap Nathan dengan begitu bahagia, wajahnya terlihat bersinar, mendengar suara sang Nenek yang begitu halus memanggil namanya.
"Anakku, cucuku. Akhirnya nenek bisa berbicara, Nak," lirih Nenek Liao kepada Nathan, dengan suara yang gagap dan lemah.
"Ya Tuhan terima kasih banyak, akhirnya nenekku bisa berbicara dengan normal lagi, seperti sediakala. Semoga setelah ini Nenek diberikan kesehatan dan usia yang panjang," ungkap Nathan sambil memeluk neneknya. Pria itu menitikan air matanya, karena dia begitu bahagia, tatkala mendengar bahwa neneknya memanggil namanya.
"Maafkan nenek, ini semua kesalahan nenek, telah memisahkanmu dengan Lee Ji An, kalau saja Nenek tidak sakit, maka mungkin ini tidak akan terjadi," kata sang nenek dengan suara yang lemah.
"Apa maksudnya ini, kenapa Nenek berkata seperti itu?" Nathan benar-benar terkejut mendengar ucapan sang nenek.
"Jadi benar bahwa Lee Ji An adalah kekasihku, dan Ryu Jin adalah putraku, kenapa tidak mengatakan sebelumnya, Nenek malah membiarkan aku bertunangan dengan wanita lain, sedangkan aku sendiri malah mengabaikan keturunanku. Aku harus bagaimana sekarang?" kata Nathan kepada sang nenek dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayo kita meminta maaf kepada Lee, atas semua kesalahan kita, kita telah membuat malu keluarga mereka, sebaiknya kita yang bersujud dan bersimpuh di bawah kaki mereka," ungkap sang nenek dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nenek kita memang harus meminta maaf, karena gagalnya sebuah pernikahan pasti telah menghancurkan kehidupan mereka," kata Nathan dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Di mana sekarang Lee Ji An, apakah masih di Indonesia atau sudah tinggal di Korea?" tanya nenek dengan air mata yang menetes.
"Keluarga Lee pindah ke Jepang, Nathan bertemu mereka di Jepang, pada saat perjalanan bisnis kemarin. Tuhan telah mempertemukan kami dan Nathan telah dipertemukan dengan anak Nathan, seorang putra yang sangat lucu dan menggemaskan," kata Nathan sambil meneteskan air matanya, mengingat kembali buah hatinya yang begitu mirip dengan dia.
"Baiklah ayo segera kita ke sana, kita harus segera bersimpuh di hadapan mereka, meminta maaf dan pengampunan, kita sudah mengecewakan mereka dengan meninggalkan pernikahan," kata Nenek Liao dengan hati yang begitu perih, merasa menyesal karena telah membuat keluarga Lee malu dan mencoreng nama baik mereka.
"Baiklah, kita harus segera berangkat ke sana," ungkap Nathan kepada sang Nenek.
"Tuan muda sebaiknya anda dan Nyonya besar istirahat sebentar, kita tidak bisa langsung ke Jepang. Sekarang anda baru saja pulang, saya sudah menelpon Dokter untuk memeriksa kondisi anda dan Nyonya besar, sebaiknya diperiksa terlebih dahulu sebelum keberangkatan kita ke Jepang," kata Sekretaris Chen dengan tegas, Sekretarisnya itu lebih bisa diandalkan dan sangat pengertian.
"Tapi saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putra saya, dan juga Lee Ji An, setidaknya aku harus menemui putraku, walau Lee sudah tidak bisa kumiliki lagi," kata natha di dengan wajah yang sendu?
"Benarkah? Apa yang terjadi dengan Lee Ji An?" tanya Nenek dengan kening yang mengerut.
"Lee, sudah bertunangan, Nathan sudah tidak bisa lagi memiliki dia. Putra Nathan sudah memanggil dia dengan sebutan ibu dan tunangannya sebutan ayah," ungkap Nathan dengan kesedihannya, merasa menyesal karena harus datang terlambat datang ke Jepang, seandainya dia datang lebih awal, sebelum Lee bertunangan, maka ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Benarkah? Jadi kalian sama-sama sudah bertunangan, selama Nenek sakit, jadi tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu cucuku," kata nenek Liao kembali meneteskan air matanya, semua kesedihannya sudah menumpuk di dasar hatinya, wanita itu merasa sangat tidak berguna karena malah membuat cucunya menderita.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nek. Ini semua sudah terjadi, tidak pantas kita untuk menyesali semuanya, kita jalani saja hidup kita dengan baik saat ini," ungkap Nathan sambil menggenggam tangan sang nenek dengan erat.
Bersambung.