Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Acara Pertunangan


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk merestui pernikahan Nathan dan Lee, akhirnya beliau dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah dimasak oleh nyonya Lee.


Wanita paruh baya itu tidak bisa makan dengan tenang, tidak bisa menikmati santapan yang ada di hadapannya. Apa yang dia telan sungguh menyakiti tenggorokannya, setiap minuman yang dia teguk bagaikan membakar seluruh jiwanya.


Dia kini dia mengingat kembali putra dan menantu kesayangannya, yang telah lama pergi meninggalkan dia. Wanita paruh baya itu dilanda sebuah kegelisahan yang tidak bisa diungkapkan, kepada siapapun selain dia sendiri yang merasakannya.


"Jadi apakah kita akan langsung menikahkan anak-anak kita, Nyonya?" tanya nyonya Lee sambil meneguk minumannya.


"Tidak seperti itu Nyonya. Saya sudah merencanakan bahwa Nathan harus bertunangan terlebih dahulu, karena persiapan sebuah pernikahan tidak bisa disiapkan hanya dengan waktu sehari dua hari saja. Saya memutuskan untuk melaksanakan acara pertunangan sebulan kemudian lalu acara pernikahan," kata nyonya Liao dengan suara yang rendah.


"Baiklah kalau memang seperti itu, rencana anda. Kami hanya bisa menuruti keinginan anda saja, bukankah begitu suamiku?" kata nyonya Lee kepada nenek Liao lalu menatap kearah sang suami.


"Iya terserah Yeobo saja. Aboeji akan mengikuti semua keinginan Eomoeni," kata sang ayah dengan nada yang rendah, pria itu masih tidak berani menatap wajah apalagi matanya nyonya Liao. Rasa bersalah yang dirasakan sudah menyiksanya seumur hidup, apalagi sekarang dia berhadapan di dalam sebuah ruangan dan berada di depan satu meja.


"Baiklah kalau seperti itu, kita lanjutkan saja, kapan sekiranya acara pertunangan itu akan dilangsungkan?" tanya Nyonya Lee kepada Nyonya Liao.


"Nathan menginginkan sebuah bertunangan secepatnya. Jadi mungkin seminggu dari sekarang kita akan melangsungkan acara pertunangan terlebih dahulu, untuk Nathan dan Lee Ji An, kita akan melangsungkan acara pertunangan disebuah hotel yang dekat dengan rumah kita saja," kata nyonya Liao kepada Nyonya Lee.


"Baiklah Nyonya, kami hanya akan menuruti semua keputusan anda, yang penting kita selalu berkoordinasi." Nyonya Lee tersenyum manis kepadanya Liao. Nyonya Liao pun mengangguk, sedikit menorehkan senyum, padahal hatinya begitu sedih, boro-boro tersenyum, dia tidak sanggup untuk sekedar melihat dan mengingat bahwa nissan putranya sudah berdiri tegak di sebuah pemakaman.

__ADS_1


Mereka membahas banyak sekali acara untuk pesta pertunangan, nenek Liao pun sudah memberikan perhiasan, semua yang telah mereka beli saat itu. Setelah selesai makan siang akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan, dia tidak bisa berlama-lama tinggal di rumah itu, rumah dari seseorang yang sudah menghancurkan hidupnya.


Nyonya Liao pun pamit dan langsung pulang ke mansion mereka. Lee Ji An dan Nathan begitu bahagia karena pertemuan dua keluarga sudah dilakukan, mereka tinggal menantikan sebuah pesta pertunangan yang akan diadakan minggu depan.


Waktu berlalu, seminggu sudah berjalan dengan sangat cepat, ternyata hari ini adalah hari dimana Nathan akan menjadikan Lee Ji An sebagai tunangannya, mereka sudah bersiap di hotel yang sudah mereka pesan. Lee Ji An mengundang beberapa kerabatnya yang berada di Indonesia, juga mengundang kerabatnya yang berada di Korea.


Begitu pula dengan Nathan dan nenek Liao, walaupun ini hanya sebuah acara pertunangan, tetapi pestanya begitu meriah, dan semuanya berjalan begitu lancar, sesuai dengan rencana yang sudah disusun rapi oleh nyonya Liao. Sebenarnya perempuan paruh baya itu masih merasakan kesakitan yang teramat dalam. Tetapi dia harus menyembunyikan semua rasa sakit itu demi kebahagiaan cucunya.


"Sayang, akhirnya kita resmi menjadi sepasang kekasih yang sudah bertunangan. Kini tinggal menunggu bulan depan kita akan resmi menjadi sepasang suami istri," kata Nathan sambil berbisik mesra kearah sang kekasih.


"Bersyukur sekali karena acaranya berjalan begitu lancar, tamu undangan pun hampir semua hadir, banyak sekali tamu undangan dari Negara asal kita, mereka datang jauh-jauh ke Indonesia. Sayang terima kasih untuk pestanya semua begitu indah. Aku tidak pernah mimpikan pesta semewah ini, tetapi ternyata nenek sudah merencanakan dengan sangat sempurna," ungkap Lee Ji An dengan kebahagiaan yang dirasakan.


"Pada saatnya nanti aku akan mengumum kan bahwa baby Ryu adalah buah hati kita, tetapi tentunya setelah pernikahan," kata Nathan sambil menatap kakak iparnya Kim Mi So yang sedang menggendong baby Ryu Jin yang sudah tertidur dengan lelap.


"Betul sekali Sayang, buah hati kita butuh sekali pengakuan dari dunia. Kasihan sekali kalau sampai kamu tidak mengakui sebagai seorang anak," ungkap Lee Ji An tersenyum sambil berpura-pura sedih.


"Mana mungkin, pertunangan ini adalah awal dari kebahagiaan kita, tidak akan pernah terjadi sesuatu yang buruk setelah ini, aku berjanji aku akan segera mengumumkannya setelah pernikahan, orang lain akan mengetahui identitas dari bayi kita," kata Nathan dengan senyuman manisnya.


"Iya Sayang, aku selalu menantikan saat itu tiba," kata Lee Ji An sambil menorehkan senyum yang manis kepada tunangannya itu.

__ADS_1


Nathan menggenggam erat tangan Lee lalu segera melepaskan genggaman tangan tersebut, karena ternyata banyak sekali tamu yang menonton. Nathan menjadi sangat malu karena itulah Nathan segera melepaskannya, apalagi sekarang banyak sekali tamu undangan yang sudah berbaris ingin mengucapkan salam untuk mereka berdua.


Acara pertunangan yang begitu meriah berjalan begitu lancar dan mudah. Tuan Lee merasa begitu bahagia ketika melihat senyum merekah di wajah putri kesayangannya. Tuan Lee tidak bisa berkata apapun selain berterima kasih kepadanya Liao.


"Tidak usah menyapaku seperti itu. Aku masih merasakan rasa sakit dalam hatiku, ketika melihat wajahmu, sebaiknya tidak usah lagi berpura-pura baik dan tidak usah saling menyapa," ungkap nenek Liao kepada tuan Lee.


"Saya hanya akan mengucapkan terima kasih kepada andaz karena sudah memberikan restu kepada putri saya, dan saya juga berterima kasih karena anda, tentang kejadian yang telah silam," kata tuan Lee kepadanyanya Liao.


"Sudahlah tidak usah membahas itu sekarang, sebaiknya kamu menjauhi saya saja tidak, saya mau melihat wajah anda karena semua yang ada pada anda mengingatkan saya kejadian yang lalu, mengingatkan saya bahwa putra saya merita karena anda, sebaiknya kita tidak usah bertegur sapa lagi," kata nyonya Liao kepada tuan Lee.


"Baiklah kalau seperti itu saya ucapkan terima kasih banyak, saya permisi," kata tuan Lee sambil berjalan meninggalkan nyonya Liao, dan kini pria paruh baya itu telah kembali mendekati sang istri.


"Apa yang Ayah katakan padanya?" tanya nyonya Lee kepada sang suami.


"Hanya ucapan terima kasih atas restu untuk putra-putri kita," kata tuan Lee dengan suara yang rendah.


"Benarkah. Ya sudah kalau seperti itu yang penting kita sudah berterima kasih," kata nyonya Lee kepada sang suami.


🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g

__ADS_1


__ADS_2