
"Yeobo," dengan segera Nenek menghampiri kakek yang berada agak jauh dari tempatnya. Nenek melihat kondisi Kakek. Ternyata, Kakek terkena serpihan beling namun tidak terlalu parah.
"Aboeji,"
"Aboeji,"
"Hal-aboeji,"
"Hal-aboeji,"
Semua begitu terkejut melihat kakek terluka dan dengan segera Kim Miso membantu membersihkan beling tersebut.
"Sudah jangan di bersihkan Miso, Biarkan saja seperti itu!" Hal-aboeji berkata begitu pelan namun penuh dengan penekanan ia merasa benar-benar terluka menghadapi kenyataan ini.
Kim Miso yang sedang mengambil beling akhirnya dengan segera melepaskan beling tersebut dari tangannya dia pun menjauhi beling tersebut dan kembali mendekati Yong Joon.
Semuanya terdiam sesaat mereka merasa sangat bingung dengan tindakan sang kakek. Mereka bertanya-tanya kenapa Kakek mengatakan dan memerintahkan bahwa beling tersebut tidak boleh di bersihkan.
"Lihatlah Lee, kemarilah Nae Sonja,"
__ADS_1
ujar Kakek sambil melambaikan tangannya berharap Lee Ji An bisa menghampirinya. Gadis itu berjalan perlahan dengan tubuhnya yang bergetar, dia menyeka air matanya dengan punggung jarinya.
"Dengarkanlah semuanya, tidak usah ada yang berkomentar lagi setelah aku berbicara, semuanya akan aku selesaikan sendiri, lihatlah, kamu adalah gelas yang kakek minum tadi, dan sekarang tanpa sengaja Kakek sudah membuat kamu terpecah, begitu pula dengan kesalahanmu, tanpa sengaja kamu telah membuat dirimu sendiri hancur, dan setelah hancur seperti itu tidak akan ada lagi bentuknya, dengan berat hati kakek tidak mengizinkan kamu lagi untuk tinggal di rumah ini. Maka Pergilah kamu ke Indonesia tinggallah kamu disana, lahirkan Putra atau Putrimu di sana, setelah beberapa tahun bahwa dia kemari kalau aku masih tidak bisa memaafkanmu, maka kamu memang tidak pantas untuk dimaafkan, tetapi jika saat kamu datang kembali kemari, aku bisa memaafkan, maka saat itu kami akan memaafkanmu dan melupakan semua kesalahanmu," tutur sang kakek kepada Lee Ji An.
"Hal-aboeji, Hal-aboeji, Hal-aboeji, jangan usir aku, aku harus tinggal di mana. Aku tidak punya siapapun selain kalian," tangis gadis itu begitu lirih, dia merasa sangat sakit dan menderita mendengar ucapan dari sang kakek, bahwa keluarga besarnya memutuskan untuk mengusir Lee Ji An sampai batas waktu, hati sang kakek merasa lemah kembali.
"Tidak, tidak, jangan jangan usir Lee Ji An, Aboeji. Jangan usir dia, jangan lakukan itu!" Sang Mama benar-benar menangis ketika itu, tidak di sangka bahwa ayahnya bisa mengusir Putri tercintanya, dia tidak bisa menerima sang putri bungsunya di keluarkan dari rumah begitu saja. Gadis itu adalah gadis kesayangan keluarga, tetapi karena kesalahan yang begitu besar maka, Lee pun mau tidak mau harus pergi dari Korea untuk melahirkan putranya di negara lain. Agar tidak tercium oleh rekan bisnis atau tetangganya di Korea.
"Aboeji, sebaiknya kita gugurkan saja kandungannya, jangan usir Lee seperti itu, bagaimana pun dia adalah Putri kita, biarkan dia tinggal di sini," ucap sang Ayah Lee Ji an, kepada sang kakek.
"Apa maksudmu dengan menggugurkan, dia itu putra keturunan kita, ini adalah cicitku, tidak bisa kamu membunuhnya begitu saja!" Hal-meoni berkata dengan tubuh yang bergetar karena dia tidak menyukai ucapan dari putranya, yang mengatakan bahwa dia harus menggugurkan bayi yang ada dalam rahim Lee Ji An.
Sebetulnya yang berbicara adalah Neneknya Lee Ji An, tetapi Ayah Lee Ji An hanya bisa menatap mata sang istri, dia tidak bisa menatap mata sang ibu.
"Tidak akan ada yang namanya aborsiย yeobo, jangan lakukan itu, itu juga bahkan membahayakan nyawa Putri kita. Jangan lakukan itu, yeobo!" Tangis Ibu Lee Ji An dengan begitu lirih.
"Aborsi adalah Jalan satu-satunya supaya dia tetap bisa tinggal di sini!" Sekali lagi sang Ayah menegaskan hal itu dan itu sungguh membuat hati Lee Ji An tercabik dan hancur, dia tidak mau menggugurkan bayinya. Dia benar-benar menyayangi bayi itu, walaupun tanpa seorang suami.
"Diamlah kalian semua. Bisakah kalian mendengarkan aku, aku sudah memutuskan bahwa tidak akan ada aborsi, tidak akan ada pembunuhan, tidak akan ada penyiksaan, aku hanya akan mencoret nama Lee Ji An dari daftar keluarga kita, biarkan Lee tinggal di Indonesia bersama pamannya, kita titipkan saja dia disana," tutur kakek dengan suara yang lantang. Kakek sudah memutuskan bahwa dia akan mengusir Lee dari keluarga karena Lee tetap sudah mencoreng nama baik keluarganya.
__ADS_1
Semuanya tidak ada lagi yang bisa membantah ucapan sang kakek. Semuanya hanya akan menuruti semua keinginan dari kepala keluarga.
"Hal-aboeji, tolong maafkan aku Hal-aboeji!" Cicit gadis itu dengan lirih.
Sang kakek sama sekali tidak menjawab dan tidak menerima permintaan maaf dari cucunya tersebut. Lee Ji An menangis dengan lirih, lalu Miso memeluknya. Semuanya terpaku, terdiam, baik Ayah Atau ibu serta Neneknya tidak ada yang berani membantah kakek. Kini Lee terus menangis meratapi nasibnya karena ternyata keluarganya telah mengusir dia.
Sang Kakak pun hanya bisa terdiam, tak bisa lagi dia berkata apapun, karena kekuatan dari sang kakek sangatlah besar di sini keluarga. Keluarha Lee sangat mengutamakan budaya serta nama baik. Keluarganya sangat mengistimewakan tata krama dan kesopanan, menurut kakek Lee memang benar-benar telah melanggar norma, walaupun Lee melakukannya secara tidak sengaja. Karena itu kakek sudah memutuskan membuang nama Lee Ji An dari daftar nama keluarga, dan itu memang bersifat sementara sampai hatinya bisa kembali memaafkan sang cucu.
Isak tangis mulai terdengar mulai dari sang Mama dan Neneknya, serta Miso, semuanya menangisi Lee, semuanya telah hancur gadis itu pun harus melanjutkan kuliah di Indonesia. Dia tidak bisa lagi melanjutkan kuliah di Beijing, karena Lee tidak di berikan lagi sokongan dana dari keluarga.
"Sabarlah Lee, kamu masih bisa tinggal bersama Kim Nana di sana," ucap Kim Miso dengan lembut memeluk sang adik ipar.
"Cepat kemasi barangmu, dan pergi jauh dari rumah ini, sebelum perutmu membesar. Aku tidak mau tetangga mempergunjingkan keluarga kita," ucap sang kakek dengan suara yang pelan namun penuh penekanan.
Dengan derai air mata pun tak tertahankan lagi, Lee akhirnya masuk kedalam kamar. Dia pun begitu berat membereskan semua pakaian dan barang yang dia hendak bawa. Semuanya begitu membuat dia sakit. Lee begitu tersakiti dengan keadaan ini, anda saja Nathan saat ini ada di sampingnya. Mungkin dia tidak merasa sesakit. Setidaknya dia bisa berbagi rasa sakit bersama.
Bersambung.๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Hai sahabat Nathan dan Lee.. Jangan lupa like dan vote ya sayang. Supaya aku lebih semangat dalam menulis kelanjutannya. Salam sayang dariku Evangelin Harvey/Lee.
__ADS_1