
"Nathan tapi, tidak enak jika orang tahu aku menginap di rumahmu," kata Lee dengan mata yang sendu, menatap ke arah Nathan dan Nathan pun tersenyum manis.
"Tidak akan ada yang tahu, di sini hanya ada kita bertiga, aku kamu dan anak kita," kata Nathan dengan senyuman yang begitu manis.
"Tapi."
"Sampai kapan kamu di Indonesia?" tanya Nathan.
Masih ada waktu 3 hari lagi," jawab Lee dengan suara yang rendah.
"Hmm ... Kita akan bersama selama tiga hari dan tidak akan ada yang tahu tentang kita, aku mohon jadilah Ibu dari anaku selama tiga hari ini, dan perlakukan aku sebagai Ayah dari putramu," pinta Nathan kepada sang kekasih.
Lee Ji An sendiri hanya terdiam mendengar ucapan Nathan. Dia tidak mau menghianati sehun. Sehun terlalu baik selama lima tahun ini. Pria itu dan ibunya pun begitu sayang kepada Ryu Jin, membuat Lee Ji An tak tega menjadi seorang penghianat.
Sesaat wanita itu menatap ke arah buah hatinya yang sudah menempel kepada Nathan. Lee tahu ikatan ayah dan anak itu begitu kuat sehingga Ryu Jin bisa selengket itu kepada ayah kandungnya.
"Ayah aku mau ice cream," kata anak itu sambil menunjuk ke arah anak lain yang membawa ice cream di tangannya.
"Iya, ayo kita beli," kata Nathan sambil menatap ke arah buah hati kesayangannya.
Lee Ji An sendiri hanya diam melihat sikap kedua orang yang mirip itu. Wanita itu masih di landa dilema tatkala mendengar betapa manjanya Ryu Jin kepada Nathan.
__ADS_1
Lee hanya duduk, kini dia melihat ke arah ponselnya ternyata ada pesan dari Sehun, sedangkan Lee tidak tahu harus membalas apa. Wanita itu memutuskan untuk mematikan ponselnya karena dia tidak mau berbohong kepada Sehun.
Setelah memberikan ice cream kepada buah hatinya, Nathan lalu mengajak Lee dan sang buah hati untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu memang tidak bisa mengendarai mobil sendiri, sampai sekarang. Karena trauma kecelakaan yang dirasakan dahulu.
Mereka duduk di belakang bertiga, Nathan, Lee dan buah hatinya. Ryu Jin sendiri terlihat sudah tertidur lelap di pelukan sang ayah. Walaupun mereka kini sampai di hotel. mereka membiarkan putranya tidur di mobil dijaga oleh sopir, sedangkan Nathan sendiri bersama Lee Ji An mengambil koper yang sudah ada di kamar.
Setelah membayar tagihan Hotel mereka pun langsung berangkat ke rumah Nathan. Sampainya di rumah Nathan baby Ryu Jin masih tertidur, anak itu langsung ditidurkan di kamarnya karena memang dahulu sudah disiapkan kamar untuk jagoannya itu. Sayangnya saat itu Nathan hilang ingatan lalu berangkat ke Cina, Nathan pun terkejut ternyata ada kamar bayi di rumahnya di Indonesia.
"Lihatlah putra kita tertidur dengan begitu lelap tanpa ada beban sama sekali, apa kamu tega Sayang membiarkan buah hati kita terpisah dari kedua orangtuanya," ungkap Nathan sambil membelai lembut rambut buah hatinya yang telah tertidur di kasur yang sudah disediakan.
"Takdir telah mempermainkan kita, di saat kita hampir bersatu, ternyata kamu malah pergi, dan sekarang kamu datang kembali disaat aku sudah bukan milikmu lagi," tangkas Lee Ji An pada sang kekasih, wanita itu terlihat begitu sedih mengatakan semuanya.
"Siapa yang menginginkan aku jatuh pingsan? Siapa yang menginginkan aku di operasi, dari awal aku tidak mau melakukan operasi tapi Dokter itu melakukan operasi tanpa seizinku dan Yuan Chuan memang yang mengizinkannya dulu, karena katanya kalau aku tidak dioperasi akan membuat nyawaku terancam," kata Nathan sambil menatap sang kekasih dengan pilu, Lee Ji An hanya bisa membuang mukanya karena dia tidak kuasa untuk tidak menitikkan air mata.
Tetapi semua kebencian itu hilang setelah mendengar semua alasan dan pengakuan dari asistennya Lele. Awalnya memang Lee tidak mempercayai perkataan Nathan, tetapi dia lebih mempercayai mata-matanya. Penjelasan dari Lele sangat jelas sehingga membuat dia tak kuasa untuk membenci Nathan. Rasa bencinya hilang dan sirna, rasa cintanya kembali tumbuh dalam sukmanya.
"Ayo kita tidur," ajak Nathan kepada Lee Ji An, karena memang hari sudah malam saat itu.
"Kita?" Lee Ji An terkejut ketika Nathan mengatakan kita tidur.
"Iya Sayang kita tidur di kamar kita," ungkap Nathan dengan senyumannya.
__ADS_1
"Ini tidak benar, Nathan," Lee Ji An menepis semua keinginan Nathan.
"Selama tiga hari ini jadilah istriku, setelah itu aku akan menyerahkan kepada pria itu dan tidak akan mengganggumu lagi," ungkapan Nathan sambil menggenggam tangan Lee Ji An dengan lembut.
"Nathan, kita bahkan belum menikah, kita tidak bisa tidur satu ruangan," tukas Lee dengan tubuh yang bergetar.
"Aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin memelukmu saja, aku merindukanmu. Selama 5 tahun aku hidup dengan kehampaan, tapi sekarang aku telah menemukan kembali caraku untuk hidup dengan bahagia, sebelum kamu menikah dengan pria itu, biarkan aku untuk memelukmu, cuma memeluk saja," kata Nathan dengan harap Lee Ji An mau mengikuti keinginannya.
"Tapi, Nathan."
"Aku hanya ingin memiliki kenangan indah bersamamu, sebelum kamu menikahinya, kan selama ini aku bahkan tidak memiliki kenangan itu. Kenangan indah kita yang terdahulu telah hilang. Aku ingin memilikinya kembali sebagai bekal untuk menjalani hidup kedepan," kata Nathan dengan penuh harap.
"Jangan membuat aku semakin kebingungan. Aku tidak ingin menyakitimu dengan meninggalkan kenangan bersamamu, kamu akan sakit hati," Lee Ji An meneteskan air matanya lalu dia membuang mukanya karena tidak kuasa menahan beban di hatinya.
"Sayang jangan menangis seperti itu, aku telah membuatmu bersedih Sayang, tahukah bahwa air matamu begitu berharga, tidak boleh kamu teteskan begitu saja." Nathan mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya, dan duduk. Lalu menyeka air mata Lee dengan lembut, wanita itu hendak pergi keluar dari ruangan tersebut, dan duduk di sofa di ruang tengah.
Nathan mengejar lalu duduk di samping kekasihnya.
"Jangan menangis lagi! Aku tidak tahan melihat air matamu. Aku tahu kamu masih mencintaiku seperti aku yang mencintaimu. Aku mohon berpikirlah, jika memang kamu tidak bisa melepaskan Sehun, maka biarkan aku memilikimu selama di sini, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi, dan kita bisa memiliki kenangan indah bersama," sekali lagi Nathan meminta kepada Lee Ji An agar memperlakukan dia layaknya seorang suami selama dia di Indonesia.
"Aku tidak mungkin membohongi dia. Aku bukan wanita pembohong," lirih Lee Ji An sambil menatap sang kekasih dengan pilu.
__ADS_1
"Aku tahu kamu bukan pembohong, tapi aku yang jahat telah meminta kamu untuk berbohong, jadilah istriku tiga hari ini, aku pun akan menjadi suami yang baik. Setelah itu kita akan hidup dengan kenangan kita yang indah." Nathan sambil membelai lembut Lee Ji An, lalu mereka pun saling bertatapan dan mengecup kening Lee Ji An dengan penuh cinta.