
Setelah tangis dan haru biru telah mewarnai seisi ruang tunggu ruangan operasi kalah itu. Nathan yang masih bergetar karena ketakutan, tidak bisa berkata apapun. Baik sepatah kata pun, karena dia benar-benar merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa kekasih hatinya.
Siapa yang sebenarnya pergi? Apakah Lee Ji An benar-benar pergi? Atau bayinya yang telah pergi, semua kekacauan dalam pikirannya berkumpul hebat dan membuat dia seolah-olah kehilangan arah. Semua terlihat begitu nyata, kesakitan orang-orang sekitar karena dirinya, Sehun, Lele dan Yuan Chuan, mereka semua merasakan kepedihan yang sama begitupula dengan dirinya.
Tidak ada yang bisa menenangkan pikirannya selain keselamatan Lee Ji An. Kali ini semua terasa sulit dan teramat berat. Beban pikirannya seolah-olah tidak bisa berhenti sampai di sana, bagaimana jika ternyata yang tidak selamat dan telah pergi itu adalah kekasih hatinya. Bagaimana jika benar-benar dia tidak bisa berbicara dengan lee Ji An lagi?
Di antara kecemasan yang bercampur dengan sebuah sesal yang mendalam, kini terbuka sudah sebuah sinar harapan. Dimana ruang operasi tersebut terbuka dan keluarlah blangkar dengan membawa tubuh Lee Ji An yang masih terbujur kaku tak berdaya keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruang rawat inap.
Bersyukurlah ternyata Lee Ji An masih bernafas, walaupun dalam kondisi belum sadar akan diri.
"Lee...." Nathan berkata dengan sangat perlahan, sambil mengejar blankar yang telah ditiduri oleh wanita yang amat dia sayangi itu.
"Ya Tuhan. Bersyukurlah ternyata Lee selamat," Lele terlihat begitu bahagia, begitu pula dengan Sehun. Mereka bersama pengejar blankar yang telah didorong oleh Suster ke dalam ruangan VIP yang akan ditempati oleh Lee Ji An.
"Terimakasih Tuhan!" Sehun berkata dengan begitu lantang, dia begitu bersyukur karena Lee masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Kini sampailah Lee di ruangan VIP. Semua keluarga menatap pasien yang kini masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.
Kini Lee sudah direbahkan di atas tempat tidur kesakitannya. Wanita itu benar-benar terlihat sangat pucat dan juga begitu menderita. Nathan yang melihat dengan jelas kondisi Lee, benar-benar merasa menyesal karena telah membuat wanitanya kesakitan. Yang teramat sulit apalagi ketika harus mengatakan kepada Lee bahwa bayinya itu ternyata tidak bisa diselamatkan.
"Sayang cepatlah sehat. Cepat sembuh Sayang. Maafkan aku telah membuatmu menjadi sepilu ini, aku sangat menyesal. Tak tahu apa yang harus aku katakan padamu. Semua ini memang gara-gara aku, kita kehilangan bayi kita, tolong maafkan aku Sayang. Aku tidak bisa berkata-kata selain meminta maap kepadamu!" kata Nathan di dasar hatinya. Pria itu berkata dengan keyakinan jiwanya. Bahwa dia benar-benar meminta maap kepada Lee secara tulus. Tentang semua sesal yang dirasakan benar-benar telah menyiksanya.
Bahkan kini tubuhnya masih bergetar tak berdaya, entah apa yang harus dilakukan. Ingin sekali dia memeluk tubuh sang kekasih hati, namun kini dia hanya bisa menatap sang kekasih dari jarak dua meter saja, karena saat ini Lee masih diperiksa oleh beberapa Perawat dan Dokter.
__ADS_1
"Maaf sebaiknya tidak terlalu banyak yang menunggu di ruangan, karena pasien masih dalam kondisi belum sadarkan diri. Beliau akan sadarkan diri selama beberapa jam kedepan karena saat ini pasien masih dalam pengaruh obat bius," kata salah satu perawat tersebut. Sehun dan yang lainya, semuanya hanya terdiam. Sedangkan yang mendekati dan melihat dengan jelas itu adalah Dokter Yuan Chuan.
"Baiklah Dokter, terima kasih banyak," kata Lele dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sangat bersyukur bahwa Nona mudahnya ternyata berhasil diselamatkan. Walaupun pada kenyataannya Tuhan telah mengambil seorang bayi tidak berdosa kembali pada sisinya.
Suster dan beberapa perawat laki-laki tersebut keluar meninggalkan ruang itu. Lalu kini tinggal empat orang yang menemani Lee Ji An di ruangan tersebut. Dengan perlahan Nathan menghampiri kekasih hatinya. Dia berjalan seolah-olah sedang melayang karena ketakutan dan rasa sesal yang dirasakan membuat jiwanya seorang olah terkoyak.
Nathan kini sudah duduk di kursi di samping tempat tidur kekasih hatinya. Pria itu menatap Lee Ji An dari atas sampai ke bawah, menelusuri seluruh tubuh dan wajah kekasih hatinya. Pria itu benar-benar tidak bisa berkata apapun selain meneteskan air matanya.
Sebuah tetesan air mata penuh dengan sesal. Pria itu menyesal karena telah membuat kekasih hatinya menjadi menderita seperti itu. Dia pun membuka selimut milik Lee Ji An dengan perlahan dan tampaklah menggunakan pakaian operasi.
Dengan perlahan pria itu membuka pakaian Lee Ji An sehingga tampaklah perban yang sangat besar menutupi perut Lee Ji An.
"Ya Tuhan. Pasti kamu sangat kesakitan. Lihatlah bahkan perban yang begitu besar. pasti Dokter itu telah merobek perutmu untuk mengeluarkan bayi kita. Walau pada akhirnya bayi kita tidak bisa diselamatkan," kata Nathan dengan begitu perlahan. Pria itu menatap perut Lee dengan tetesan air matanya. Nathan benar-benar begitu menyesali semua perbuatannya.
Sehun pun melihat perban tersebut dan dia hanya bisa menutup matanya dan membuang muka. Semua orang yang di sana sungguh tidak tega melihat itu semua. Akhirnya Lele berusaha menutup baju Lee dan menyelimuti kembali tubuh lee Ji An.
"Aku hanya ingin melihat saja!" ucap Nathan dengan perlahan sambil terus memperhatikan kekasih hatinya. Pandangan matanya tidak pernah berhenti menatap Lee. Dia benar-benar tak kuasa menahan semua tangis pria itu menangis terus menerus dengan diam dan tanpa suara.
Tetesan air matanya benar-benar menggambarkan sebuah kepedihan dan sesal yang mendalam. Pria itu benar-benar menyesali dan merutuki dirinya sendiri karena bahkan tidak bisa menjaga wanita yang sangat ia cintai.
Bahkan kini secara tidak langsung pria itu telah membunuh bayi yang telah dikandung oleh kekasihnya. Bayi yang benar-benar sehat dan kuat ternyata telah tiada lagi. Dia telah gagal menjadi seorang Ayah dan menjadi seorang pria. Karena dialah semua kesakitan Lee dimulai. Pria itu berjanji akan menebus semua dosa-dosanya dan kesalahannya di masa depan.
Dia berjanji akan menghapus semua derita Lee dan menggantikan dengan cinta yang dia berikan. Hatinya teramat sesak melihat wanita yang paling dia kasihi terbaring lemah dan tidak sadarkan diri seperti itu. Pria itu ingin sekali melihat Lee membuka mata dan menyebut namanya serta memaapkan dirinya.
__ADS_1
Nathan terdiam sambil menatap Lee dengan seribu sesal yang mendalam. Andai saja, andai saja, anda saja semuanya berandai-andai tetapi memang itu sudah terjadi. Dan tidak perlu berandai-andai lagi. Kini semuanya telah terjadi. Dia adalah pangkal dari semua kesakitan yang wanita itu rasakan. Hanya sesal yang tersisa dan luka yang tiada tara karena sesal itu terus menyiksanya.
bersambung.
catatan kecil Author :
Haloo sahabat Nathan dan Lee.
Ada kabar gembira... Novel ini akan update setiap hari mulai tanggal 1 maret... horeee....
silahkan kemukakan pendapat kakak, tentang rencana ini.
mau cerita sedikit...
Sebetulnya novel ini sudah kontrak dari bulan Januari, tetapi karena saya masih menyelesaikan projeck Novel Jessika di Webn*bel jadi saya mengabaikan novel ini untuk sementara, karena saya tidak sanggup deadline dua novel sekaligus.
Naaahhh... mulai Maret... kakak semua bisa stay setiap hari di sini... karena saya akan update dua chapter setiap harinya...
Mau gak?
Senang gak?
karena itu jangan lupa Vote dan like ya setelah membaca...
__ADS_1
oke kakak salam sayang dariku.
Evangelin Harvey ( Lee).