Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Tatapan Penuh Cinta


__ADS_3

"Kenapa adik di kubur?" Celoteh balita itu sambil menyentuh batu nisan sang adik.


"Karena adikmu tidak bisa bertahan, dan Tuhan menyayangi adikmu, Sayang," ungkap Nathan sambil menatap buah hatinya.


Sedang Lee Ji An sendiri masih menangis, karena tidak kuasa untuk pertama kalinya dia datang ke pemakaman, setelah 5 tahun lamanya dan itu membuat hatinya hancur dan tercabik.


"Ayah, apakah Ayah sering datang ke sini?" tanya anak itu sambil menatap kearah Nathan.


"Apa kamu memanggilku Ayah, Nak. Ayah senang sekali dengan sebutan itu, sini duduk di pangkuan Ayah, nanti Ayah akan ceritakan," kata Nathan sambil tersenyum kearah putra kesayangannya.


"Baiklah Ayah," Ryu Jin menghampiri Nathan dan duduk di pangkuan Nathan. Nathan yang duduk di tanah tidak merasa khawatir pakaian yang kotor malah dia begitu bahagia bisa memeluk buah hatinya. Bahkan dia bisa dipanggil ayah oleh jagoannya.


"Ayah dulu sering datang ke sini sebelum Ayah sakit, wajah dedek sangat mirip dengan ibu. Kalian ada kemiripan tapi tidak terlalu kataran, karena perbedaan jenis kelamin dan memang tidak terlalu identik, Lee Ji Nan sangat cantik, wajahnya putih dan ketika ayah membawanya kesini, dia seolah sedang tertidur dengan pulas, tanpa rasa sakit sedikit pun, dulu Ayah membohongi Ibu karena Ibu pun waktu itu belum siap untuk mendengar kabar ini. Karena itulah Ayah selalu datang ke sini sendirian. Tetapi setelah Ayah sakit dan melupakan semuanya. Ayah tidak lagi datang ke sini," ungkapl Nathan kepada putra kesayangannya.


"Ayah sakit apa? Sampai Ayah melupakan aku dan ibu, serta merupakan dedek?" tanya anak itu sambil menatap wajah Nathan dengan heran.


"Ayah dulu itu sering mengalami sakit kepala, karena Ayah pernah kecelakaan, lalu Ayah pingsan dan dilakukan operasi. Selain itu Ayah jadi tidak mengingat apa-apa lagi," tutur Nathan sambil membelai lembut rambut buah hati kesayangannya.


Lee Ji An menatap Nathan dengan matanya yang sendu, lalu tanpa sengaja Nathan pun menatap Lee Ji An. Sepasang mata itu kini saling bertatapan, terlihat tatapan penuh cinta di antara keduanya, tetapi sayangnya mereka tidak bisa bersama. Karena kini status Lee Ji An adalah tunangannya Sehun.


Walaupun Nathan kini hampir memiliki ingatan tersebut. Tapi semua percuma, karena sebentar lagi Lee Ji An, bahkan akan menikah dengan Sehun.

__ADS_1


"Apa kepala Ayah masih sakit?" tanya Ryu Jin kepada sang ayah.


"Sekarang sudah tidak sakit lagi, apa lagi ada di Ryu dan Ibu Lee di sini. Ayah sudah sembuh," kata Nathan dengan menorehkan senyum yang manis kepada jagoannya, lalu Ryu Jin pun tersenyum manis dan memeluk Nathan dengan erat, anak itu seolah-olah sudah mengenal Nathan sejak lama dan kini Ryu Jin malah minta digendong oleh Nathan.


"Ryu mau kemana, kenapa semanja itu?" tanya Lee Ji An kepada sang putra.


"Ryu mau jalan-jalan sama Ayah, Ibu kecil," jawab Ryu Jin sambil tersenyum manis.


"Yasudah sebentar Ibu mau menaburkan bunga dulu," kata Lee Ji An sambil membuka bungkusan yang berisi bunga bunga mawar dan menaburkan diatas nisan tersebut.


Mereka lalu bergegas menuju ke sebuah cafe di dekat pemakaman tersebut, karena Ryu Jin terlihat begitu kehausan. Sesaat Lee Ji An dan Nathan hanya bisa menatap putranya dengan tatapan yang pilu. Karena kini mereka sudah bersama tetapi mereka tidak akan mungkin bersatu.


"Andai kita bisa bersama terus-menerus seperti ini, pasti akan sangat bahagia. Menikahlah denganku, kita bangun keluarga kita kembali." Nathan berkata dengan suara yang rendah dan tatapan mata yang penuh harap.


"Apakah kamu tidak ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk Ryu Jin, dan membiarkan Ryu tinggal bersama Ayah dan Ibu kandungnya," tanya Nathan kepada Lee Ji An. sedang wanita itu hanya menundukkan wajahnya. Dia terlihat begitu sendu dengan rasa yang sangat menyesakkan.


"Nathan ... Aku akan segera menikah dengan Sehun, tidak mungkin membatalkan pernikahan itu," ungkap Lee Ji An dengan tetesan air matanya.


"Kamu tega memberikan Ryu Jin seorang ayah tiri, sedangkan aku masih mengharapkan kita masih bisa bersama, berusaha membangun kembali keluarga kita yang sempat terpecah. Aku sangat mencintaimu walaupun aku tidak mengingat bahwa dulu aku mencintaimu, tapi aku mencintaimu kembali untuk kedua kalinya," kata Nathan dengan perlahan lalu pria itu menggenggam tangan Lee Ji An dengan lembut. Baby Ryu Jin kini menatap kedua orangtuanya yang terlihat begitu menyedihkan.


Anak itu hanya diam sambil makan burger yang dia pesan. Seorang anak berusia 5 tahun tidak tahu apa yang terjadi kepada kedua orangtuanya dan kenapa dia memiliki ayah sebanyak itu.

__ADS_1


"Ryu setelah ini kita pulang ke rumah Ayah, ya," kata Nathan kepada anaknya.


"Benarkah Ayah punya rumah di sini, Ibu-ibu aku mau main ke rumah Ayah, ibu," kata Ryu Jin sambil tertawa dengan gembira menatap kearah Lee Ji An yang kini terlihat begitu kebingungan.


"Ryu barang-barang kita sudah di hotel, kita sudah memesan Hotel. Bagaimana mungkin kita akan menginap di rumah Ayah," kata Lee Ji An kepada putranya.


"Menginap? Itu ide yang bagus, kita akan menginap Sayang. Mau kan Ryu menginap bersama Ayah dan Ibu?" kata Nathan dengan senyumannya. Lee merasa terkejut kenapa bisa-bisanya dia mengatakan menginap di depan Nathan. Ya Tuhan wajahnya tiba-tiba bersemu merah kala itu.


"Mau ayah mau, Ryu mau menginap di rumah Ayah. Ibu ayo kita menginap di rumah Ayah saja," ucap sang jagoan kepada ibundanya


"Ryu Sayang, tapi,"


"Kita menginap ya. Ayah sudah menyiapkan kamar untuk kamu sebenarnya, kamar itu sudah Ayah dan Nenek buat sedari kamu bayi, Sayang," ungkap Nathan dengan senyuman yang manis, menepis semua perkataan Lee Ji An.


"Mau ayah, mau. Ibu mau ya Bu. Kita ke rumah Ayah setelah makan," rengek Ryu Jin kepada sang ibu. Kali ini Lee Ji An hanya bisa tersenyum dengan gugup, dia tidak bisa menolak keinginan putranya, dan terlihat Nathan tersenyum menatap kearah sang kekasih, dia sangat bahagia akhirnya bisa mengajak Lee Ji An ke rumahnya.


"Tapi koper kita ada di hotel," kata Lee Ji An dengan suara yang rendah, sambil menatap putranya dan mengelus lembut rambut buah hati tercintanya.


"Kita ambil ibu, kita ambil," anak itu merengek sambil menatap sang ibu.


"Tapi Sayang,"

__ADS_1


"Nanti Ayah antar untuk mengambil covernya ya, terus sekarang makan dulu yang banyak, karena setelah ini kita akan langsung mengambil koper dan pulang ke rumah Ayah," ungkap Nathan sambil menatap buah hatinya dengan penuh kasih Sayang.


Pria itu tidak menyangka bisa memiliki anak sebesar itu, dalam sekejap mata Nathan memiliki anak yang pintar dan begitu mirip dengannya.


__ADS_2