
Indonesia.
Pesta pertunangan diadakan begitu meriah, berjalan begitu lancar. Semua terlihat bahagia kecuali sang nenek, nenek Liao hanya bisa terdiam dengan seribu kegundahan yang dia rasakan.
Di dalam keramaian pesta tersebut, hatinya masih merasakan kesakitan yang teramat dalam, antara setuju dan tidak setuju antara menginginkan cucunya bahagia dan menyimpan sebuah rahasia.
Apa yang harus dilakukan saat ini, dia hanya berpura-pura tidak tahu, dia hanya akan membohongi cucunya saja, berharap semuanya baik. Berharap kegundahan ini akan hilang begitu saja, namun sayangnya semuanya tak hilang, malah membuat dia semakin merasa menjadi orang yang paling malang.
Setelah pesta pertunangan usai,semua kembali ke rumah masing-masing, baik Nathan dan juga Lee Ji An mereka kembali ke kediamannya. Lee Young Joon sendiri kembali ke Korea memboyong sang istri tercinta. Karena perusahaan memang harus di kelola olehnya. Kemarin sempat ada kekacauan setelah dia tinggal lama di Indonesia.
Seminggu setelah pertunangan. Nathan kini berkunjung ke kediaman keluarga Lee Ji An bermaksud untuk menyampaikan beberapa pesan dari sang nenek.
"Memangnya nenek mengatakan apa sayang?" kata Lee Ji An sambil duduk di samping Nathan. Wanita itu menggendong buah hatinya dengan begitu lembut, penuh dengan kasih sayang.
"Ini soal pernikahan kita. Apakah Ayah sedang istirahat?" Nathan bertanya soal kehadiran Ayah Lee.
"Ayah dan ibu sedang tidur siang, aku lihat kondisi ayah sekarang sudah membaik, dan malah terlihat begitu sehat, setelah pesta pertunangan semua berjalan begitu lancar. Ayah tidak lagi merasa sesak napas atau merasa pusing," tutur Lee Ji An kepada Nathan.
"Baguslah kalau ternyata ayah sudah membaik. Apalagi setelah mendengar berita ini, tidak apa-apa nanti kamu saja yang menyampaikan kepada ayah ya, Sayang," kata Nathan sambil membelai lembut rambut sang kekasih, lalu Nathan pun mencubit hidung buah hatinya dengan gemas.
"Emangnya kabar apa, Sayang?" Lee Ji An mengerutkan dahinya, ia sangat penasaran dengan kabar yang akan diberitahukan oleh Nathan kepadanya dan keluarga.
"Ini soal rencana pesta pernikahan kita," jawab Nathan.
"Memangnya apa dan bagaimana?" tanya Lee sungguh penasaran.
__ADS_1
"Begini Sayang, ini soal rencana pesta pernikahan, nenek sudah menentukan tanggalnya, kita akan menikah pada tanggal 1 di bulan Juni," ucap Nathan menorehkan senyumnya kepada kekasih hatinya.
"Oh ya ampun sisa 3 minggu lagi, aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di bulan Juni. Aku ingin segera menjadi istrimu," ungkap Lee Ji An merengek, dia menyandarkan kepalanya tapi tiba-tiba saja buah hatinya menangis.
"Loh anak Ayah kok menangis seperti ini, sini biar ayah gendong," kata Nathan sambil mencoba menggendong buah hatinya.
"Begini, rencana tanggal 1 tidak usah repot mengurusnya, katakan kepada ayah dan ibumu untuk duduk diam, santai melihat saja, karena nanti semua sudah diurus oleh anak buah nenek," kata Nathan sambil menggendong baby Ryu.
"Jadi semua biaya pernikahan sudah ditanggung oleh nenek?" Kata Lee Ji An mengerutkan dahinya.
"Nenek yang mengatakan kepadaku. Agar kalian semua duduk manis aja," kata Nathan menorehkan sebelum yang manis kepada tunangannya.
"Tidak bisa seperti itu Nathan, keluarga kami akan menanggung malu jika semua biaya dibebankan oleh keluarga laki-laki," tangkas sang ibu sambil duduk di hadapan Nathan.
"Tapi Bu, nenek yang mengatakan sendiri bahwa ibu dan ayah serta yang lain tidak usah repot-repot, karena kami semuanya akan mengurusnya," kata Nathan sambil menatap calon ibu mertuanya.
"Tidak begitu, keluarga kami tidak mau menerima gratisan seperti itu, kami juga masih mampu," kata sang ibu dengan dahi yang mengerut.
"Bu bukan masalah gratis atau tidak gratis, tapi ini semuanya sudah dipersiapkan oleh nenek, jadi ibu tinggal datang saja pada hari pernikahan ke tempat yang sudah nenek tentukan," kata Nathan kepada calon ibu mertuanya.
"Tapi Kami merasa tidak nyaman, kalau semua beban biaya ditanggung oleh keluargamu, kesannya keluarga kami terlalu matre," kata ibu dengan mata yang terpicing.
"Tidak seperti itu juga Bu, mana mungkin kami menganggap ibu terlalu matre," kata Nathan dengan senyumannya.
"Tapi kami akan malu oleh keluargamu." Sekali lagi ibu menolak.
__ADS_1
"Siapa yang akan memberitahu orang lain, yang tahu hanya nenek dan aku, tidak ada yang lain Bu. Jadi untuk menghemat tenaga waktu dan dana, sebaiknya ibu tinggal duduk manis bersama ayah, semuanya sudah di atur oleh nenek." Sekali lagi pria itu berkata sambil menorehkan senyuman yang manis.
"Baiklah kalau begitu, tetapi ibu sebenarnya tidak setuju. Tolong sampaikan itu kepada nenekmu ya, Nathan," kata sang ibu kepada calon menantunya.
"Baiklah Bu, akan saya sampaikan, tapi kalau keputusannya sudah bulat biasanya tidak bisa diganggu gugat." Nathan menjawab dengan senyumannya.
"Ya sudah Kita lihat nanti saja ya, Nathan apa kamu sudah makan, biar ibu buatkan makan siang dulu ya," ungkap ibu mertuanya. Lalu pergi meninggalkan Nathan dan Lee di ruang tamu.
"Terima kasih banyak, Bu," kata Nathan.
"Sayang baby Ryu langsung diam ketika kamu menggendongnya sepertinya tadi, dia menangis karena merindukan kamu, merindukan Ayahnya," ungkap Lee sambil memainkan tangan mungil buah hatinya.
"Benar sekali, ini bayi tampan sudah tahu Ayah datang, langsung minta di gendong ya," kata Nathan sambil mencubit pipi bakpao milik buah hati kesayangannya.
Sekarang usianya hampir sebulan setengah, berat badannya pun sudah naik sampai 5 kg, pipinya sudah mulai membulat dan dia semakin tampan, kulit bayi itu semakin putih kemerahan dan itu membuat orang yang melihat tambah gemas apalagi Nathan dan Lee Ji An
Mereka tidak menyangka memiliki buah hati yang sempurna, dan tampan seperti itu. Bahkan kini buah hatinya mengerti kalau Ayahnya datang dan menghampirinya. Sehingga jika Nathan belum menyapa buah hatinya, bayi itu akan menangis meminta perhatian, sungguh lucu sekali, padahal usianya baru saja 1 bulan setengah, apalagi kalau nanti sudah besar akan seperti apa kemanjaan baby Ryu kepada ayahnya.
"Sini sayang biar aku susui dulu, payudaraku sudah mulai mengeras, baby Ryu dari tadi tidur tidak mau menyusu," kata Lee sambil menggendong buah hatinya.
"Sama ibu dulu ya Sayang. Minum susu yang banyak, agar tambah besar, tambah gemuk. Nanti kalau sudah besar kita bisa jalan-jalan keluar," kata Nathan sambil memperhatikan buah hatinya yang mulai menyusu dengan Lahap kepada sang ibu.
Bayangan keluarga yang bahagia, sudah ada di depan mata, mereka sudah tidak sabar ingin tinggal satu rumah, sehingga tidak akan ada lagi penghalang untuk cinta mereka berdua. Nathan ingin segera membina rumah tangga dengan kekasihnya tersebut, kekasihnya yang kini sudah menjadi ibu dari buah hatinya.
🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g
__ADS_1