Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Kesakitan Nenek


__ADS_3

"Sayang, Nenek, silakan masuk," ungkap Lee Ji An dengan senyum bahagia, karena Nathan dan nenek Liao kini sudah berada di depan pintu, Lee langsung mempersilahkan kedua orang tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya, tepatnya sebuah apartemen kesayangannya.


"Iya Sayang, ayo Nenek kita masuk." Nathan mengajak sang nenek, dan menorehkan senyum yang manis kepada Lee Ji An pria itu pun sudah tidak sabar, karena hari ini adalah hari yang sangat dinantikan.


"Ibu Ayah. Nathan dan neneknya sudah datang," ucap Lee Ji An memanggil sang ibu dan mengetuk kamar ibu dan ayahnya.


Nathan dan nenek Liao kini sudah duduk di ruang tamu, mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keluarga Lee Ji An.


"Sebentar ya Nenek, ayah dan ibu sedang bersiap," kata Lee Ji An sambil duduk di samping sang nenek.


"Iya Sayangku, tidak apa-apa santai saja, Nenek memang sengaja datang ke sini untuk dirimu nak, jadi jangan khawatir," kata sang nenek menorehkan senyum yang sangat bahagia kepada cucu kesayangannya.


Tiba-tiba saja nyonya Lee sudah datang bersama sang suami. Alangkah terkejutnya nenek ketika melihat wajah dari ayah Lee Ji An.


"Nenek, ini adalah Ayah dan Ibu saya," kata Lee Ji An menorehkan senyum yang manis memperkenalkan kedua orangtuanya kepada sang nenek. Nenek begitu terkejut, dia membisu tak bisa berkata apapun. Rasa dingin kini sudah menyelimuti seluruh tubuhnya terasa sakit, kembali teringat semuanya, teramat sangat menyakitkan, ketika melihat wajah dari calon besannya, yang ternyata adalah orang yang telah merenggut kebahagiaannya.


"Nyonya. Terima kasih sudah datang ke sini. Saya sangat senang," kata nyonya Lee kepada nenek Liao.


Nenek Liao masih terdiam mematung, dan kediamannya membuat sebuah pertanyaan di dalam benak Nathan dan Lee Ji An.

__ADS_1


"Nenek ... nenek Ibu menyapa Nenek, kenapa Nenek diam saja," kata Nathan sambil menatap sang nenek dengan kening yang mengerut.


"Nyonya Liao. Ada apa? Apakah Anda begitu terkejut melihat saya dan suami saya?" Ibu Lee Ji An bertanya kepada nyonya Liao, sebenarnya ibu Lee sudah mengetahui bahwa nyonya Liao pasti akan sangat terkejut ketika melihat suaminya.


"Nyonya, perkenalkan nama saya Lee Han Joon," kata tuan Lee kepada nyonya Liao.


"Lee Han Joon, jadi Lee Ji An itu adalah putrimu?" kata sang nenek dengan suara yang rendah, tubuhnya masih bergetar, rasa dingin masih menyelimutinya. Entah kenapa rasanya dunia seolah begitu sempit, pikirannya tidak karuan kali ini.


"Benar sekali Nyonya, Lee Ji An adalah putri bungsu kami, putri saya," kata tuan Lee Han Joon dengan nada yang rendah, hal ini sudah bisa dia tebak, bahwa ini akan terjadi. Nyonya Liao pasti akan sedikit shok.


"Apa Nenek kenal dengan ayah?" tanya Lee Ji An menorehkan senyum yang manis.


Wanita paruh baya itu seolah tidak percaya bahwa kini dia berjumpa dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya, sesaat ia menatap kearah Nathan, dia menatap kearah Lee dan menerima harus mengatakan kenyataan bahwa ayahnya Lee Ji An adalah pembunuh dari ayahnya Nathan, jika sampai Nathan dan Lee mengetahui hal, ini mereka pasti akan sangat sedih.


"Nyonya terima kasih karena anda sudah berkunjung ke kediaman kami, kami sangat bersyukur bahwa ternyata kita bisa berjumpa kembali," kata ibu Lee kepada nyonya Liao.


"Ah iya, terakhir kita berjumpa di Rumah Sakit," nyonya Liao berkata dengan sangat pelan, tadi dia begitu bersemangat untuk melamar Lee Ji An, tapi sekarang dia bahkan bingung harus bagaimana. Haruskah dia mengatakan kepada Nathan bahwa tuan Lee Han Joon adalah pria yang sudah menabrak dan membuat ayah dan ibu Nathan masuk ke dalam jurang.


"Nenek langsung saja," kata Nathan agar nenek tidak membuang-buang waktu.

__ADS_1


"Nathan, apakah kamu begitu mencintai Lee Ji An?" tanya nenek Liao sambil menatap cucu kesayangannya, dengan wajah yang sangat sendu.


"Jelas saja tidak usah Nenek pertanyakan sudah pasti Nenek akan mendapat jawabannya. Aku sangat mencintai Lee Ji An dan mungkin aku tak akan bisa hidup tanpa dia." Nathan berkata dengan suara yang pelan.


Ucapan Nathan seolah menjadi sebuah mata pisau yang mengiris hati sang nenek, karena tidak dipungkiri ia masih merasa kesakitan melihat dan mengingat kejadian masa lalu. Bahkan dia di ambang sebuah kebingungan karena sang cucu telah jatuh cinta kepada Lee Ji An putra dari musuh besarnya.


"Baiklah Nyonya. Putra dan putri kita memang sudah saling mencintai, apalagi sekarang mereka sudah memiliki bayi. Saya berharap anda merestui hubungan putra-putri kita," kata nyonya Lee kepada nenek Liao.


"Saya melihat cucu saya begitu, begitu mencintai putri anda, nyonya saya tidak bisa berkata-kata lagi selain menuruti keinginannya, untuk menjadikan Lee sebagai istri Nathan," kata nenek Liao dengan suara yang rendah dan bergetar, wanita tua itu tidak cara lagi selain merestui hubungan Nathan dan Lee Ji An.


"Jelas saja kami akan menerima lamaran anda. Walaupun anda tidak setuju dengan pernikahan Lee dan Nathan, tidak dipungkiri Nathan memang harus bertanggung jawab kepada putri kami. Seperti yang anda ketahui, cucu anda sudah membuat keluarga kami menanggung malu karena putri kami harus melahirkan bayi diluar pernikahan, kami sampai mengusir Lee Ji An dari Korea, demi untuk menyembunyikan Lee dari keluarga besar dan para tetua, karena itu mau tidak mau tidak mau, Restu tidak restu anda harus merestui pernikahan anak-anak kita, cucu anda harus bertanggung jawab atas putriku," kata nyonya Lee kepada nyonya Liao.


Putranya Zack memang sudah meninggal akibat dari tragedi beberapa puluh tahun lalu, tetapi perbuatan Nathan tidaklah dia sengaja, dia tidak pernah menyuruh Nathan untuk membuat Lee dan keluarganya menanggung malu, tapi jika sudah seperti ini, mau tidak mau dia harus merestui pernikahan Lee dan Nathan.


"Kami meminta maaf atas perbuatan cucu kami, perbuatannya itu mungkin di luar kendali. Karena itulah saya ke sini untuk berniat melamar Lee dengan tujuan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah Nathan perbuat, jangan mempertanyakan restu merestui, seperti yang anda katakan mau tidak mau, restu tidak merestui aku harus tetap memberikan restu kepada cucu kesayanganku," kata nenek Liao dengan nada yang rendah, padahal hatinya begitu sakit, bagaikan teriris sembilu, dia tidak kuasa merasakan kegelisahan yang seperti ini.


Rasa sakit dalam hatinya menyiksanya, membuat dia kini merasakan kehancuran yang sama seperti kehancuran yang dirasakan 20 tahun lalu. Tuan Lee sendiri tidak bisa berkata apapun, dia hanya terdiam dengan wajahnya menunduk. Tuan Lee berdo'a di dasar hatinya, agar nenek Nathan merestui pernikahan Nathan dan buah hatinya.


🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g

__ADS_1


__ADS_2