Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Upacara pemakaman 2


__ADS_3

Sesampainya mereka di sebuah pemakaman Yang elite, tentunya pemakaman yang sudah disediakan oleh asisten pribadi Lee Ji An. Pemakaman itu benar-benar sangat bagus dan hanya bisa dibeli oleh keluarga yang kaya raya saja.


Tetapi seindah apapun pemakaman, sebagus apapun pengakaman, tetap isinya adalah orang-orang yang mati, tetap hanya orang yang bersedih yang berada di sana. Nathan sudah memeluk sang buah hati sambil membawa nya turun dari mobil ambulance tersebut.


Dia berjalan dengan kehampaan menuju ke tempat yang sudah disediakan. Satu orang yang sudah bersiap mengambil alih. Kini sudah berada di hadapannya, dia sungguh berat untuk memberikan bayinya kepada pria tersebut, pria yang hendak membantu memakamkan buah hatinya.


"Sini pak biar saya bantu!" Pria itu berkata menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan Nathan sendiri kurang mengerti bahasa Indonesia, lalu Nathan melihat ke arah Yuan Chuan dan Dokter Yuan Chuan lalu membantu Nathan untuk men-translate bahasa dari pria tersebut.


Dengan berat hati dia pun harus segera memberikan bayi itu kepada pria tersebut, benar-benar sesuatu yang sangat tak bisa di bayangkan, dia melihat sendiri bayinya dimakamkan di depan matanya. Pria itu menggendong bayinya dan mencoba memakamkan bayi tersebut.


Helaan nafas berat dilontarkan, air mata bercucuran tak bisa dia tahan, sakit dan perih ketika dia mendapati hidupnya kini tidak seindah yang orang lain rasakan, kehilangan sang buah hati benar-benar membuat dia tersakiti apalagi. Mengingat bahwa buah hatinya meninggal akibat kesalahannya.


Sebuah penyesalan yang tiada tara dia rasakan. Air mata itu tak bisa lagi di Bendung. Dia pun menangis dalam kebisuan. Dia terluka dalam hujaman bara. entah apa itu hanya bisa menjadi sebuah kepedihan untuk saat ini. Tangisannya memang tak terdengar, jeritan hatinya memang tak bisa orang lain dengar, tapi pria itu menggigil menahan semua luka dalam yang dia rasakan, bukan luka yang sedikit tapi luka yang sangat banyak.


Yuan Chuan melihat sang sahabat terlihat begitu pucat, dengan mata yang begitu basah. Dia tak tega untuk membiarkan sahabatnya terpukul dan tersiksa seperti itu.

__ADS_1


"Ayo Nathan, kita mundur tidak usah melihat sampai selesai!" Ajak Yuan Chuan kepada sang sahabat agar Nathan tidak terlalu depan melihat pemakaman tersebut melihat bayinya, tertidur di atas tanah dan dikubur di dalam tanah terlalu menyakitkan untuk seorang Ayah.


Nathan pun menggeleng, dia ingin tetap di sana untuk yang terakhir kalinya dia ingin melihat buah hatinya. Air matanya turun sangat deras tak bisa lagi dia bendung. Dan akhirnya dia pun memeluk Dokter Yuan dan menangis didalam pelukan sang sahabat.


"Ini salahku, andai saja aku tidak marah waktu itu, bayiku akan baik-baik saja. Mungkin bayi ku akan baik-baik saja!" Nathan berkata dengan begitu pelan, seperti orang yang sedang berbisik, tetapi Yuan Chuan mendengar ucapan sang sahabat walaupun dengan samar-samar.


Kesakitan yang Nathan rasakan saat ini Dokter Yuan pun merasakan pula, karena apa? Karena Yuan sudah mengetahui sikap dan sifat Nathan sedari kecil, mereka sudah berteman begitu lama, sehingga jika sang sahabat terluka maka yang lainnya pun akan ikut terluka, begitu halnya dengan Nathan dan Yuan Chuan.


"Sudah lupakan saja, sudah kubilang itu bukan kesalahanmu bukan kesalahanmu sepenuhnya, ini adalah permainan Takdir Yang Kuasa. Namun perantaranya adalah dirimu, sudah ada di dalam Takdir bayi bahwa dia tidak akan hidup lebih lama," ucap Dokter Yuan Chuan sambil memeluk sang sahabat dengan tetesan air matanya.


"Sudahlah sudah, nasi sudah menjadi bubur, walaupun itu sudah jelas perantaranya karena dirimu, tetapi tidak baik terus menerus menyalahkan diri sendiri, apalagi sekarang kondisi Lee masih koma di Rumah Sakit, prioritas utamamu adalah menjaga Kekasihmu, kamu harus bersemangat, sehatkan Lee. Tunggu dia sampai sembuh dan bahagiakan dia!" tutur Yuan Chuan sambil benar-benar menitikkan air mata, ketika dia berkata seperti itu kepada sang sahabat.


Di sisi lain Sehun hanya bisa menatap pilu bayi yang kini sudah dimasukkan ke dalam liang kubur tersebut, pria itu memang sedih. Tetapi tidak sesedih Nathan. Lele sendiri hanya bisa menangis dengan sesegukan, dia tidak tega melihat bayi itu kini sudah dikubur oleh tanah dan di injak-injak oleh petugas pembuat makam agar tanah itu tidak labil.


Lele yang terus menangis tak kuasa lagi untuk menahan semua rasa sakit dalam hatinya. Dia pun merasa bersalah karena pada saat kejadian tidak bisa menemani Nonanya tersebut. Begitu pula dengan Lee Young Joon dia kini hanya bisa menatap keponakannya ditutup oleh tanah.

__ADS_1


Pria itu pun menangis dalam kesedihannya, tidak menyangka bahwa bayi yang tidak dikehendaki itu telah membuat dia bersedih. Padahal saat Lee hamil, dia menolak kehadiran bayi tersebut. Namun ternyata setelah bayi itu lahir dan meninggal dia begitu menyayangi bayi tersebut, mencintai bayi itu sampai akhirnya terluka seperti ini, ketika bayi kini sudah di makamkan.


Kesedihan setiap orang berbeda jenisnya, tetapi tidak ada yang sesedih Nathan, hanya Nathan yang merasa sedih dan tersiksa melebihi siapapun, pria itu tersiksa melebihi orang yang ada di sekitarnya. Tersiksa karena kehilangan anaknya dan dia pun tersiksa karena rasa bersalah yang selama ini telah menggerogoti jiwanya.


Suasana memang tidak seramai biasanya, tetapi isakan tangis mengelilingi lingkungan tersebut. Kini sudah terpasang batu nisan dengan bertuliskan Lee Ji nan, bayi dari Lee Ji An. Nathan terkejut melihat batu nisan itu masih memiliki nama Lee. Sedangkan sudah jelas bahwa bayi itu adalah bayinya, walaupun bayi itu sudah meninggal tetap saja dia ber Marga Liao.


"Kenapa Lee Ji Nan, jika memang namanya Ji Nan, maka harusnya namanya Ji Nan Liao," ucap Nathan dalam hatinya, dia tak percaya bahwa sang kakak ipar tidak menganggapnya sebagai Ayah dari keponakannya.


"Kenapa tidak memakai margaku, dan kenapa tidak ada namaku di sana?" Kata Nathan kepada sang kakak ipar Lee Young Joon.


"Apa maksudmu, kalian bahkan belum menikah," Lee Young Joon berkata dengan datar.


"Tapi dia tetap anaku," Nathan tidak terima dengan ucapan sang kakak ipar. Namun Lee Young Joon sama sekali mengabaikannya dan berpura-pura tidak mendengar semua perkataan yang Nathan kataka , kini Joon hanya fokus melihat ke arah makam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2