
Malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan untuk Lee dan Nathan, karena besok mereka akan segera berpisah dan semua akan kembali normal. Nathan dan Lee berjanji bahwa apa yang mereka lakukan di Indonesia, hanya akan menjadi kenangan indah saja, dan tidak akan pernah mengungkit semua kejadian tersebut di depan umum.
Keputusan Lee untuk kembali sungguh membuat hati Nathan tersakiti, dia begitu sedih ketika bahkan saat ini wanita itu sudah berkemas dengan koper besar yang dia bawa. Pagi itu semuanya sudah berkumpul di meja makan, Lee Ji An sudah memasakkan sarapan yang banyak untuk Nathan tetapi Nathan seolah tidak merasakan nafsu makan sama sekali.
"Ayah kenapa Ayah makannya sedikit sekali, lihat Ryu banyak sekali makannya," ungkap balita kecil itu sambil memperhatikan ayahnya.
"Putraku Sayang, pencernaan Ayah kurang baik, Ayah tidak bisa makan banyak-banyak, Ryu saja ya yang makanannya, Nak," kata Nathan sambil menorehkan senyum yang manis kepada buah hatinya.
Lee Ji An hanya terdiam, sambil perlahan mengunyah semua makanannya. Hatinya sebenarnya sangat kosong, dia enggan untuk melangkah keluar dari rumah itu, tetapi janji adalah janji, semuanya harus ditepati. Janjinya kepada Sehun harus ditepati dan Lee juga berharap Nathan bisa menepati janjinya tidak mengungkit semuanya ke mata publik.
"Ayah mau ikut pulang ke Jepang?" tanya Ryu Jin sambil menatap ayahnya.
"Tidak, Nak. Ayah harus pulang ke Cina karena nenek buyut di sana sendirian, nanti kalau ada kesempatan Ryu akan Ayah Ajak pulang lagi ke Cina ya," kata Nathan sambil menorehkan senyum yang manis kepada buah hati kesayangannya.
"Baiklah Ayah, Ryu mau ikut Ayah nanti," ungkap Ryu Jin sambil tersenyum dengan lucu.
"Baiklah kalian tidak usah berbicara terlalu banyak di saat makan seperti ini, tetapi perbanyaklah makan, Ryu harus banyak makan, ayo cepat-cepat Ryu harus tampak lebih besar dari pada anak lainnya, karena Ryu sudah sekolah sekarang, kalau Ryu makan sedikit, nanti kamu tidak bisa belajar dengan benar," kata Lee kepada anak semata wayangnya.
"Baiklah ibu. Baiklah Ayo Ayah juga makan yang banyak, kita makan balapan Ayah," ungkap Ryu Jin meminta kepada sang ayah.
__ADS_1
"Ryu tidak boleh berkata seperti itu, mana mungkin makanan dijadikan ajang buat balapan," kata Lee Ji An menata buah hatinya.
"Tidak apa-apa Bu. Ayo kita balapan kita makan, di sini siapa yang cepat habis dia yang akan mencium ibu," kata Nathan sambil tersenyum manis ke arah buah hatinya.
Sebenarnya senyuman itu adalah senyuman yang dipaksakan, karena sesungguhnya hatinya begitu sedih dan perih, tatkala dia harus mengakhiri semuanya dan berpisah dari wanita yang sangat dia cintai.
"Hore hore ayo kita makan Ayah," kata baby Ryu Jin dengan sumringah, sesaat kemudian Nathan dan balita itu langsung makan dengan sangat cepat. Nathan mengalah kepada buah hatinya, dan pura-pura makan dengan lambat, agar baby Ryu Jin bisa menang.
"Horee Ryu menang Ibu, Ibu Ibu Ibu Ibu Ryu mau mencium ibu," jerit anak itu sangat senang, karena dia telah memenangkan balapan makan bersama sang ayah.
"Ayo sini, Ryu mau kiss Ibu sebelah mana?" tanya Lee Ji An kepada buah hatinya, sambil menolehkan senyum yang manis.
"Ayah jangan perlihatkan wajah seperti itu, ibu pun begitu sedih harus mengakhiri ini semua," kata Lee Ji An sambil menatap sang kekasih dengan iba.
"Ayah harus memperlihatkan wajah seperti apa. Haruskah Ayah tertawa bahagia disaat hati Ayah benar-benar hancur, karena Ibu akan pergi bersama Ryu Jin, meninggalkan Ayah untuk selamanya," jawab Nathan dengan suara yang rendah.
"Tidak selamanya. pasti kita akan berjumpa lagi Ayah, benarkan Ibu," kata Ryu Jin sambil menoleh kearah sang ibu.
"Iya Sayang, kita akan mengunjungi Ayah lain waktu," kata Lee Ji An sambil mengelus lembut rambut Putranya yang sangat ia sayangi.
__ADS_1
Kini mereka sudah selesai dengan acara sarapannya, waktunya mereka untuk berangkat ke Bandara. Hati Nathan begitu sedih dan begitu tersakiti dengan keadaan ini. Sekali lagi dia memohon kepada Tuhan agar kekasihnya biasa segera mengandung janin yang dititipkan di rahimnya.
Karena dengan cara itulah mungkin Jalan satu-satunya mereka gak bisa bersama. Perpisahan ini selalu menyakitkan untuk Nathan dan Lee Ji An. Mereka adalah insan yang saling mencintai, tapi kini tidak bisa bersama karena sebuah keadaan. dan Takdir yang terus-menerus mempermainkan mereka berdua.
Dalam perjalanan mereka hanya terdiam, Lee Ji An memangku Ryu Jin dan Nathan menggenggam tangan Lee Ji An dengan erat, seolah tangan itu tidak mau berpisah sama sekali, tetap menggenggam erat satu sama lain.
Ryu Jin terlihat tertidur karena dia kekenyangan setelah sarapan.
"Lihatlah betapa miripnya dia denganmu Sayang, kalian tampak begitu sama, tidak ada bedanya sama sekali," ungkap Lee Ji An kepada Nathan.
"Karena itulah walaupun ingatanku belum pulih, aku bisa mengenali buah hati kita dengan jelas, karena tidak akan mungkin ada orang yang sangat mirip denganku kalau dia bukan putraku," kata Nathan sambil menatap kearah buah hatinya yang sudah tertidur.
"Sayang, jika mengingat masa lalu, andai saja waktu itu seseorang mengabari bahwa dirimu sakit, mungkin kita akan tetap bersama, tidak akan terjadi perpisahan selama 5 tahun dan tidak akan terjadi sebuah rasa benci karena kesalah pahaman," kata Lee Ji An dengan air mata yang menetes.
"Sayangnya semua itu tidak terjadi Sayang. Karena Yuan Chuan dan adiknya sudah merencanakan untuk menjauhkan kamu dariku, tetapi beruntunglah Tuhan masih bisa mendekatkan kita sekarang, kamu hanya perlu mengingat bahwa aku sangat mencintaimu, sampai kapan pun rasa cintaku ini tidak akan pudar," ungkap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya Sayang aku pun sama, kamu hanya perlu mengingat bahwa aku pun sangat mencintaimu, tetapi tidak ada yang harus kita bahas setelah ini, maafkan aku karena aku tidak bisa bersamamu," kata Lee Ji An dengan lirih, air matanya terus keluar membasahi pipi cantiknya. Lalu Nathan pun menyeka air mata yang menetes ke pipi sang kekasih, dan dengan sigap melakukan pelukan yang begitu nyaman dan langsung mencium bibir sang kekasih dengan lembut sebagai ciuman yang terakhir.
Mereka berciuman sambil menangis, mereka saling bertukar saliva sambil meneteskan air mata. Bibir mereka masih bertautan, dan air mata yang mereka keluarkan masih saja menetes. Ciuman itu terasa begitu menyakitkan untuk keduanya, karena mereka harus segera berpisah dan harus menutup semua kisahnya di Indonesia, dan menganggap semuanya adalah bayangan semu semata.
__ADS_1