Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Dilema


__ADS_3

"Setelah mendengar semua informasi tentang apa yang diberitahukan oleh sekretaris Chen, Lee entah bisa datang ke sana atau tidak. sebenarnya dia ingin sekali datang dan membawa putranya untuk melihat keadaan ayahnya.


Tetapi di sisi lain keluarganya pasti akan melarang dia untuk pergi ke Cina.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa sebenarnya yang terjadi dengan Nathan, apa dia baik-baik saja, kenapa dia bisa sakit. Apakah tekanan darahnya kembali turun, dasar pria penyakitan bikin cemas aja, tapi memang semenjak kecelakaan itu kondisinya menjadi sangat lemah, aku hafal betul dengan kondisi kesehatannya. Apakah aku harus meminta izin kepada kakak untuk melihat kondisi Nathan di Cina, Ya Tuhan bingung sekali rasanya semuanya serba membingungkan," lirih Lee Ji An di dasar hatinya sambil terus mencorat-coret kertas yang ada di hadapannya.


"Apa yang terjadi Dokter? Kenapa terlihat begitu cemas," tanya Suster Ino kepada Lee Ji An.


"Suster Ino, kalau aku cuti lagi, kira-kira di izinkan tidak, ya?" tanya Lee Ji An kepada Susternya.


"Sepertinya bisa Dok, tinggal menghadap saja ke atas. Memangnya Dokter mau kemana?" tanya suster Ino dengan kening yang mengerut.


Sesaat Lee tersenyum sambil menatap Susternya. Sebenarnya dia ingin sekali menceritakan tentang kondisi Nathan, tetapi sebaiknya dia diam saja, karena Suster Ino itu orang luar orang luar, tidak patut untuk mendengarkan semua tentang kehidupan pribadinya.


"Tidak apa-apa Suster Ino, aku baik-baik saja, cuman memang ada keperluan yang mendadak, kerabatku di Cina sekarang sedang dirawat di Rumah Sakit. Rasanya aku sangat ingin menjenguknya kesana, tetapi mungkin membutuhkan waktu lebih dari 2 hari. Karena perjalanan dari Jepang ke Cina juga memakan waktu yang lama," kata Dokter Lee pada Suster Ino.


"Tidak apa-apa, sebaiknya anda mengambil cuti saja selama tiga hari, jadi anda bisa menghabiskan waktu di sana, satu hari penuh. Itu sih daran saya Dokter," kata Suster Ino sambil menolehkan senyum yang manis kepada Dokter kesayangannya.


"Iya terima kasih atas sarannya. Saya akan mempertimbangkannya mengambil cuti berangkat atau tidak," ungkap Lee Ji An sambil menolehkan senyum, wanita itu kembali berpikir dia terdiam memikirkan bagaimana caranya dia akan pergi ke sana, sedangkan pasti kedua orangtuanya akan sangat melarang Lee Ji An untuk berangkat ke Cina.


Apalagi Sehun. Bagaimana kalau Sehun sampai tahu Lee Hi An berangkat ke Cina hanya untuk menemui Nathan, itu pasti akan membuat Sehun sangat marah kepadanya.

__ADS_1


"Benar sekali, Sehun pasti akan marah kepadaku, jika aku pergi tanpa izin kepadanya. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku diam di sini pun tidak tenang, sementara Nathan di sana sakit. Nathan pasti sangat merindukan Ryu Jin, kehadiran Ryu Jin pasti akan membuat Nathan cepat sembuh, tapi apa yang aku katakan kepada ibu dan kakakku. Apakah mereka akan mengijinkan aku berangkat ke sana. Jika aku meminta izin kepada Sehun. Apakah Sehun akan memberikan izin juga? Sungguh sangat membingungkan, rasanya kepalaku mau pecah memikirkan hal ini." Wanita itu terdiam tetapi hatinya terus berbicara.


Keresahan yang dia rasakan saat ini adalah karena Nathan, kecemasan yang dirasakan saat ini juga karena Nathan. Dia takut sekali terjadi sesuatu hal yang diluar kendalinya. Dia juga berpikir andai dia sakit dan di rawat, pastilah dia akan senang jika putranya menjenguk dia. Begitu pula dengan Nathan. Pria itu pasti akan senang melihat buah hatinya. Tapi semua itu mungkin hanya ada dalam angannya saja. Karena untuk mendapat izin kesana sungguh akan sulit.


"Dokter ayo kita makan siang, dari tadi anda  melamun terus, dari pada anda terlihat galau seperti itu, sebaiknya ayo bergabung dengan yang lain. Setidaknya di sana kita bisa makan dengan puas," kata Suster Ino kepada Lee Ji An.


"Suster Ino beberapa hari ini pencernaanku kurang baik, mungkin asam lambung meningkat aku tidak bisa makan apa pun selain buah-buahan,"! ungkapan Lee Ji An sambil menatap kearah Susternya.


"Kasihan sekali Dokter. Apakah mau saya belikan buah Dokter buah-buahan, apa?" tanya sekarang Suster Ino sambil menolehkan senyumnya.


"Apa ya? Kurasa aku bisa makan apel yang sedikit segar, dengan sedikit masam-masamnya, atau belikan aku buah nanas," kata Lee sambil tersenyum manis.


"Sudah kalau kamu tidak mau memberikan, berikan aku buah apel saja, tapi yang sedikit asam," kata Lee Ji An sambil beranjak pergi meninggalkan Susternya.


"Oke baiklah." Suster Ino lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Lee Ji An sendiri langsung mengambil beberapa berkas yang harus dia pelajari.


Saat itu pikirannya tidak tenang, dia tidak bisa mengerjakan apa pun, karena Nathan sudah mengisi pikirannya sampai membuat dia merasa tidak ada tempat untuk hal lain.


Kecemasan dan kegelisahan yang dirasakan saat ini benar-benar menyiksanya. Rasanya wanita itu tidak tahan dengan dilema dan yang dirasakan.


"Ya Tuhan aku harus apa, aku tidak fokus dengan pekerjaanku, aku tidak boleh memeriksa pasien dengan kondisi yang seperti ini," kata wanita itu langsung beranjak dari posisi duduknya, dia berjalan ke kiri balik lagi ke kanan, dan dia benar-benar seperti setrikaan saja mondar-mandir tidak tentu arah.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba saja ada suara ponsel berdering. Wanita itu dengan segera melihat kearah ponselnya, ternyata yang melakukan panggilan telepon itu adalah Sekretaris Chen.


"Halo Sekretaris Chen, ada apa lagi?" tanya Lee Ji An kepada Sekretarisnya Nathan di balik telepon.


"Nyonya bagaimana, apakah sudah ada keputusan. Anda mau berangkat ke Cina atau tidak?" tanya sekretaris Chen pada Lee Ji An.


"Entahlah Sekertaris Chen, aku masih bingung," kata Lee Ji An dengan suara yang rendah.


"Saya harap anda bisa cepat mengambil keputusan, karena Tuan saya sama sekali tidak bisa makan," kata Sekertaris Chen dengan kecemasannya.


"Apa? Nathan tidak bisa makan?" Lee berkata dengan suara yang lantang, karena merasa sangat cemas.


"Benar sekali nyonya, tuan Nathan bahkan tidak bisa masuk apapun baik makanan atau minuman, nenek Liao sudah berusaha untuk membujuknya, tetapi tetap saja, Dokter sudah memberikan beberapa obat tetapi masih belum ada hasilnya. Saya berharap anda bisa datang membawa putra anda ke sini, tuan muda dirawat di sebuah Rumah Sakit di Beijing," kata Sekertaris Chen.


"Rumah Sakit apa itu?" tanya Lee dengan kecemasannya.


"Rumah Sakit Century Internasional," kata Sekertaris Chen,


"Oh begitu ya, tapi Maaf saya belum bisa memutuskan bisa berangkat atau tidak," kata Lee Ji An dengan suara yang rendah.


"Saya harap anda bisa datang, karena kedatangan anda sangat berarti untuk kesembuhan tuan saya," kata Sekertaris Chen dengan penuh harap. Dan Lee Ji An hanya bisa mengehela napas dengan dalam.

__ADS_1


__ADS_2