
Indonesia.
Setelah sarapan Lee Ji An dan buah hatinya bergegas berangkat ke bandara untuk segera naik pesawat yang mengantarkannya ke Indonesia. Di perjalanan terlihat baby Ryu Jin tertidur dengan sangat pulas, Lee Ji An hanya bisa menatap putranya, dengan tatapan iba karena sampai detik ini ternyata anaknya belum bisa mengenal ayahnya sendiri.
"Kasihan kamu Nak, kamu kekurangan kasih sayang dari ayahmu, ayah kandungmu, tetapi beruntunglah kamu memiliki ayah angkat yang sebaik kakakku," ungkap Lee Ji An sambil membelai lembut balita yang ada di sampingnya, yang kini tertidur pulas tanpa mengingat apapun.
Lee Ji An terus membelai lembut tubuh sang buah hati, menatap wajah jagoannya yang tertidur dengan pulas dengan wajah yang tanpa dosa.
"Kamu benar-benar tampan Sayang, kamu sangat mirip dengan ayahmu, pantas saja ayahmu langsung mengenalimu, benar kamu adalah copy paste dari dia, karena itu ayahmu tidak akan salah mengenali," kata Lee Ji An dengan perasaan yang sendu, karena terkadang dirinya merindukan Nathan, setelah mengetahui kebenaran bahwa ternyata Nathan tidak menjagahati dia, tidak meninggalkan dia, tetapi sebuah musibah telah mendera keluarga mereka, dan menjadikan sebuah kesalah pahaman diantara kedua keluarga.
Telah lama dia membayangkan wajah Nathan dan melihat ke arah wajah buah hatinya, tanpa terasa dia sudah sampai di Bandara Indonesia. Bandara Soekarno Hatta. Wanita itu pun dengan segera membangunkan buah hatinya dengan perlahan, karena dia tidak mungkin menggendong buah hatinya dengan bawaan koper yang sebesar itu.
"Ayo Sayang bangun, kita sudah sampai apa kepalamu pusing Ryu? Apa ibu perlu menggendongmu?" ungkap Lee Ji An kepada baby Ryu Jin.
"Tidak Ibu, aku hanya lemas saja," jawab baby Ryu Jin perlahan.
"Ya sudah kita turun dari pesawat lalu kita mencari toilet, di sana kita mencuci mukamu Nak. Setelah itu kita makan, mau makan apa hari ini, apa Ryu lapar?" tanya Lee kepada sang putra.
"Iya Ibu Ryu sangat lapar. Ibu Lapar juga tidak, Ryu ingin mencoba makanan Indonesia," ungkap balita tersebut dengan sumringah.
"Tentu saja Ibu juga sangat lapar, ayo kita turun," kata Lee Ji An sambil menggandeng buah hatinya, lalu mereka pun turun dari pesawat, setelah sampai di Bandara mereka memutuskan untuk mencari resto di sekitar bandara, dan akhirnya mereka bisa menyantap makanan khas Indonesia, Ryu sangat senang walaupun lidahnya tidak bisa menyesuaikan. Tetapi dia mencoba semua makanan yang dipesan, mumpung berada di Indonesia semua makanan dia pesan.
__ADS_1
"Sayang, kita akan mencari hotel di sekitar di sini saja. Setelah itu kita akan langsung menyewa sebuah mobil, untuk berangkat ke pemakaman. Bagaimana menurutmu, Nak?" ungkap sang ibu kepada putranya.
"Tidak boleh. Ibu tidak boleh mengemudi. Aku ingin tidur di dekat ibu, biar supir saja yang mengemudi," kata Ryu Jin merengek pada sang ibu.
"Oh ya Tuhan, manja sekali. Oke baiklah Ibu tidak akan menyewa sebuah mobil, tetapi kita akan naik taksi saja, tapi ayo kita ke hotel untuk menyimpan semua barang-barang," kata Lee Ji An kepada buah hatinya tercinta.
"Baiklah Ibu baik-baik," balita itu sangat bahagia, dia akan segera berjumpa dengan kembarannya.
Setelah check in di hotel yang dekat dengan bandara akhirnya Ia memutuskan untuk segera berangkat ke pemakaman, dia Ingin secepatnya bertemu dengan buah hatinya, yang telah tiada. Tidak lupa wanita tersebut membawa beberapa bunga untuk taburan diatas makam.
Di perjalanan hatinya begitu gelisah, tidak percaya bahwa ini adalah kali pertama dia menjenguk putrinya. Dari lahir Lee Ji An melupakan bahwa Lee Ji Nan itu ada. Cara mengatasi sakit yang dirasakannya, kehilangan membuat ia enggan untuk pergi ke pemakaman.
Setelah sampai di pemakaman, Lee Ji An langsung menuju ke makam putrinya dan ternyata di sana sudah ada seseorang yang sedang menangis di depan makam tersebut.
"Nathan," ungkap Lee Ji An dengan suara yang rendah, Nathan yang kini sedang menangis di depan pusara buah hatinya, terkejutkan ada seseorang yang memanggil namanya yang ternyata itu adalah orang yang sangat dia cintai.
"Lee, Ryu?" Pria itu langsung menyeka air matanya, dia tidak percaya bisa bertemu dengan anak dan istrinya di sana. Makam buah hatinya seolah-olah sengaja untuk mempertemukan kedua orang tuanya.
"Paman sedang apa? Paman menangis di depan makam adikku?" tanya baby Ryu Jin sambil menghampiri Nathan, dengan penuh kecurigaan, anak itu super waspada kepada Nathan.
"Sayang, ini Ayah," ungkap Nathan dengan suara perlahan sambil membelai baby Ryu Jin dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Ryu Jin menetap Lee Ji An dengan tanda tanya, lalu Lee Ji An pun tersenyum dan mengangguk.
"Ayah ya, jadi aku memiliki tiga Ayah," kata Ryu Jin dengan rasa heran. Karena orang lain hanya memiliki satu ayah, sedangkan dirinya memiliki tiga ayah.
Nathan tersenyum manis tatkala mendengar buah hatinya ternyata memiliki 3 orang ayah.
"Tapi Ayah adalah Ayahmu yang sudah membuat kamu ada di dunia ini, Ayah adalah Ayah kandungmu, Sayang," ungkap Nathan sambil memeluk buah hatinya. Lee Ji An kini hanya bisa memandang saja, karena Lee Ji An tidak boleh membiarkan Ryu Jin membenci Nathan, karena sekarang dia sudah mengetahui kebenarannya, bahwa Nathan tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa Ayah tidak pernah ada, kalau memang kamu adalah ayahmu?" ungkap Ryu Jin dengan kening yang mengerut.
"Karena Ayah sakit, Ayah baru sembuh dan itu pun belum bisa sembuh sepenuhnya, tapi setidaknya kini Ayah bisa melihat Ryu dan Ibu Lee, Ayah akan sembuh dengan secepat kilat," ungkap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca, Pria itu begitu bahagia, tatkala kini bisa memeluk buah hatinya tercinta, Lee tahu apa Nathan rasakan saat ini, pasti sedang merasakan kebahagiaan.
"Ayah datang ke sini. Apakah Ayah tinggal di sini?" tanya baby Ryu Jin kepada ayahnya.
"Tidak, Sayang. Ayah hanya ingin datang saja ke sini, karena sudah lama Ayah tidak menjenguk adikmu. Lihatlah Ji Nan sendirian di sini, dulu ayah sendiri yang menidurkan adikmu di tanah yang dingin ini, sekarang Ayah menjenguknya kembali, sudah lama tidak datang kemari," ungkap Nathan sambil menunjuk ke arah pusara buah hatinya, menatap pusara bayinya dengan mata yang berkaca-kaca.
Lee Ji An menghampiri Nathan dan buah hatinya. Ia lalu duduk di samping pusara anaknya.
"Nak ibu datang setelah 5 tahun. Ibu melupakanmu. Tolong maafkanlah ibu," kata Lee Ji An dengan suara yang bergetar menahan tangis, wanita itu tak kuasa melihat makam buah hatinya.
Tanpa terasa air matanya pun menetes pula, dia sangat sedih harus kehilangan buah hatinya secepat itu, dengan perjuangan persalinan dahulu yang sangat sangat extra.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu datang ke sini untuk menjenguk kamu Lee Ji Nan. Lihatlah sekarang Ayah dan Ibu bersama Oppa-mu ada di sini, semoga kamu senang," ucap Lee Ji An kepada buah hatinya yang kini sudah terbaring di dalam pusarannya.
Nathan lalu menatap kearah Lee Ji An yang sedang menangis, sedang kan Lee hanya terfokus menatap ke batu nisan. Ryu Jin sendiri hanya bisa menatap batu nisan itu dengan tatapan yang begitu sedih, karena dia tidak bisa memeluk saudaranya. Pertemuan Nathan dan Lee di sana seperti sebuah takdir saja, karena memang mereka tidak janjian sama sekali. Tapi bahkan Tuhan yang menuntun mereka untuk datang ke pemakaman itu, hingga mereka bertemu di sana. Apa mungkin Tuhan mempunyai rencana lain untuk mereka berdua?