
"Sayang, gimana sudah selesai makannya?" tanya Nathan kepada buah hatinya.
"Sudah Ayah, tetapi Ayah dan Ibu kenapa tidak makan?" Anak itu bertanya dengan mulut yang manyun.
"Sayang, tadi Ayah mau mandi tetapi tidak jadi, terus Ayah mau turun tetapi malah Ryu keburu datang," kata Nathan sambil memeluk buah hatinya.
"Ayah ayo makan dulu, masakan Ibu enak Ayah, Ayah harus coba," kata Ryu Jin dengan senyuman polosnya.
"Iya nanti Ayah akan makan," ucap Nathan menatap Ryu Jin dengan penuh kasih sayang.
"Kamu anaku, kamu putraku, takkan aku biarkan kamu memanggil orang lain dengan sebutan Ayah," kata Nathan di dasar hatinya.
"Tangan Ayah kenapa dibungkus kain putih?" Anak itu terus memperhatikan tangan ayahnya yang dibungkus oleh perban.
"Tidak apa-apa jangan khawatirkan, Ayah baik-baik saja tidak usah khawatir soal itu ya," kata Nathan kepada putranya, Lee Ji An keluar dari kamar meninggalkan Nathan dan Ryu Jin berdua, setelah itu dia balik lagi ke kamar, ternyata dia membawakan beberapa makanan untuk Nathan sarapan.
"Ayah belum sarapan. Ayo Ayah, Ibu suapin dulu, Ayah harus sarapan, biar cepet sembuh tangannya," kata Lee Ji An sambil menyodorkan sendok ke depan mulut Nathan.
Matanya menatap Lee dengan tajam, ia masih merasa kesal kepada wanitanya, karena dia malah menelepon di tengah-tengah pergelutan mereka yang sengit. Pria mana yang tidak kesal ketika pekerjaan mereka belum tuntas, perempuannya malah asyik bercanda dengan pria lain.
"Ayah harus banyak makan, apa tangan Ayah sakit," ungkap Ryu Jin kepada sang ayah.
"Sedikit saja, ya sudah kalau memang Ryu yang memerintahkan Ayah untuk makan, Ayah akan makan," kata Nathan sambil menolehkan senyum yang manis, pria itu memang kesal kepada Ibu dari anaknya, tetapi dia tidak kesal kepada putra kesayangannya, karena Ryu Jin adalah hal yang paling berharga di dunia ini untuk Nathan dan keluarga Liao.
"Ayo Ayah biar ibu suapin, Ayah harus makan," ungkap Lee Ji An. Sambil mencoba menyuapi Nathan makan, lalu Nathan pun membuka mulutnya dan mencoba untuk memakan suapan makanan tersebut.
__ADS_1
Sampai akhirnya Nathan menghabiskan semua sarapan tersebut dan membuat Lee Ji An dan Ryu Jin begitu senang.
"Ayah, Ryu ingin main games," kata Ryu Jin dengan tatapan yang polos.
"Benarkah, tapi Ayah tidak punya permainan games itu. Tunggu sebentar biar Ayah suruh pelayan untuk membelikannya," kata Nathan lalu menelepon penjaga rumah untuk membelikan PlayStation untuk Ryu Jin.
"Terima kasih banyak Ayah. Ayah Ryu mau ke bawah ya, mau main ikan di kolam," ungkap Ryu Jin dengan senyuman yang manis.
"Boleh main ikan tetapi tetap harus diawasi oleh pelayan-pelayan," ucap Nathan sambil menoleh kepada wanitanya.
"Iya akan Ibu suruh maid untuk menjaganya, Ayo Sayang, kita ke bawah," kata Lee Ji An sambil menggendong buah hatinya sebenarnya, Ryu Jin sudah 5 tahun, tetapi anak itu masih saja suka digendong.
Setelah di Lee Ji An dan Ryu Jin keluar dari kamar Nathan. Nathan hanya bisa terdiam dengan kekesalan yang masih dirasakan. Bagaimana caranya supaya Lee Ji An tidak lagi menerima panggilan telepon dari Sehun selama tiga hari ini.
Sesaat kemudian Lee Ji An pun masuk ke dalam kamar, tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya karena ingin membujuk Nathan supaya Nathan tidak marah lagi kepadanya.
"Sudahlah tidak usah dibahas aku terlanjur kesal," ungkap Nathan sambil membuang wajahnya, dan itu membuat Lee begitu sedih, dia merasa bersalah pada Nathsn, karena sudah membuat Nathan terluka seperti ini.
Tiba-tiba saja Lee Ji An melepas semua pakaian yang dia kenakan.
"Yakin tidak mau melihat ibu?" kata Lee Ji An sambil mencoba melepaskan bathrobe milik Nathan. Wanita itu layaknya wanita penggoda yang menggoda kekasihnya untuk bercinta dengan dia.
Nathan terdiam ketika kini telah berhasil melepaskan bathrobe dan handuk yang dililitkan tadi. Wanita itu kini mulai memainkan pusaka milik Kekasihnya dengan kedua tangannya.
"Apa wanita ini mulai menggodaku, apa dia benar-benar ingin meminta maaf padaku, dia merayuku seperti ini membuat aku tidak tahan," kata Nathan sambil melihat Lee Ji An dengan tajam dan merasakan tangan yang diberikan oleh Lee Ji An.
__ADS_1
"Emmhh Lee," kata Nathan mencoba memejamkan matanya, ketika wanita itu berhasil menggerakkan tangannya denan cepat..
"Maafkan Ibu Ayah, Ibu kan berjanji akan membuat Ayah bangun kembali, ibu akan menyenangkan Ayah, maafkan Ibu telah membuat Ayah terluka," lirih Lee Ji An sengaja menyebut Nathan dengan sebutan Ayah agar Nathan bisa tergugah dan bisa memaafkannya.
Pria itu masih terdiam sambil memejamkan matanya, mencoba menetralisir semua perasaan yang dirasa, sebuah kenikmatan yang bercampur dengan rasa marah.
Wanita itu menghentikan aktivitasnya dia melepaskan genggaman tangannya, lalu dengan perlahan melakukan sebuah sentuhan lembut pada pusaka itu dengan bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan euuh," kata Nathan saat melihat miliknya sudah terbenam dan di mainkan oleh Lee Ji An seperti sebuah permen lollipop.
Lee Ji An tidak menggubris pertanyaan Nathan, wanita itu hanya fokus dan hanya ingin membuat Nathan senang, dia menyesal telah membuat Nathan terluka, karena itu dia berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan pria yang ada di hadapannya.
"Emhh ... Ah Lee, ah Sayang, cukup." Nathan terlihat tidak tahan, karena dia hampir saja meledak, tetapi dia tidak mau membuat mulut Lee kotor dengan cairan miliknya.
Namun Lee Ji An masih anteng. Dia tau Nathan semakin tidak tahan. Tetapi Lee tidak perduli, Lee ingin Nathan merasa puas dan tidak kecewa lagi, cukup sudah Nathan terluka karena kesal oleh tingkahnya, karena itulah sebagai seorang wanita yang sudah mengecewakan prianya, Lee berusaha seperti seorang jalangg yang menggoda serta merayu pria di hadapannya.
"Sudah Lee Sayang, ah Ibu, sudah Bu, nanti Ayah tidak tahan dan membuat ibu kotor," ungkap Nathan sambil memejamkan matanya dan sesaat melihat tingkah Lee Ji An yang semakin menjadi.
Wanita itu malah semakin asyik ketika melihat Nathan terus meracaw.
Keringat sudah bercucur, dan Nathan hampir saja seperti gunung merapi yang mau meletus, tetapi sekuat tenaga Nathan tahan, ia takut Lee Ji An jijik dengan cairan lengket yang akan dia lepaskan. Karena itu sebisa mungkin Nathan tidak melepaskan tembakan.
"Wanita ini bisa liar seperti ini, ah aku sudah tidak tahan lagi," ungkap Nathan di dalam hatinya. Sambil mentap Lee Ji An dengan tatapan penuh cinta. Sebenarnya Nathan sangat senang Lee bertindak seperti ini, dan dia sudah tidak kesal lagi. Lee Ji An berhasil membuat Nathan sembuh dari amarahnya.
🎄🎄🎄
__ADS_1
Emhh tunggu satu chapter lagi ya sahabat Nathan dan Lee. Jangan lupa like dan komen ya.