
"Apakah mau makan siang dulu di rumah atau mau pulang langsung ke apartemen?" tanya nenek Liao kepada Lee Ji An.
"Sebaiknya aku langsung pulang saja ke apartemen, karena payudaraku sudah tidak nyaman, air susunya sudah mulai mengeras, rasanya sangat sakit sepertinya, baby Ryu hari ini sebelum menyusu padaku," kata Lee Ji An kepada sang nenek.
"Baiklah kalau seperti itu, jadi pak supir antarkan dulu saya pulang ke mansion lalu langsung pak supir mengantarkan Lee ke apartement Lee, sembari menjemput Nathan ya," nenek Liao tersenyum manis.
"Baiklah nyonya besar," ungkap Sopir tersebut dengan menorehkan senyum yang manis pada majikannya.
"Terima kasih banyak ya Nenek, hari ini sungguh sangat menyenangkan, nenek sudah membelikan aku banyak sekali perhiasan, bahkan sangat banyak, sampai aku kebingungan aku harus memakainya kapan?" Lee Ji An terkekeh karena memang pada kenyataannya perhiasan sebanyak itu tidak bisa di gunakan setiap hari, Lee memang tidak senang mengenakan perhiasan, hanya ke tempat-tempat tertentu saja seperti sebuah pesta atau acara-acara lainnya, baru dia menggunakan perhiasan.
"Tidak apa-apa Lee, seorang wanita harus memiliki banyak perhiasan, terkadang perhiasan adalah cerminan dari indahnya dan cantiknya seorang perempuan, karena perempuan sendiri adalah perhiasan untuk suaminya, Kelak kamu akan menjadi istri Nathan akan menjadi keluarga Liao, kamu harus mengerti bahwa keluarga kami sangat menyayangimu, kamu kalau menginginkan sesuatu jangan sungkan, perhiasan yang seperti ini tidak ada bandingannya dengan apa yang kamu miliki," kata nenek Liao kepada Lee Ji An.
"Terima kasih banyak Nenek. Nenek memang selalu jadi yang terbaik, selalu menjadi Nenek yang terhebat. Aku hanya bisa berterima kasih seperti ini saja, tidak bisa memberikan apapun kepada Nenek," Lee Ji An tersenyum manis ke arah Nenek Liao.
"Berikan saja, aku ingin kamu melahirkan bayi yang banyak, seperti kata-katamu tadi kamu akan memberikan aku banyak bayi dan itu harus kamu kabulkan," nenek Liao tersenyum dengan penuh harap agar Lee Ji An benar-benar memberikan banyak cucu dan cicit kepadanya.
"Tentu saja akan memberikan bayi-bayi yang lucu untuk memenuhi rumah kami nek, tetapi harus bersabar agar aku cepat pulih," ungkap Lee Ji An kepada sang nenek.
"Iya cucuku, sekarang sudah hari ke 26 ya, ternyata masih lama menuju ke 40 hari 40 hari adalah masa nifas, karena memang seharusnya tidak boleh kecapean, nenek lupa akan hal ini, lupa bahwa kamu memang masih dalam masa penyembuhan," kata sang nenek sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nenek, aku akan segera pulih, malah aku akan sangat bosan jika terus diam diri di rumah, Lee sangat senang, Nenek bisa mengajak jalan seperti ini, apalagi memberikan lebih banyak sekali perhiasan. Terima kasih ya Nenek," kata Lee sambil memeluk sang nenek, tanpa terasa akhirnya mereka pun sudah sampai di mansion milik keluarga Liao.
"Kalau kamu sudah sampai apartemen maka Nathan harus cepat pulang ya. Ada banyak hal yang harus dibahas bersamanya, termasuk soal pernikahan kalian, harus membahas semuanya secara detail dan terperinci, karena ini adalah pernikahan pertama di keluarga Liao, setelah sekian lama, jadi memang harus dipersiapkan dengan sangat matang," katanya Nenek Liao kepada calon cucu menantunya.
"Baiklah nek, Lee akan mengatakan kepada Nathan, agar dia segera pulang, kalau begitu Lee pamit dulu," ungkap Lee dengan sambil menolehkan senyum yang manis, begitu pula sang nenek, akhirnya ia meninggalkan nenek.
Beberapa saat kemudian akhirnya Lee Ji An sudah sampai di apartemen miliknya, ternyata rumah teramat sepi, entah kemana Nathan dan bayinya. Lee benar-benar kebingungan apa yang terjadi kenapa tidak ada Nathan di ruang tamu, Lee mencoba untuk menyimpan tas ke dalam kamarnya ternyata Nathan sedang tertidur di samping buah hatinya, mereka sangat mirip bahkan posisi tidur mereka pun sama.
Wanita itu begitu takjub dan posisi tidur yang sama seperti itu, akhirnya Lee mengambil ponselnya kembali dan memotret posisi Nathan dan baby Ryu.
"Ya ampun kalian tidur seperti ini, sungguh sangat menggemaskan, bagai pinang dibelah dua, tidak yang besar atau yang kecil kalian benar-benar membuat hatiku bergetar," kata Lee Ji An di dalam hatinya, sambil terus memotret posisi Nathan dan baby Ryu sedang tertidur dengan lelap.
Setelah Lee mengganti pakaiannya dia pun langsung tidur di samping Nathan, sehingga Nathan gini bisa merasakan seseorang telah memeluk tubuhnya.
"Sayang udah pulang," kata pria itu dengan suara seraknya suara khas bangun tidur.
"Iya sayang, aku lihat kalian begitu nyenyak tidur berdua seperti ini, jadi aku tidak mau mengganggu aktivitas kalian," kata Lee kepada Nathan.
"Aktivitas macam apa, tidak ada aktivitas sama sekali baik." Nathan mencubit hidung kekasihnya dengan gemas, dan Lee Ji an pun hanya bisa tersenyum manis.
__ADS_1
"Tentu saja aktivitas beristirahat, mengistirahatkan seluruh organ tubuh apakah aku salah, ya sayang?" kata Lee terkekeh, lalu Nathan pun ikut tertawa mereka begitu senang bisa berada di satu kamar bertiga.
"Kamu tuh lucu sekali, membuat orang tertawa sayang. Buah hati kita lucu sekali, kenapa bisa semua wajahnya sama denganku. Aku tidak menyangka di dunia ini ada orang yang sangat mirip denganku selain ayahku," kata Nathan sambil menatap kearah baby Ryu Jin yang sedang terlelap dengan kemanjaannya.
"Apalagi yang harus aku lakukan, selain menghibur kamu sayang. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik lebih dari pada ini," ungkapan Lee kepada Nathan.
"Aku sudah tidak sabar Sayang, menantikan hari pernikahan kita, dimana kita akan segera bersatu dalam ikatan rumah tangga," ucap Nathan sambil mencoba memeluk tubuh Lee Ji An.
"Iya Sayang. Kalau bahas soal pernikahan, sebaiknya kamu cepat pulang, karena nenek tadi menyarankan padaku untuk segera menyuruh kamu pulang, karena ingin membahas soal pernikahan kita," ucap Lee dengan senyuman manisnya
"Benarkah tapi aku masih ingin di sini, gimana dong," ungkap Nathan dengan suara yang pelan.
"Pulang saja Sayang, kan yang akan di bahas pernikahan kita, jadi harus segera pulang agar bisa membicarakan pernikahan dengan nenek agar kita segera menikah," kata Lee membujuk Nathan.
"Baiklah kalau begitu, ya sudah," kata Nathan sambil beranjak bangun, lalu dia pun segera mencuci mukanya dan mempersiapkan diri untuk pulang.
"Hati-hati di jalan," kata sang kekasih sambil menolehkan senyumannya.
"Iya Sayang. Aku pergi dulu ya, sampai jumpa besok," Nathan lalu mengecup kening Lee dengan lembut, Lee hanya bisa memejamkan matanya, merasakan kelembutan kecupan yang diberikan oleh Nathan. Dan Nathan segera pulang dan pergi meninggalkan Lee Ji An dan bayinya.
__ADS_1
🎄B🎄e🎄r🎄s🎄a🎄m🎄b🎄u🎄n🎄g