
Lee Ji An dan Sehun masuk ke dalam rumah. Ternyata semua sedang tertawa bahagia. Entah apa yang sedang para tetua bicarakan sehingga terlihat begitu bahagia.
"Ada apa ini, sepertinya sangat menyenangkan?" tanya sehun dengan menorehkan senyum yang manis kepada seluruh keluarga.
"Sehun, Lee, sini duduk sebentar, Nak," ucap kakek dengan senyumannya.
"Baiklah," kata Sehun.
"Kakek, aku kurang enak badan," kata Lee Ji An.
"Duduklah sebentar saja Lee, ada informasi penting tentang pernikahan kalian berdua," ucap kakek dengan senyum yang mekar
Mau tidak mau Lee Ji An harus menuruti sang kakek. Wanita itu pun duduk di samping sehun. Dan semua orang sudah menatap Lee dan Sehun.
"Ada apa ini, aku seolah jadi bahan tontonan?" Sehun menorehkan senyum yang manis kepada semua orang. Sedangkan Lee Ji An sendiri hanya bisa tersenyum dengan terpaksa, karena benar-benar wanita itu merasa malas dan lemas.
"Begini, kami sangat bahagia, karena kalian berdua sudah bertunangan, dan karena seluruh keluarga sudah berkumpul, kami sudah mendiskusikan soal pernikahan kalian, kalian akan segera kami nikahkan, karena kami sudah tidak sabar menunggu cicit," kata Halaboeji kepada sehun dan Lee Ji An dengan senyuman penuh kebahagiaan.
"Emhh ... jadi ?" Lee Ji An sedikit mengerutkan dahinya. Berhubungan dengan pernikahan, Lee Ji An merasa sangat tidak bahagia. Tubuhnya memang sudah berkumpul di ruangan ini bersama dengan keluarga. Namun hati dan pikiran Lee sedang melayang kembali ke Indonesia. Dimana Lee di sana sedang bersama dengan Nathan.
Benar, Nathanlah yang kini sedang ada dalam pikiran Lee Ji An. Wanita itu beneran falling in love dengan pria yang sudah menyentuhnya selama di Indonesia. Serta menyisakan sebuah rasa dan ada yang masih mengisi hati dan jiwanya.
"Ah, aku sangat penasaran Halaboeji," kata Sehun dengan senyuman yang berbinar.
__ADS_1
"Begini, setelah kami berbicara tadi, Ryu Jin juga harus cepat memiliki ayah dan keluarga sendiri, serta ibu Sehun yang sudah sangat ingin memiliki cucu, maka kami sudah putuskan, bahwa pernikahan sehun dan Lee akan di laksanakan dua bulan dari sekarang," ucap kakek dengan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan.
Seluruh keluarga terlihat sangat bahagia. Tetapi tidak dengan Lee Ji An. Wanita itu malah terkejut, kenapa bisa secepat itu pernikahan di putuskan. Dia bahkan belum siap sama sekali.
"Kakek." Lee Ji An benar-benar merasa terkejut.
"Ya Tuhan, aku sangat bahagia, terimakasih banyak kakek," ucap Sehun dengan senyum bahagia. Pria itu sudah tidak sabar ingin meresmikan hubungan mereka. Karena Sehun sungguh mencintai Lee Ji An dengan sepenuh hati.
Pria itu jatuh cinta jauh sebelum Lee bertemu dengan Nathan. Sayangnya ketika Lee bertemu Nathan, maka saat itu hati Lee seolah terikat dengan pria yang bernama Nathan tersebut. Karena walau sudah terjadi kesalah pahaman selama lima tahun lamanya, Lee dan Nathan masih saling mencintai satu sama lain.
"Ini karena kami ingin kalian berdua bahagia," kata nyonya Lee kepada Sehun.
"Lee, Ibu ingin kamu melahirkan banyak anak untuk keluarga Sehun, Sehun adalah anak tunggal, karena itulah rumah terasa sangat sepi, jika kelak kalian sudah menikah, maka Ibu ingin rumah di penuhi oleh tangis dan tawa anak-anak kalian Sayang," kata ibu Sehun sambil menggenggam tangan calon menantunya yang sangat cantik.
Wanita itu merasa jantungnya berdegup begitu kencang. Dia belum siap untuk menikah secepat itu. Tidak bisa dia pun untuk menolak semua keinginan keluarga untuk mempercepat pernikahan. Karena dia takut jika ucapannya bisa menyinggung orang yang ada di ruangan ini.
Dia merasa sangat serba salah. Dan kini hatinya harus berusaha untuk melupakan Nathan secepatnya. Karena dia pun harus hidup bahagia. Tidak boleh terus membayangkan pria yang bahkan bukan siapa-siapanya.
"Semoga saja aku sehat ya Bu. Sehingga bisa memberikan keturunan yang banyak untuk keluarga," kata Sehun dengan senyum yang bahagia.
"Tentu saja, doa Ibu akan selalu menyertaimu, Nak," kata nyonya Lee.
Sesaat Kim Mi So memperhatikan Lee dengan sangat jeli. Wanita itu tau bahwa adik iparnya tidak bahagia, dengan rencana pernikahan ini, tetapi Kim Mi So sendiri tidak bisa membantu sama sekali. Dia hanya bisa diam dan menjadi penonton saja. Walau sebenarnya dia kasihan melihat Lee Ji An yang seolah kesusahan untuk menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Lee kamu sakit apa?" tanya kakek sambil menatap cucu kesayangannya.
"Aku hanya kecapean kakek, istrirahat sebentar juga pasti akan sembuh," ungkap Lee Ji An sambil menorehkan senyum yang manis pada kakeknya.
"Sayang, kalo begitu cepat istrirahat saja, jangan sampai sakitmu keterusan, kamu sih terlalu banyak merawat orang sakit, sampai diri sendiri pun tidak bisa beristirahat," kata Sehun dengan kecemasannya.
"Iya betul apa yang dikatakan oleh Sehun, ayo Lee aku antar kamu masuk ke dalam," kata Kim Mi So kepada adik iparnya.
"Baiklah, terimakasih banyak, ibu, Sehun dan semuanya, mohon maaf aku tidak bisa ikut bergabung, aku harus segera tidur, tubuhku rasanya lelah sekali, banyak sekali pasien tadi dan membuat staminaku berkurang," kata Lee sekedar untuk berpamitan.
"Baiklah Sayang, tidak apa-apa, istrirahat lah," kata calon ibu mertuanya sambil menorehkan senyum yang manis kepada calon mantunya.
"Terima kasih, Bu," ungkap Lee Ji An dengan senyuman manis.
Lalu Lee Ji An pun segera masuk ke dalam kamar di temani oleh Kim Mi So.
Sesampainya di dalam kamar Lee Ji An langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya seolah lemah tidak bertenaga dan dia hanya bisa memejamkan matanya saja.
"Tidurlah, aku yakin setelah tidur pikiranmu akan sedikit lebih tenang," kata Kim Mi So kepada sang adik ipar.
"Terima kasih Mi So, tapi sungguh aku tidak bisa berkata apa pun, kacau sekali pikiran dan hatiku, benar-benar berbeda jalur, satu sisi aku harus melihat apa dan logika di mana memang keluarga begitu mengharapkan pernikahan ini, dan aku tidak bisa menyakiti hati banyak manusia, tetapi di sisi lain hatiku sudah menjadi milik Nathan kembali. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi Mi So," ungkap Lee Ji An dengan suara yang begitu pelan. Dia hanya bisa memejamkan matanya sambil menetralisir rasa gundah di dalam dadanya.
"Maafkan aku tidak bisa membantumu. Aku hanya bisa menjadi penonton saat ini," kata Kim Mi So kepada adiknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa biar aku yang menanggung semua kegelisahan ini, jangan sampai membuatmu terganggu atau membuat orang lain ikut gelisah pula, aku yakin aku bisa mengatasi semuanya walau itu tidak mudah, " kata Lee Ji An dengan suara yang bergetar menahan tangis.