Ketika Nathan Bertemu Lee

Ketika Nathan Bertemu Lee
Ternyata


__ADS_3

Lee Ji An baru memasukkan rotinya ke dalam mulut, dia baru mengunyah sesuap roti tetapi tiba-tiba saja sudah ada kode blue lagi.


"Ya Tuhan ada acara apa lagi ini, kenapa hari ini banyak sekali terdengar kode blue," tangkas Suster Ino dengan kekesalannya, karena dia pun sudah sangat lelah.


(Code blue adalah salah satu kodegawat darurat di rumah sakit. Kode ini menandakan bahwa ada pasien yang mengalami henti jantung atau gagal napas dan perlu segera mendapatkan pertolongan.)


Lee Ji An langsung menelan roti tersebut. Ia lalu meminum air dan langsung berdiri.


"Dok sudah istirahat saja," kata suster Ino dengan kecemasannya karena melihat Lee Ji An baru saja makan sesuap roti, bahkan 1 buah roti pun belum dihabiskan benar-benar baru sesuap saja.


"Suster Ino, ada pasien yang harus kita tolong. Ayo lupakan saja soalnya perutku aku sudah menggigit roti tadi. Ayo cepat," seru dokter Lee Ji An kepada susternya.


"Tidak bisa Dokter. Anda diam saja, biar Dokter lain yang melakukannya. Kenapa anda tidak memikirkan tubuh anda sendiri."Suster Ino sepertinya begitu marah karena tindakan Lee Ji An, yang begitu gegahbah tidak bisa menyayangi tubuhnya sendiri.


"Sudahlah Suster dari pada aku duduk diam di sini mengingat kejadian yang tidak boleh aku ingat lagi, malah aku akan sedih dan akhirnya aku menangis. Bukankah sebaiknya jika aku secepatnya menangani pasien dan aku bisa melupakan tentang kesedihanku itu," tangkas Lee Ji An sambil menatap Susternya dengan tatapan yang penuh semangat.


"Ya Tuhan Dokter Lee. Anda sangat bandel. Anda harus menyayangi tubuh anda sendiri, bagaimana kalau nanti anda pingsan, setelah anda melakukan pertolongan untuk menyelamatkan pasien. Lihatlah anda begitu lemas dan pucat," tukas suster Ino kepada Dokter Lee Ji An, tetapi Lee Ji An hanya tersenyum dan langsung berlari menuju ke arah pengumuman tersebut.


"Ya ampun Dokter nakal, dikasih tahu malah pergi begitu saja, padahal aku sangat cemas dan khawatir melihat fisiknya seperti itu, begitu depresi, masih saja memikirkan nyawa orang," kata Suster Ino dengan rasa kesalnya lalu kembali mengejar Dokter Lee Ji An dengan larian kecilnya.


Sesampainya di tempat kejadian Dokter Lee membantu Dokter lainnya untuk menangani pasien tersebut, dan beberapa lama kemudian akhirnya pasien itu pun kembali bernapas.


"Aduh lega sekali rasanya bisa membantu pasien ini bernapas kembali," kata Lee Ji An dengan tatapan mata yang penuh kebahagiaan menatap kearah pasien.


"Benar sekali Dokter, aku pun sangat bahagia kita sudah berhasil menyelamatkannya," kata Dokter tersebut sambil tersenyum kearah Lee Ji An.


Tetapi tiba-tiba saja Lee merasa kepalanya begitu pening, terasa amat pusing.


"Aduh kenapa rasanya kepalaku berkunang-kunang," kata Lee dengan suara yang rendah.


"Dokter Lee anda kenapa?" Dokter itu begitu cemas melihat kondisi Lee Ji An yang terlihat begitu lemah, wanita itu terlihat pucat dan tiba-tiba saja terjatuh.


"Ya Tuhan Suster Ino bantu aku untuk mengangkat Lee Ji An ke ruangan kita," kata Dokter tersebut dengan suara yang lantang. Dokter itu begitu terkejut melihat Lee Ji An pingsan di hadapannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan Dokter. Anda itu benar-benar ngeyel ya, sudah saya katakan anda tidak boleh terlalu kelelahan dan harus cepat makan, tetapi malah seperti ini, kan," seru Suster Ino sambil membantu menidurkan Lee diatas brankar.


"Kamu bicara dengan siapa, sudah tidak usah banyak bicara, bantu saja. Orangnya juga sudah pingsan, tidak akan bisa mendengarkanmu," kata Dokter tersebut kepada Suster Ino.


"Baiklah Dokter. Sekarang kita mau bawa Dokter Lee ke mana?" tanya Suster Ino kepada Dokter tersebut.


"Bawa ke ruang istrirahat kita saja, ayo cepat bantu aku untuk mendorong," kata Dokter itu sambil terus mendorong brangkar milik Lee Ji An.


"Oke-oke Dokter aku sudah membantu mendorong," kata Suster Ino dengan cemas. Karena melihat dokter kesayangannya pingsan.


Akhirnya setelah mereka sampai di ruang istirahat, Lee lalu dipindahkan ke kasur untuk Dokter beristirahat.


"Suster Ino lakukan pemeriksaan tekanan darah dan berikan olesan alkohol pada hidungnya," perintah Dokter tersebut kepada Suster Ino.


"Baik Dok. Akan segera saya lakukan," kata Suster Ino.


Dokter Yamazuki lalu memeriksa keadaan umum tetapi tiba-tiba Dokter itu membuka baju daerah perut Lee dan melakukan palpasi di daerah perut bawah Lee.


"Baiklah Dokter." Suster Ino berlari untuk mengambil alat tersebut. Sedang Dokter Yamazuki terus memeriksa perut bawah Lee.


"Hmm ... ada kontraksi Braxton Hicks," kata Dokter Yamazuki dalam hatinya.


Lalu beberapa saat kemudian datang Suster Ino dengan alat USG sebesar laptop.


"Ini Dokter alat USGnya," kata Suster Ino sambil menyambungkan alat USG kepada listrik.


"Ada kontraksi Braxton Hicks," kata Dokter Yamazuki.


"Apa? Ya Tuhan." Suster Ino terkejut. dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Dokter Yamazuki.


"Ya begitulah," kata Dokter Yamazuki sambil mencoba melakukan USG pada perut Lee Ji An.


"Lihatlah usianya sudah 9 minggu," kata Dokter Yamazuki sambil terus memeriksa.

__ADS_1


"Ya ampun benat ternyata, kalau dia terus kecapean seperti ini dia pasti akan keguguran," kata Suster Ino cemas.


"Bukannya pernikahannya juga gagal ya, mungkin bayi ini tidak dia inginkan," kata Dokter Yamazuki kepada Suster Ino.


"Pak Dokter mulai bergosip, pernikahan Dokter Lee gagal atau tidak itu urusan dia, terus bayi ini tidak mungkin dia tidak menginginkannya. Dia pernah hamil sebelumnya mungkin saja bayi ini adalah bayi dari mantan suaminya. Karena itulah pernikahannya gagal. Bisakah jangan seperti itu," tangkas Suster Ino kepada Dokter yang Yamazuki.


"Bisa jadi." Dokter itu lalu menyelesaikan USG-nya.


"Dokter Yamazuki aku mohon untuk merahasiakan semua ini dari yang lainnya, karena Dokter Lee pasti akan malu jika dia hamil diluar pernikahan. Mengingat bahwa pernikahannya gagal, tidak peduli siapa ayah dari bayi itu, yang pasti dia akan sangat malu," kata Suster Ino kepada Dokter Yamazuki.


"Entahlah kalau aku tidak keceplosan," kata Dokter Yamazaki tersenyum kepada Suster Ino.


"Ya Tuhan tega sekali," Suster Ino menatap Dokter Yamazuki dengan mata berkaca-kaca.


"Ha ha ha, aku kan seorang Dokter, untuk apa aku membongkar aib pasienku. Lee sekarang statusnya pasienku, jadi aku akan menjaga rahasianya, tenang saja," seru Dokter Yamazuki dengan menorehkan senyuman yang manis.


"Terima kasih banyak Dokter Yamazuki," kata Suster Ino.


"Sama-sama kalau begitu saya akan kembali bekerja, kamu di sini saja sampai dia bangun," tukas sang Dokter.


"Baik Dokter." Suster Ino lalu terus mengoleskan alkohol pada hidung Dokter Lee. Sampai akhirnya Lee Ji An terbangun.


"Euuh ... Kepalaku pusing, aku ada di mana?"


Catatan kecil author:


Haloo kakak jangan lupa likenya ya.


begini, sisa 18 chapter lagi, bisa saja selesai dalam minggu ini, aku tidak mau baca comen hujatan, baca saja. kalo tidak mau baca ya jangan menghujat juga.


Apakah sad ending atau happy ending?


tidak tau, maka baca saja dan nikmati alurnya.

__ADS_1


__ADS_2