
"Mana bisa aku mengikuti perkataan Ibu, aku tidak mungkin membatalkan pernikahan, di saat aku kini sedang mengandung lagi," kata Lee Ji An dengan isak tangisnya.
"Apa?"
"Apa?"
"Apa?"
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
Plak. Nyonya Lee menampar wajah Lee Ji An dengan sangat kencang, sampai Lee yang sedang bersimpuh tersungkur ke lantai.
"Ahh, Ibuu," tangis Lee Ji An dengan tersedu.
"Sayang." Nathan langsung memeluk Lee Ji An dengan lembut. Dia sangat ketakutan dan terlihat kesakitan.
Benar saja, sudut bibir Lee Ji An kini sudah mengeluarkan darah segar. Dan itu terlihat sangat pedih.
"Ada apa ini Ibu?" Lee Young Joon datang dan terkejut karena melihat sang ibu menampar adik kesayangannya.
"Wanita keturunan mana dia, selalu saja membuat malu keluarga," tangis ibu Lee dengan sangat nyaring. Air mata sang ibu mengalir deras saat itu.
"Apa maksud ibu?" Lee young Joon tersentak.
"Wanita ini sebaiknya harus kita hapus dari daftar nama keluarga!" teriak Nyonya Lee dengan tangisannya.
"Ibu jangan berkata sembarangan." Lee Young Joon berteriak kepada sang ibu. Dia tidak suka ibunya berkata kasar seperti itu.
"Ibu maafkan aku, Bu." Lee Ji An menangis dengan tersedu. Dia tidak mau ibunya menghapus dia dari daftar nama keluarga.
"Ibu, maafkan kami, Lee Ji An tidak bersalah, ini semua kesalahanku, Ibu marahlah padaku, jangan marah pada Lee," kata Nathan dengan suara yang rendah, sambil terus memeluk sang istri dengan erat.
Lee Ji An terlihat begitu kacau. Dia menangis tiada henti. Rasa sakit karena ucapan sang ibu, seolah menjadi ujung pisau yang runcing, menyobekk seluruh hati dan jantungnya. Teramat sakit dan perih.
"Joon wanita ini telah mencoreng nama baik keluarga kita, untuk kesekian kalinya, tidak cukupkan dulu dia sudah membuat ayah terkena serangan jantung, hamil di luar nikah, dan sekarang dia hamil lagi, Joon. Ibu tidak kuat, Ibu tidak tahan dengan semua rasa malu ini, sebaiknya kamu bunuh Ibu saja Lee Ji An, bunuh saja Ibu, Joon," tangis sang ibu dengan begitu lirih.
Air matanya menetes tiada henti. Lee Young Joon terkejut mendengar sang ibu mengatakan bahwa Lee hamil lagi.
__ADS_1
"Ibu jangan bicara seperti itu." Lee Ji An langsung memeluk sang ibu. Lalu ibu Lee langsung mendorong Lee Ji An dan wanita itu kembali hampir terjatuh. Nathan dengan sigap langsung memeluk sang istri.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" kata Nathan dengan kecemasannya.
Lee Ji An hanya terdiam dengan air mata yang terus menetes. Tak bisa lagi dia hentikan.
"Lee, benarkah kamu hamil lagi?" tanya Lee Young Joon dengan suara yang rendah. Namun tatapan matanya begitu tajam seolah hendak menusuk orang yang dia lihat.
"Oppa, maafkan aku Oppa," jawab Lee Ji An dengan lirih.
"Jawab dengan jelas, Lee," kata Lee Young Joon dengan sangat kencang.
"Oppa, aku memang sedang hamil, maafkan aku." Lee Ji An kembali menangis dengan kencang.
Terlihat wajah marah di mimik muka sang kakak, pria itu langsung mendekati Nathan dengan cepat. Menarik kerah baju Nathan dan memberikan bogem mentah untuk pria yang sudah menghamili adiknya.
Bug. Satu buah tonjokan mendarat di pipi Nathan.
"Euh." Nathan tidak melawan dan terlihat kesakitan.
Sampai kini Lee terjatuh kembali. Nathan melihat Lee terjatuh dan langsung mendorong Lee Yong Joon yang hendak menonjoknya lagi.
"Sayang." Nathan langsung menghampiri sang istri dan memeluknya.
"Sayang." Lee terlihat kesakitan.
"Ada yang sakit, Sayang?" tanya Nathan dengan tetesan air matanya. Dia sedih melihat Lee di perlakukan seperti itu oleh keluarganya.
"Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa apa kepada Lee dan bayinya," lirih Kim Mi So dengan tetesan air matanya. Wanita itu tidak tega melihat sang sahabat seperti itu.
Lee Young Joon sendiri hanya terdiam sambil menatap ke arah sang adik dengan tajam. Sedang kakek nenek Lee juga hanya melihat dengan tatapan khawatir. Nyonya Lee membuang muka, seolah tidak peduli dengan keadaan putrinya. Nyonya Lee terlanjur sakit hati dengan Nathan.
"Ibu, Kakak dan semuanya, kalian boleh menghajar aku sesuka hati kalian, tapi tidak boleh menyentuh istriku sedikit pun, dia adalah segalanya untukku, jika kalian memang sudah sangat membencinya maka aku akan membawa istriku pulang ke Cina, selamat tinggal," kata Nathan sambil menggendong sang istri dan keluar dari rumah tersebut.
"Nathan berhenti kamu, mau kamu bawa kemana adiku!" teriak Lee Young Joon dengan kemarahannya.
"Sayang, mereka sudah menikah di catatan sipil, Nathan berhak membawa istrinya," sahut Kim Mi So dengan tetesan air matanya.
__ADS_1
"Tidak, tidak mungkin, kapan mereka menikah?" Lee Young Joon terkejut dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tubuhnya Seolah lemah tak berdayanya.
"Lee, dia pergi demi pria brengsek itu." Nyonya Lee menangis dengan tersedu. Tangisanya begitu nyaring dan dia tak kuasa menahan semua beban dalam hatinya.
"Kenapa kamu mengusirnya Lee Jin An?" kata sang nenek.
"Aku, aku." Nyonya Lee Jin An tak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia hanya bisa menangis dengan tersedu.
"Lee sudah pergi, dia membawa Ryu Jin, Lee adalah keturun keluarga kita, tidak seharusnya kita mengusirnya lagi," kata sang kakek dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kapan mereka menikah?" tanya Lee Young Joon dengan tubuh yang bergetar.
"Tadi mereka datang untuk meminta restu dan mengatakan bahwa mereka sudah menikah dan Lee sedang mengandung," kata Kim Mi So dengan tetesan air matanya.
"Jadi aku harus apa?" Lee Young Joon terus menitikkan air matanya. Dia bahkan tak sanggup untuk beranjak dari posisi duduknya. Semua terdiam dengan kekecewan. Semua menangis dalam kesakitan. Dan sebuah penyesalan karena Lee Ji An malah memilih Nathan dari pada keluarganya sendiri.
"Lee kamu tega sama Ibu Lee, kamu lebih memilih dia dari pada Ibu yang melahirkanmu," tangis sang ibu dengan begitu nyaring.
🎄🎄🎄
"Perutku sakit." Lee Ji An memegang perutnya yang kesakitan. Nathan begitu cemas dengan kondisi sang istri. Pria itu terus mengemudikan kendaraan dengan sangat cepat, karena dia ingin segera membawa istrinya ke Rumah Sakit.
"Sabarlah Sayang, sebentar lagi kita sampai, Dokter kandungan akan segera memeriksa kondisimu dan bayi kita," ucap Nathan sambil menggenggam tangan Lee Ji An dan tangan kanan memegang stir mobil.
"Sakit sekali Sayang, aku tidak kuat," tangis Lee Ji An dengan suara melengking.
"Sayang, Sayang sabar Sayang." Nathan semakin cemas melihat kondisi sang istri.
"Aku tidak tahan." Wanita itu terus merintih kesakitan. Dan itu membuat Nathan semakin ngebut.
Tiba-tiba saja.
Teeeet.
Bruggh.
"Tidaaaakkkk."
__ADS_1