
Saat tengah menyuapi Lina, tiba-tiba Dion melihat sesuatu yang aneh. Bayangan gelap tepat di belakang pelayannya. Dion menghentikan suapannya sejenak dan akhirnya tersentak ketika pelayannya bertanya.
"Ada apa tuan, apa ada yang perlu saya ambilkan?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Ahh tidak aku hanya sedikit...ah...iya, maksudku tidak ada." ucap Dion kebingungan.
"Lanjutkan pekerjaan bibi, kalau nanti saya butuh sesuatu akan saya panggil kembali." ujar Dion kemudian untuk menutupi kegugupannya.
"Baik tuan, saya permisi dulu." kata pelayan itu.
Pelayan tersebut pergi, dan bayangan gelap yang Dion lihat mengikuti pelayan itu dari belakang. Dion tidak tau apa itu. Sebenarnya itu adalah bayangan yang serupa dengan yang Dion lihat saat di kamar hotel, tempat mereka berbulan madu. Tapi Dion sudah lupa akan hal itu. Dion juga tidak tau apa yang ia lihat. Dion kemudian berpikir tentang istrinya. Sejak pertama kenal, istrinya tidak pernah sekali pun, berbicara tentang penampakan padanya.
Dion ingat kalau istrinya bukanlah seorang Indigo dan menurutnya, tidak mungkin istrinya menutupi hal tersebut. Karena selama berpacaran tidak ada tanda-tanda itu. Cukup aneh jika kini ia melihat hal-hal yang tidak kasat mata. Apa mungkin bayangan hitam yang ia lihat juga mahluk tak kasat mata juga?
Dion tidak menemukan jawabannya sama sekali. Tangannya yang terhenti menyuapi Lina akhirnya disentuh oleh tangan Lina yang dingin. Terkejut akan hal itu Dion pun melanjutkan menyuapi Lina. Dion berpikir ini bukan saat yang tepat menanyakan hal itu. Hal tentang sejak kapan Lina bisa melihat mahluk tak kasat mata. Dan apakah Lina bisa melihat yang Dion lihat barusan?
Selesai menyuapi Lina, Dion pun menyuruh Lina beristirahat. Dengan lembut ia membelai rambut istrinya dan memeluk tubuh istrinya yang dingin agar hangat. Tubuh istrinya terasa dingin dan gemetaran. Dion hanya bisa mencoba menenangkannya. Dia juga mengatakan kalau dia tidak akan meninggalkan Lina. Perlahan-lahan Lina memejamkan matanya dan tertidur dalam hangatnya pelukan suaminya.
Saat Lina tertidur lelap Dion melepas dekapannya. Saat sudah memastikan tubuh istrinya sudah mulai hangat atau pun normal. Ia turun dari ranjangnya dan mengambil laptopnya yang berada di meja, lalu kembali duduk di ranjang di sebelah istrinya.
Dion membuka Google mencari tau apa yang ia lihat tadi. Mulanya ia mencari dengan kata kunci bayangan gelap. Dan yang muncul hanyalah alat-alat kecantikan untuk menghilangkan plek hitam di wajah.
__ADS_1
Benar-benar tidak ada hubungannya sama sekali. Dion mencari sesuatu yang berbau misteri, tapi yang muncul malah hal-hal duniawi.
Dan kemudian ia mengganti kata kunci dengan "Hantu" dan keluarlah artikel tentang Indigo. Ini sesuai dengan apa yang Dion harapkan. Maka iya pun menelusuri laman itu. Dengan tatapan mata tanpa berkedip, dan bahkan seperti menahan napas. Seolah takut, akan ada yang terlewat dari pandangannya, jika ia menghembuskan napasnya pada saat itu.
Berbagai kisah-kisah penampakan baik yang cuma karangan atau juga kisah nyata. Ada novel horor dan ada jasa mengusir hantu. Dan hal-hal yang berbau mistis lainnya. Ada juga iklan yang menjual sejenis batu-batuan yang diakui penjualnya sebagai jimat. Dan harga yang ditawarkan cukup mahal dan dibuat keterangan bahwa benda itu hanya satu-satunya di dunia.
Dengan narasi yang luar biasa, selalu ada yang percaya dan tertarik. Bahkan tidak ragu mengocek kantongnya untuk membeli benda itu. Meski pada akhirnya, mereka menyadari kalau, benda yang mereka beli, tidak seperti yang diiklankan.
Semakin banyak Dion melihat tautan-tautan yang ada di laman tersebut, ia pun menemukan berbagai hal. Ada juga iklan penjualan benda-benda yang di jual sebagai jimat penglaris dagangan. Melihat tautan tersebut Dion jadi teringat masa sekolah dulu. Dulu Dion sering mendengar istilah itu, jika ada dua buah usaha di bagian makanan berada di tempat yang berdekatan, dan hanya satu yang laris manis. Maka usaha makanan yang laris itu akan dicurigai kalau memiliki jimat penglaris.
"Coba lihat, mereka menjual makanan yang sama, tapi kenapa meski yang kanan penuh, pembeli lebih memilih mengantri dari pada memilih pindah, untuk membeli jenis makanan yang sama?" tanya teman Dion.
"Ya karena makanan yang di kanan lebih enak. Biar mengantri pun tidak masalah. Dari pada belinya tidak perlu antri, tapi makanannya tidak termakan. Mubajirkan?" tutur Dion.
"Aku memang boros, tapi bukan suka berpoya-poya dan buang-buang makanan tau." kata Dion.
"Iya, ya ya, calon tuan besar," ledek teman Dion.
"Heh siapa yang calon tuan besar?" tanya Dion.
Dion memang tidak pernah suka dengan julukan itu. Tidak tau kenapa, rasanya risih mendengar ucapan itu dari teman-temannya. Seolah rasanya mereka hanya mau berteman karena mereka pikir kalau, Dion akan jadi pewaris harta kekayaan kakek. Dan jika pemikiran mereka keliru, mungkin mereka akan meninggalkannya dan tidak mau berteman lagi dengannya.
__ADS_1
Plak!
Dion menampar pipinya sendiri, yang tanpa sadar malah melamun tentang masa sekolahnya. Masa yang tidak akan pernah kembali lagi, dan tidak akan bisa dibeli dengan apa pun di dunia ini.
Kembali ia memusatkan pikirannya ke layar monitor laptop yang ada di hadapannya. Kini pandangannya tertuju pada artikel jimat pelancar jodoh.
Ia senyum sendiri lagi, mengingat saat pertama kali ia sadar kalau ia sudah jatuh cinta pada istrinya. Rasanya sangat gugup untuk menyatakan perasaannya. Teman-teman bahkan berulang kali memastikan kalau ia tidak akan mungkin ditolak.
Tapi pada saat itu, jangankan menyatakan cinta, menatap mata Lina calon istrinya saja dia tidak sanggup. Belum apa-apa degup jantungnya akan berpacu berkali lipat.
Jika sudah begitu, akan sulit baginya untuk mengeluarkan kata-kata. Jika pun ia berbicara tentunya ia hanya akan menjadi orang konyol di hadapan Lina.
Ia pasti akan berbicara dengan bibir yang bergetar tidak karuan. Dan bisa jadi kata-kata yang ia ucapkan akan berbeda dengan yang ada di dalam benaknya.
"Tenang kawan, kalau kau mau kakekku punya jimat pelancar jodoh, katanya dengan membawa jimat itu saat melamar nenekku, ia langsung direstui oleh calon mertuanya. Seminggu kemudian mereka menikah. Sehingga ada aku di dunia ini." ujar salah seorang teman Dion dengan logat dan gaya yang lucu.
"Betul itu, cinta ditolak, dukun bertindak, hahahaha,,," kata yang lainya.
Dion terkenang lagi, tapi tidak berlama-lama melamun kini dia telah sampai pada artikel jimat penolak bala, dengan harga yang bermacam-macam. Dion hanya melewatinya saja. Jujur saja dia bukanlah orang yang percaya dengan hal-hal demikian.
Saat asik menggeser-geser tampilan layar laptopnya perut Dion pun bernyanyi dengan riang. Dia baru sadar kalau dia belum makan apa pun. Dion memanggil pelayannya dari luar kamar dan meminta agar makanan tersebut dibawa ke kamarnya. Dia masih tidak tega meninggalkan istrinya sendirian. Mengingat usia kandungan istrinya masih sangat muda.
__ADS_1
Bersambung...