
Gina berniat untuk mengembalikan Ray pada mama kandungnya. Dan berharap bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
"Kita akan bicarakan nanti saat kau sudah sembuh." jawab Gina.
Saat Ray masih di rawat di rumah sakit. Teman-teman yang memperlakukannya dengan buruk justru sedang kerasukan. Saat kerasukan mereka melakukan hal-hal yang aneh. Ada yang memakan pecahan beling dan ada yang mengigiti dirinya sendiri. Dan ada juga yang memakan kotorannya sendiri.
Hal itu membuat orang tua anak-anak tersebut panik. Akhirnya mereka memanggil paranormal untuk menyadarkan mereka. Dan saat mereka sadar, mereka bersama-sama mengatakan kalau Ray yang telah berbuat jahat pada mereka.
Mereka mengatakan kalau Ray yang membuat mereka kerasukan. Mereka juga mengatakan kalau Ray pemuja setan. Akhirnya orang tua dari anak-anak tersebut menyuruh paranormal yang mereka sewa untuk menyakiti Ray. Dengan mengucapkan mantra paranormal tersebut memindahkan kutukan pada sebuah boneka yang sudah ditempelkan dengan foto Ray.
Dengan kasar ia menghujakan jarum ke dalam boneka tersebut berkali-kali. Dia mengatakan apa pun yang ia lakukan pada boneka tersebut akan dirasakan oleh Ray. Teman-teman Ray merasa sangat senang akan hal tersebut dan meminta melakukannya sendiri.
Ada bermacam benda tajam di sana, gunting, paku, jarum, dan silet, tersedia untuk melukai seseorang melalui media sebuah boneka. Bergantian mereka melakukan penusukan dan sayatan pada boneka itu sampai boneka itu rusak oleh sayatan silet dan penuh tusukan jarum dan paku.
"Apa ini tidak berlebihan, dia bisa mati saat ini juga jika seperti itu." ujar paranormal mengingatkan.
"Memangnya kenapa, itu balasan setimpal untuknya." ujar teman-teman Ray.
Tertawalah mereka dengan terbahak-bahak membayangkan hal yang ternyadi pada Ray. Tapi di luar dugaan mereka satu persatu muntah darah. Dan apa yang mereka lakukan pada boneka tersebut terjadi pada mereka. Separah apa kondisi boneka tersebut. Separah itu pula yang di alami oleh anak-anak nakal tersebut.
Paranormal terkejut karena perbuatan mereka kembali pada mereka sendiri. Bahkan paranormal itu juga terkena perbuatannya sendiri. Ia mencona menghilangkan kutukan tersebut, namun sayangnya ia tidak berhasil. Roh jahat di sekitar mereka menertawakan paranormal dan anak-anak nakal yang perlahan-lahan kehilangan darah.
Para orang tua sepakat membawanya ke rumah sakit. Tapi belum sampai di rumah sakit anak-anak nakal itu menghembuskan napas terakhir mereka. Tangisan dan jerit pilu orang tua mereka terdengar memekikkan telinga orang yang berada di dalam mobil.
__ADS_1
Mobil berhenti di parkiran. Meski putranya sudah meregang nyawa. Mereka masih berharap ada keajaiban bahwa putra mereka dapat diselamatkan. Namun percuma saja, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi pada mereka. Dokter juga hanya bisa menggelengkan kepala, dan meminta keluarga yang ditinggalkan berlapang dada.
Di saat teman-teman Ray dinyatakan tiada. Di saat itu pula Ray tersadar dan terbangun. Dia melihat mamanya dan Gina sedang berbincang di ruangan itu. Perawat datang dan memeriksa keadaan Ray dan mamanya. Dan setelah memeriksa keadaan Ray ia pun pucat seketika, sebab ia melihat mahluk yang tidak beraga di sekitar Ray.
Namun karena pemandangan tersebut lazim terjadi di rumah sakit, maka perawat tersebut mencoba bersikap profesional. Dengan tubuh gemetaran ia mencoba menutupi rasa takutnya dengan mengatakan kata-kata penghiburan.
Ray dan mamanya mengetahui kenapa perawat itu ketakutan karena sudah menyentuh kulit Ray saat cek up. Ray sebenarnya mencegah hal tersebut dengan tidak membiarkan mereka menyentuhnya. Tapi hal itu membuat para perawat yang datang jadi salah paham. Dan akhirnya mereka jadi kesulitan setelah menyentuh Ray.
"Apa kau baik-baik saja?" ujar seorang perawat pada perawat yang menyentuh Ray. Karena ia tiba-tiba terlihat pucat.
"Ia aku baik-baik saja," ujarnya dengan mengatur intonasi agar suaranya yang keluar dari mulutnya terdengar normal. Sambil iya berpura-pura tidak melihat sesosok mahluk berpenampilan menyeramkan menyerigai di sampingnya.
"Suster bisa melihatku kan? Ayo jadilah kekasihku," goda roh halus tersebut.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gina pada Ray.
"Kau lapar?" lanjutnya bertanya dengan lembut.
Ray melirik ke arah mamanya. Mamanya buang muka, terlihat sendu di wajahnya, sejak pertama kali Gina mengatakan akan mencari keluarga kandung Ray, dan mengakui perbuatannya. Rasa tidak rela melepas Ray membuatnya terluka. Namun ia tidak tau harus berbuat apa.
"Kau pasti laparkan? Ini tadi tante belikan makanan, makanlah!" kata Gina sambil menyerahkan kotak kue yang ia beli. Lagi-lagi Ray melirik Emile.
"Makanlah, mamamu jangan dilihat terus, ia baik-baik saja. Lukanya akan cepat sembuh. Nih sekarang pikirkan caranya agar makanan ini bisa masuk ke perutmu. Ini makanan baru kubeli lagi. Tapi jika kau tidak suka, tante akan belikan yang lain." ujar Gina sambil beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Tan,"
"Iya... ada apa, ada yang ingin kau makan?" tanya Gina yang berdiri tegak seperti pelayan restoran yang melayani pelanggannya.
"Terima kasih sudah datang," ucap Ray lirih.
"Oh sudahlah, tante senang bisa bertemu dengan kalian lagi." balas Gina. Lalu ia meninggalkan mereka berdua.
Suasana jadi sangat canggung. Ray yang tidak memiliki hubungan yang hangat beberapa tahun belakangan ini dengan Emile merasa tidak tau harus berbicara apa. Bahkan untuk menanyakan keadaan Emile pun ia ragu. Ia takut kalau pertanyaan itu justru membuat Emile kesal.
Tapi Emile justru tidak merasa nyaman menanyakan kondisi Ray saat ia menyadari kalau ia telah menyakiti Ray selama bertahun-tahun. Dan sekarang Ray akan semakin jauh darinya. "Mungkin setelah mengenal keluarga kandungnya, Ray pasti tidak akan mau mengenalku lagi." batin Emile.
Sejenak Emile melamun memikirkan jika suatu hari Ray bertemu dengan keluarga aslinya. Tanpa ia sadari sesosok mahluk halus mencuri waktu untuk merasukinya. Ray yang melihat sesosok mahluk halus yang hendak merasuki mamanya akhirnya begerak. Ia turun dari tempat tidurnya hendak menggagalkan roh itu merasuki mamanya.
Namun ternyata jarum infus di tangannya tercabut membuatnya berhenti. Ia terlambat menggagalkan usaha roh tesebut merasuki mamanya. "Keluar dari sini!" perintah Ray.
Saat itu Gina baru melangkahkan satu kakinya. Dan ia jadi salah paham, karena mengira Ray mengusirnya. Tapi saat melihat Ray menatap mamanya, Gina mengira Ray mengusir Emile. Dengan cepat ia masuk dan menegur Ray.
"Ray... kau tidak boleh begitu nak," tutur Gina.
Emile yang kerasukan tersenyum mengejek pada Ray. Ray menatapnya tajam dan marah, dan karena takut pada Ray roh itu membawa tubuh Emile keluar. Melihat Emile tiba-tiba berdiri Gina pun jadi bingung. Ia merasa kalau keduanya baru saja bertengkar.
Bersambung...
__ADS_1