
Iya cemas sebab kini tinggal mamanya tempat mereka bersandar. Dan jika sampai masuk penjara, maka mereka akan kehilangan sosok orang tua. Dan mereka akan menanggung malu. Jika dibandingkan dengan hal itu, si bungsu rela melakukan apa pun untuk mamanya.
"Setiap orang pasti pernah berbuat salah, mama juga manusia yang tidak luput dari salah. Jadi aku harus bisa bantu mama." batin si bungsu.
Lalu ia meminta Nicholas untuk mengantarkannya ke rumah Dion. Nicholas mulanya ragu. Tapi ternyata adik yang kedua juga berkata demikian. Maka ia pun membawq mereka ke rumah Dion. Meski Gina melarang mereka.
Sesampainya di rumah Dion. Mereka disambut oleh Lina. Tapi sebelum mereka berkata apapun Lina sudah bisa menebak tujuan mereka. Jadi Lina meyakinkan mereka kalau Gina benar-benar tidak akan dilaporkan.
"Tapi kami iklas untuk membantu tante," ujar Nicholas kemudian.
Dan mereka cukup lama untuk saling meyakinkan. Akhirnya keputusan mereka mau menjadi pasangan tukar cincin dengan Teresia pun disepakati. Lina memanggil Dion yang berada di ruang kerjanya. Menceritakan tujuan kedatangan Nicholas.
Lalu berkumpullah Dion, Lina, Teresia, serta ketiga putra Gina. Dan kini Lina bingung harus memilih siapa dari mereka bertiga. Ketiganya sepakat kalau Teresia sendiri yang akan memilih pasangannya.
Putra kedua dan ketiga Gina was-was jika akhirnya merekalah yang akan dipilih Teresia. Mereka yang tadi rela berkorban menjadi ragu. Setelah melihat rupa Teresia untuk kesekian kalinya. Teresia tanpa make up untuk menutupi penampilan aslinya. Tampak sangat menyeramkan. Lalu mereka bernapas lega saat Teresia memilih Nicholas.
Sementara Nicholas bersikap biasa saja. Sebab ia mengingat kalau hanya butuh tiga bulan saja. Antara sembuh atau tidak dalam tiga bulan tersebut, Teresia akan mereka bawa pulang dan akhir dari masa pertukaran cincin.
Lalu mereka pun merundingkan kapan ritualnya akan dilaksanakan. Dan tentu saja dengan seijin Gina. Mulanya Gina menolak, tapi Nicholas meyakinkannya. Kalau Nicholas tulus ingin membantu Teresia. Meskipun mamanya tidak dilaporkan ke pihak berwajib.
Acara tukar cincin berlangsung dan seterusnya Teresia akan tinggal di rumah Gina untuk waktu yang ditentukan. Mereka juga membuat perjanjian hitam di atas putih bermatrai. Untuk antisipasi jika pihak Dion melanggar perjanjian.
__ADS_1
Malam hari Teresia tidur di kamar sebelah bekas kamar Ray. Entah kenapa Gina justru berharap Ray berkumpul dengan keluarganya lagi. Ia suka sifat Ray yang mudah diatur dan tidak banyak permintaan. Jadi ia menjaga kamar Ray agar tetap bersih dan tidak boleh ada yang mengambil satu barang pun milik Ray yang tertinggal.
Teresia merasa sangat gerah malam itu meski ia sudah berkali-kali mengurangi suhu panas di kamar barunya. Ia juga belum terbiasa dengan roh yang baru masuk ke tubuhnya. Untungnya mereka hanya roh yang berkekuatan kecil. Baru saja ia masuk ke raga Teresia dengan segera mereka pun hangus terbakar oleh raga tersbut.
Ke esokan paginya Teresia mandi pagi-pagi sekali dengan air hangat. Karena ia sudah tidak tahan dengan rasa gatal. Ia menggosok tubuhnya berkali-kali. Ini pertama kalinya ia tidak merasa perih terkena air pada kulitnya. Dan saat mandi beberapa bagian kulitnya terkelupas. Ia pun ketakutan lalu menyudahi mandinya. Berganti pakaian dan menenangkan diri.
Ia bingung melihat sebagian kulitnya berwana kemerah-merahan. Dan saat di sentuh terasa licin dan perih. Dan ia menyadari kalau seluruh tubuhnya seperti itu dibeberapa bagian kecil. Tampak seperti kulit hitam berbelang kemerah-merahan seperti daging mentah yang tidak berkulit ari. Karena ia memakai pakaian yang tertutup, penghuni rumah tersebut tidak menyadarinya.
Dari keempat orang di rumah itu hanya Nicholas yang ramah pada Teresia. Ia bahkan mengajaknya berjalan-jalan. Namun Teresia menolaknya. Ia takut bertemu roh-roh baru selama di perjalanan. Jadi ia memilih sendirian di kamar.
"Baguslah kalau ia lebih lama di kamarnya, jadi kita tidak perlu melihat wajahnya." ujar adik kedua Nicholas.
"Hei, jaga cara bicaramu. Dia bisa tersinggung nanti jika ia dengar." sergah Nicholas.
Hari kedua dan ketiga Teresia merasakan rasa gatal yang sama. Dan melakukan mandi pagi secara rutin. Bahkan ia hampir mandi setiap tiga jam sekali untuk mengurangi rasa gatalnya. Dan setiap mandi, setiap itu pulalah kulitnya terkelupas. Dan daging merah tertutup kulit ari yang masih tipis semakin terlihat lebih lebar di tiap bagian kulit yang kemarin terkelupas.
Tanpa segaja Gina melihat kondisi Teresia yang tampak belang-belang. Ia mengernyitkan wajahnya. Heran bercampur jijik. Teresia tampak seperti daging merah yang berbelang-belang. Dan dengan cepat Teresia memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Makanan sudah siap, kamu mau makan di sini atau mau makan bersama kami?" tanya Gina mengulang pertanyaan yang sama saat hendak makan.
"Makan di sini saja tante," jawab Teresia seperti sebelumnya.
__ADS_1
Ia tidak mau mengurangi selera makan mereka. Jadi Teresia memilih untuk menjauhi mereka. Hari itu Nicholas sendiri yang mengantar makanan untuk Teresia. Tapi ia juga membawa bagiannya. Lalu makan bersama dengan Teresia yang belum sempat memakai make up. Jadi Teresia menutupi wajahnya dengan sehelai sapu tangan.
"Sudahlah, ayo makan dengan santai. Tidak perlu menutupi wajahmu!" perintahnya.
Dan saat ia memperhatikan wajah Teresia ia pun terkejut. Dengan cepat ia pergi ke dapur mengambil obat. Sebab ia mengira tubuh Teresia yang terkelupas adalah luka.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu terluka. Kemari biar aku oleskan obat. Tenang saja, aku akan mengoleskannya dengan hati-hati." ujar Nicholas.
"Tidak usah," ucap Teresia.
"Apanya yang tidak usah?" ujar Nicholas lalu menarik tangan yang menutupi wajah Teresia.
"Ya ampun separah ini dan kamu diam saja. Pasti sakit ya?"
Perlahan-lahan ia mengoleskan obat tersebut. Terasa dingin di kulit Teresia yang tipis. Setelah selesai mengoleskan obat tersebut Nicholas mencuci tangannya lalu makan bersama dengan Teresia. Selesai makan ia membawa piring bekas makan mereka berdua ke dapur.
Selesai makan, Teresia kembali merasa gerah dan gatal. Ia pun mandi lagi. Seluruh wajahnya kini berwarn merah daging sapi mentah yang baru dikuliti. Dan ia pun mengoleskan obat yang diberikan oleh Nicholas padanya. Obat itu sengaja ditinggalkan di kamar Teresia untuknya.
Rasa dingin dari obat itu membuat Teresia mengantuk. Perlahan ia pun tertidur. Nicholas mengira ia masih bangun dan berniat mengajaknya mengisi buku teka-teki silang seperti biasa.
Dan saat melihat Teresia tertidur ia pun menutup pintu Teresia. Tanpa menyadari kalau wajah dan tubuh Teresia sudah merah semua.
__ADS_1
Bersambung...