Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Akhir Pertunjukan


__ADS_3

Pada saat itu seorang pria yang sempat mencoba menarik perhatian Primavera saat di pintu masuk, mengangkat tangannya, mencari perhatian para penonton. Para penonton memalingkan wajah mereka ke arah pria tersebut. Lalu berbisik-bisik dengan seseorang yang ada di sebelah mereka. Mengutarakan pendapat masing-masing tentang sikap pria itu.


Ada yang memuji keberaniannya namun ada juga yang merasa ia cukup bodoh. Mengingat banyak adegan berbahaya sering memakan korban dalam sebuah pertunjukan. Tapi ada juga yang bilang kalau ia adalah bagian dari tim teater itu sendiri. Berpura-pura sebagai penonton.


"Beri tepukan untuk kesatria kita, yang bersedia untuk berkorban pada malam ini!" pinta si pesulap sambil menengadahkan tangannya ke atas langit-langit panggung.


Pria itu berjalan dengan gagah menuju panggung. Merasa seperti seorang selebriti yang sedang mendapatkan sebuah piala bergengsi. Tidak lupa melirik ke arah Primavera dan memperlihatkan muka meremehkan pada Te Apoyo. Primavera dan suaminya diam saja.


Saat ia tiba di panggung, pesulap bertanya tentang nama, usia, dan pekerjaannya. Dengan bangga ia memperkenalkan diri. Sambil melayangkan pandangannya pada semua wanita yang ada di kursi penonton.


"Wow luar biasa, apakah anda sudah berpasangan?" tanya pesulap lagi.


"Belum, tapi aku harap malam ini, kutukan hidup tanpa pasangan segera hilang dariku, setelah aku melakukan pengorbanan," ujar pria itu berkelakar.


Penonton tertawa, beberapa gadis begitu bersemangat setelah mengetahui pekerjaan pria itu. Membuat mereka berhayal menjadi seorang nyonya di sebuah rumah besar, jika menikah dengan pria itu. Sesaat mereka lupa dengan standar ketampanan yang sudah mereka buat.


"Baiklah kalau begitu, bersiaplah untuk masuk ke kotak ini!" ujar pesulap dengan mantap.


Saat pria itu masuk ke kotak, pesulap membacakan mantra, dan muncullah asap dari langit-langit panggung menaungi pesulap dan pemuda itu. Setelah mantra selesai diucapkan asap yang ada di panggung menghilang. Penonton begitu antusias menyaksikan pertunjukan, sampai-sampai mereka lupa berkedip.


"Dia menggunakan asap untuk mengelabui kita," ujar salah satu penonton.


"Iya, pasti saat itu, pria yang ada di dalam peti kabur melalui celah khusus. Dan sekarang sedang sembunyi di baling panggung," ujar temannya menimpali.

__ADS_1


Tapi tidak ada yang tahu kalau Putri penunggu danau muncul di saat asap itu datang. Menukar orang yang akan menjadi persembahan padanya. Ia memilih Te Apoyo, namun sayangnya yang bertukar tempat dengan pria itu bukan Te Apoyo. Melainkan anak laki-laki yang ada di sebelah Primavera.


Sihir yang dilemparkan ke Te Apoyo meleset ke anak itu dan kini ia dalam keadaan tertidur di dalam peti. Dan pria yang ada di dalam peti sekarang berada di kursi penonton. Ia kembali ke kursinya sendiri. Namun berkat sihir putri penunggu danau, tidak seorang pun menyadarinya.


Meski Te Apoyo yang menjadi pilihan sang putri digantikan oleh anak itu, pertunjukan tetap berlanjut. Pisau-pisau tajam ditusukkan dari celah-celah peti. Saat pisau menyentuh sesuatu di dalam kotak, sempat terdengar jeritan kesakitan. Anak itu terbangun dan terkejut saat sadar karena tersentuh benda tajam.


Suara teriakan anak itu tidak membuat penonton sadar kalau ada yang janggal. Mereka tetap merasa kalau itu jeritan si pria tadi. Penonton merinding ketakutan. Ada yang menerka kalau trik sulap telah gagal.


Tampak jelas darah menetes dari celah-celah benda berbentuk persegi panjang tersebut. Pesulap ikut panik, ia menjadi sama pucatnya dengan penonton. Tapi pertunjukan tetap harus berlanjut.


Lalu peti dibagi menjadi empat bagian. Pesulap meminta beberapa sukarelawan untuk maju dan membuka peti. Beberapa yang penasaran maju ke depan, membuka peti dan melihat isinya. Ada dari mereka terkejut dan menangis.


Penonton merasa ngeri, saat beberapa sukarelawan mengatakan apa yang mereka lihat. Tapi ada juga yang menganggap trik sulap kali ini benar-benar hebat. Dan ada yang tidak berkomentar apa pun. Hanya ingin melihat bagaimana akhirnya.


Penonton sukarelawan itu melihat di dalam peti adalah potongan tubuh si pria, sedangkan si pesulap melihat kalau itu tubuh anak yang duduk di sebelah Primavera. Peti disatukan dan ditutup dengan kain hitam.


"Tapi aku butuh bantuan kalian, aku ingin agar kalian memanggil namanya sebanyak tujuh kali!" ujar pesulap, yang kemudian dilaksanakan oleh penonton.


"Lebih kuat! Lebih bersemangat! Ayo semuanya! Beri saya kekuatan untuk membawa saudara kita ini kembali ke atas panggung ini dalam keadaan utuh!"


Para suka relawan yang masih berada di atas panggung dan belum disuruh turun, kini mendapat tugas untuk menarik kain hitam. Lalu mendapat kesempatan membuka peti. Dan peti tersebut kosong.


Mereka terheran-heran, saat itu roh yang berada di dekat pria tadi menyentuh pundak pria itu. Membuatnya terkejut dan berteriak. Ia terbangun dari tidur singkatnya dan heran saat melihatnya telah kembali ke kursinya lagi.

__ADS_1


Penonton yang ada di sampingnya terkejut. Dan menatapnya seakan tidak percaya. Begitu juga penonton lainnya. Pesulap meminta pria itu naik ke panggung. Penonton bertepuk tangan. Begitu juga penonton yang ada di atas panggung.


"Wow anda masih hidup, bagaimana perasaan ada saat berada di dalam peti?" tanya si pesulap.


"Aku sempat merasa takut. Lalu pandanganku terasa gelap dan aku tidak ingat apa-apa, selain aku terbangun dan membuka mata. Melihat anda berada di panggung dengan yang lainnya dari kursi saya," tutur pria itu.


Pesulap manggut-manggut lalu tersenyum.


"Pada malam ini, kita bisa mengatakan kalau kuasa kegelapan telah kalah. Kita sudah membuktikan kalau kita lebih kuat dari mereka. Berkat bantuan kalian semua, pertunjukan ini telah berhasil. Ini adalah keajaiban!" kata pesulap.


Pesulap menerima tepukan yang meriah. Semua orang yang ada di atas pangung turun kembali. Pesulap menampilkan deretan giginya menutupi rasa yang tidak nyaman di hatinya. Meski tidak ada orang yang menyadari hal yang sebenarnya terjadi.


"Aku ingin kita semua yang menyaksikan keajaiban tadi berteriak bersama! Aku percaya pada keajaiban! Keajaiban ada padaku!" teriak pesulap.


"Aku percaya pada keajaian! Keajaiban ada padaku!" teriak penonton.


"Ayo ulangi sekali lagi!" teriak pesulap.


Te Apoyo dan Primavera melakukan hal yang sama seperti yang lainnya tanpa menyadari anak yang duduk di deretan kursi mereka telah menghilang. Begitu juga dengan orang tua anak itu. Ia begitu bersemangat menyaksikan pertunjukan dan tidak menyadari kalau putranya sudah tidak ada di sebelahnya.


"Kali ini mari kita ucapkan lebih keras untuk terakhir kalinya dan rasakan keajaiban apa yang akan terjadi!" kata si pesulap.


Orang-orang mengulangi kalimat itu lagi. Lampu di panggung tiba-tiba mati. Saat hidup kembali pesulap telah hilang di antara penonton yang ada di atas panggung. Lalu dari pengeras suara ia menyapa penonton. Dan mengucapkan salam perpisahan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menyaksikan pertunjukan ini, selamat malam! Dan sampai bertemu kembali!"


Bersambung...


__ADS_2