
Pagi hari Esperanza terbangun dari tidur pulasnya. Melihat jam di ponselnya. Segera bangun dan menuju ke kamar mandi. Menyikat gigi lalu mencuci muka. Rasa kantuk sudah hilang. Dilanjutkan dengan mandi.
"Masih pagi sekali, mau kemana?" tanya mama Esperanza.
"Hari ini paman pemilik toko akan pergi jalan-jalan," jawab Esperanza sambil berlari menuju kamarnya.
Mama Esperanza geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.
"Kalau mereka jalan-jalan, artinya toko ditutup kan?"
"Iya," jawab Esperanza.
Ia sudah berganti pakaian dan kini menyeka rambutnya.
"Lalu kenapa kamu terlihat sibuk sekali? Kencan ya?"
Mama Esperanza tersenyum membayangkan putrinya yang kini beranjak dewasa mulai menyukai lawan jenis.
"Mama, aku tidak kencan, tapi aku diajak jalan-jalan oleh paman pemilik toko. Oh iya kemarin malam aku mengatakannya pada papa saat pulang kerja. Aku lupa memberitahukan pada mama," jawab Esperanza.
"Oh, ya sudah kalau begitu? Berangkat jam berapa?"
"Katanya jam 8 pagi, tapi aku tidak ingin buru-buru. Jadi lebih baik aku bersiap-siap lebih cepat."
"Baik-baik ya di jalan. Jangan merepotkan paman dan bibi nanti di sana."
Esperanza membantu mamanya menyiapkan sarapan saat rambutnya mulai kering. Ia mengatur alarm ponselnya. Tapi tetap saja ia memeriksanya setiap lima menit sekali.
Saat ponselnya berdering jam menunjukan pukul 7 lewat 7 menit. Ia menerima panggilan dari paman pemilik toko tempat ia bekerja. Kalau mobil mereka tiba-tiba rusak. Jadi keberangkatan ditunda.
"Siapa?"
"Bibi, katanya keberangkatan ditunda, mobil mereka bermasalah," jawab Esperanza pada mamanya.
Namun dua jam kemudian ponselnya berdering kembali. Wajah Esperanza sudah tidak ceria lagi. Karena mobil tidak bisa jalan. Dan belum selesai diperbaiki. Perjalanan ditunda minggu depan.
"Baiklah paman, terima kasih. Sampai jumpa besok di toko," jawab Esperanza.
Mamanya bertanya kenapa ia tidak berangkat juga, dengan malas ia menjawab kalau mereka batal pergi. Esperanza ingin mengganti pakaiannya saat seorang tetangganya datang. Teman dekat sekaligus teman sekelas Esperanza.
__ADS_1
"Bibi mana?" tanya anak seusia Esperanza.
"Ada di dalam," jawab Esperanza.
Anak itu memperhatikan Esperanza lalu tersenyum dan masuk begitu saja ke dalam. Segera ia menuju ke dapur. Meminta beberapa macam bumbu dapur.
"Sarapan di sini saja," ujar mama Esperanza.
Anak itu tersenyum. Mama Esperanza memberikan sarapan pagi untuk anak itu. Dia sekarang yatim piatu. Hidup dalam kekurangan dan mama Esperanza sangat kasihan padanya.
Saat anak itu menikmati sarapannya, mama Esperanza menceritakan tentang keberangkatan Esperanza yang gagal. Esperanza duduk di kursi meja makan. Dia sudah berganti pakaian.
"Makasi sarapannya bibi," ujar anak itu setelah makanan di piringnya habis.
"Tidak tambah?" tanya Esperanza.
Anak itu menggeleng lalu memberi isyarat kalau ia sudah kenyang. Ia mengatakan kalau ia berencana pergi ke suatu tempat siang ini. Lalu ia mengajak Esperanza. Dan ajakannya diterima.
"Ok, nanti siang ya?" ujar Esperanza mengulang ucapan anak itu.
Siangnya Esperanza memakai pakaian yang ia pakai tadi pagi. Pakaian yang dia ganti saat gagal pergi. Kini ia menata rambutnya. Dan anak yang mengajaknya pergi sudah menunggu di dapur. Sambil makan siang di rumah Esperanza.
Anak itu menghabiskan sisa makanannya dengan satu suapan. Hanya beberapa kali mengunyahnya makanan di mulut pun segera ia telan. Buru-buru ia minum sampai tersedak. Esperanza tertawa melihat tingkahnya.
"Hei tidak usah terburu-buru!" kata Esperanza cemas.
"Ah tidak, aku sudah kenyang," jawab anak itu.
Diambilnya tisu dan menyeka mulutnya. Segera ia menaruh piring bekas makannya ke tempat khusus untuk mencuci piring. Esperanza menarik tangannya ketika ia ingin mencuci piring bekas makannya.
"Sudah biarkan aku saja!" kata Esperanza.
Tapi anak itu dengan cepat mencuci piring itu dan membilasnya, lalu menaruhnya ke keranjang setelah mengelapnya. Esperanza mengangkat bahu. Orang tua Esperanza senyum-senyum melihat tingkah mereka berdua.
Setelah anak itu selesai mencuci piring dan gelasnya. Mereka pun akhirnya pamit dan pergi bersama menuju suatu tempat. Dengan berjalan kaki.
Di sepanjang jalan orang-orang yang mengenal Esperanza menegurnya. Dan dengan ramah Esperanza menjawab tegurannya. Tapi anak itu tidak suka melihat Esperanza tersenyum pada yang lain. Apalagi kalau tersenyum pada yang sejenis dengannya.
"Halo cantik! Mau ke mana? Biar kakak antar!" ujar seorang pemuda.
__ADS_1
"Tidak usah kak, aku sedang bersamanya," tolak Esperanza ramah.
"Daripada jalan kaki, lebih baik naik motor denganku," ujar pemuda itu lagi.
Sekilas ia melirik anak sebaya Esperanza yang ada di sebelah Esperanza. Anak itu pura-pura tidak mendengar. Esperanza kembali menolak. Akhirnya pemuda itu pergi juga.
Namun saat ia baru beberapa meter motornya melaju. Ia pun terjatuh. Terdengar suara yang cukup keras, membuat Esperanza berpaling. Melihat pemuda yang menegurnya tergeletak di aspal, Esperanza membalikkan tubuhnya dan mencoba menolong. Namun langkahnya terhenti saat anak yang ada di sebelahnya mencengkram lengannya.
"Kita akan terlambat jika tidak buru-buru!" ujar anak itu.
"Tapi dia ...," ujar Esperanza terputus.
Pemuda yang menawarkan tumpangan pada Esperanza berdiri. Melirik kiri dan kanan. Lalu melajukan motornya dengan pelan. Esperanza bernapas lega. Anak yang di sebelahnya menatap tajam ke arah pemuda yang baru saja jatuh itu. Tersungging senyum penuh arti di sudut bibirnya.
Selang beberapa lama tibalah mereka di sebuah tempat yang ramai dengan penjual sayur-mayur. Ada banyak jenis sayuran yang dijual dengan harga murah di tempat itu. Esperanza mengikuti kemana pun anak itu pergi.
Melihat cara anak itu memilik sayuran dan menawar harga. Rasanya cukup menarik. Dalam beberapa menit barang belanjaannya sudah banyak. Dan memenuhi kantung kertas yang telah ia persiapkan dari rumah.
Negara mereka sedang menggalakkan usaha mengurangi penggunaan limbah plastik. Jadi pembeli harus menyediakan tempat untuk barang belanjaan mereka. Cukup merepotkan awalnya. Tapi setelah lama, 50 persen lebih orang sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak itu.
Selesai belanja, uangnya masih bersisa. Anak itu menawarkan Esperanza untuk membeli cemilan yang dijual di tempat itu. Mulanya Esperanza menolak sebab ia menyadari kalau anak itu sedang kesulitan ekonomi setelah kepergian neneknya. Satu-satunya keluarga anak tersebut.
Tapi karena terus saja ditawarkan maka Esperanza membeli cemilan yang menurutnya terjangkau. Dan mereka menikmatinya di bawah pohon. Yang letaknya berada di luar area pasar. Sambil melihat orang yang lalu-lalang di jalanan.
Selesai makan dan minum air mineral kemasan yang dibeli di sekitar situ. Mereka melanjutkan perjalanan. Namun sebuah sepeda motor melaju dengan kencang. Mencipratkan air yang tergenang di jalan. Bekas hujan deras tadi malam.
Rok yang dikenakan Esperanza jadi basah dan kotor. Anak itu menyerahkan kantung kertas belanjaannya pada Esperanza. Kemudian membuka kemejanya lalu mengelap rok dan kaki serta sepatu Esperanza.
"Hei, tidak usah!" teriak Esperanza.
"Tidak apa-apa, ini salahku. Aku sudah banyak merepotkanmu," kata anak itu.
Lalu ia menatap tajam pada pengendara motor yang hampir menghilang di ujung jalan. Ia melintasi pepohonan. Anak itu menatap dahan pohon yang berada tepat di bagian yang akan dilalui pengendara motor tersebut.
Saat pengendara motor melintas di bawah dahan pohon yang ditatap oleh anak itu, seketika itu juga dahannya patah. Dan menghantam pengendara motor dan jatuh. Ia mengalami cidera pada bagian yang tertimpa dahan pohon tersebut.
"Sudah beres, ayo kita pulang," kata anak itu pada Esperanza.
Bersambung...
__ADS_1