
Saat pria itu telah mengeluarkan bagian terpenting miliknya untuk menghasilkan keturunan, tanpa ia sadari seekor anjing datang dari belakang dan menggigit miliknya hingga putus.
"Kerja bagus Lillo," ujar Brillo yang kini telah kembali ke tubuh aslinya.
Di saat terakhir Brillo yang pasrah dan mencoba mengosongkan pikirannya berhasil menukar tubuh dengan Lillo. Anjing itu sudah sering melepaskan diri dari rantai anjing yang biasa di pasang padanya, membuatnya tidak kesulitan untuk melakukannya lagi.
Di tambah lagi ternyata kali ini tali kekang yang mengikat lehernya tidak sekencang biasa. Seolah dibuat agar ia bisa lepas. Tapi Brillo yang tidak terbiasa tidak mengetahui cara melepaskan diri dari ikatan itu.
"Tangkap anjing itu!" teriak para pria yang ada di sana.
Sementara pria yang sudah berpisah dengan bagian kesayangannya kini hanya bisa berlutut menahan rasa sakit dan darah yang mengalir dari bagian tubuhnya yang terluka.
Lillo melonglong membuat anjing-anjing yang ada di sekitar tempat itu mendengarnya. Dan mendatangi tempat tersebut. Sambil terus berlari dengan cepat, sebelum pintu-pintu yang menjadi sekat tertutup. Dan saat itu Lillo jauh lebih mahir berkelit dengan tubuh aslinya.
"Dari mana anjing-anjing ini? Kenapa banyak anjing-anjing di sini?" ujar penjaga pintu gerbang.
Mereka mencoba menghalau anjing tersebut dan mereka terkejut saat makin lama, anjing liar di sekitar tempat itu semakin banyak. Para penjaga yang sedang sibuk mengejar Lillo tidak mengetahui anjing-anjing itu masuk.
Saat Esperanza sendirian, ia berusaha melepaskan tangan dan kakinya. Ia ketakutan saat melihat ada anjing yang datang ke kamar itu. Tapi kemudian seekor anjing menyalak membuat anjing itu pergi. Terdengar keributan diluar karena para penjaga menembaki anjing-anjing liar yang tidak mau keluar dan menyerang mereka.
Kesempatan itu digunakan Lillo untuk melepas ikatan tali di tangan dan kali Esperanza. Mulanya gadis itu ketakutan tapi kemudian ia merasa tenang saat melihat kalau anjing itu datang menolongnya.
"Bagus Lillo sekarang bawa gadis itu keluar. Aku akan mencari lokasi kalian secepatnya," ujar Brilllo dengan telepati pada Lillo.
Lillo membawa melalui jalan yang ia lewati. Menggunakan penciumannya menuju pintu keluar. Esperanza kesulitan mengejar anjing itu. Tapi untungnya anjing tersebut mengetahuinya dan menunggui gadis itu.
"Jangan biarkan mereka lolos!" teriak para penjahat setelah menembaki para anjing-anjing liar.
"Lillo tekan tombol yang merah," ujar Brilo.
Dan dengan melompat Lillo menekan tombol tersebut pintu otomatis mulai tertutup. Secepatnya Esperanza dan anjing itu keluar. Saat tiba diluar Brillo menyuruh Lillo untuk menghancurkan sebuah kotak kecil.
Anjing itu kesulitan untuk menghancurkannya. Tapi Esperanza yang paham akan tindakan anjing itu mencari sesuatu. Ia menemukan sebuah kursi kayu lalu menghancurkan kotak tersebut. Yang merupakan alat untuk mematikan aliran listrik di gedung tersebut.
__ADS_1
"Kamu anjing yang pintar," puji Esperanza.
Anjing itu mengibaskan ekornya lalu menarik Esperanza segera menjauh dari tempat tersebut. Dengan susah payah mereka menuju jalan umum. Tapi ternyata dengan cepat para pria penjaga menyusul mereka dari belakang.
Pada saat itu Esperanza dan anjing tersebut berlari menuju hutan untuk mencari tempat bersembunyi.
Dorado yang sibuk dengan kerjanya tidak menyadari kalau Esperanza kabur. Sedangkan seorang keturunan ketujuh yang bertugas mengawasi monitor malah pergi bersenang-senang. Saat kembali ia terkejut melihat kamera-kamera dalam satu gedung rusak.
Kini Esperanza menyusuri hutan dengan Lillo, satu roh menuntun anjing dan Esperanza untuk keluar dari hutan menuju jalan umum lainnya. Bukan hanya itu para roh yang ada di hutan itu tidak mengganggu Esperanza dan anjing tersebut tapi mereka membuat para pengejar mereka kesasar dan hanya berputar-putar di tempat.
"Kita berhasil keluar!" seru Esperanza.
Setelah mereka berhasil keluar para roh yang menjaga mereka selama di perjalanan memberi hormat lalu meninggalkan mereka semua. Brillo yang melihat hal itu dari mata anjing tersebut terpelongo.
"Siapa sebenarnya Esperanza ini?" gumamnya.
"Lillo coba cari sesuatu yang menunjukkan nama tempat kalian berada atau coba cari rumah penduduk di sekitar tempat itu," ujar Brillo.
Lillo segera melaksanakan perintah. Dengan penciumannya ia menemukan sebuah rumah penduduk di sana. Mereka adalah seorang petani. Esperanza ingin menghubungi pihak sekolahnya yang lama untuk meminta bantuan.
"Kalian dari mana?" tanya pria tua tersebut.
Seorang wanita keluar.
"Siapa kakek? Apa ada tamu?" tanya istrinya.
"Nona ini bilang kalau ia tersesat dan mau meminjam ponsel," jawab suaminya.
"Kasihan sekali," ujar wanita itu dengan iba.
Lalu ia mengajak Esperanza untuk masuk ke dalam dan menawarkan mereka makanan. Sebab ia melihat Esperanza dan anjing yang bersamanya sangat berantankan.
"Terima kasih nyonya."
__ADS_1
"Jangan sungkan," jawab nenek itu lalu memberikan ponselnya.
Saat ponsel itu diberikan Lillo segera menangkap ponsel tersebut. Pasangan tua itu terkejut dan hampir saja marah. Tapi saat melihat anjing itu dengan pintar menekan tombol-tombol pada ponselnya mereka menatap dengan takjub.
"Hallo," terdengar sebuah suara.
Esperanza tercengang.
"Permisi, siapa pun anda, tolong beritahu alamat anda. Anjing yang bersama dengan kalian saat ini adalah anjing saya," ujar orang yang menerima panggilan.
Lalu panggilan berakhir. Dan panggilan baru masuk kembali. Kini dengan panggilan yang berasal dari ponsel Brillo. Saat panggilan di angkat polisi yang sedang bersamanya melacak keberadaan ponsel itu. Lalu ditemukan sebuah alamat.
"Terima kasih nyonya atas *inf*ormasinya," ujar Brillo.
Wanita tua itu mengatakan lokasinya dengan jujur. Tapi hal itu membuat Esperanza khawatir sebab ia mengingat tentang nasip tragis gadis yang malang di gedung tempat ia dikurung.
Begitu ia dan anjing itu menghabiskan makanannya ia mencoba pergi dari sana. Tapi Lillo menahannya. Memperlihatkan wajah sedih. Esperanza jadi bingung.
"Aku harus kembali ke negaraku, aku harus pergi mencari bantuan," kata Esperanza membelai anjing itu.
"Nyonya di mana kantor polisi terdekat?" tanya gadis itu.
"Sangat jauh, ini sudah mulai gelap, sebaiknya menginaplah di sini," ujar wanita tua itu.
Mereka yang sudah lama kesepian merindukan suasana yang ramai. Mengharapkan setidaknya gadis itu menginap satu malam.
"Setidaknya tunggulah sampai pemilik anjing ini tiba besok."
Setelah pembicaraan itu Esperanza menurut walau ia ragu. Ia masih merasa belum aman. Mengingat kalau mereka sedang dikejar. Ia tidak tahu kalau orang yang mengejarnya kini tidak bisa keluar dari hutan sama sekali.
Mereka sudah kelelahan, dan akhirnya memilih untuk beristirahat sampai mereka tidak sadar tertidur di sana. Hal serupa terjadi, Esperanza dan Lillo yang sudah kenyang makan dan kini Esperanza sudah berganti pakaian bersih merasa mengantuk.
Tapi tiba-tiba pintu rumah tempatnya menginap diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
Bersambung...