
Brillo cuma mengangguk. Malika segera masuk dan meninggalkan Nicorazón dan Brillo di teras. Nicorazón mencoba untuk berbicara kembali pada Putra Malika, tapi anak itu masih mengacuhkannya. Nicorazón tidak punya pilihan selain mengekor dari belakang.
Di dalam kamar Brillo berpura-pura sedang sibuk. Nicorazón jadi salah tingkah. Ia belum dipersilahkan masuk. Tapi tidak ingin sendirian di luar. Jadi ia memilih untuk masuk tanpa ijin ke kamar tersebut. Dan duduk di ranjang Brillo.
"Brillo, aku mau bicara. Aku benar-benar minta maaf."
Brillo mendengar dengan jelas ucapan Nicorazón tapi ia masih pura-pura sibuk. Hingga akhirnya Nicorazón memilih berbaring dan mencoba memejamkan mata. Berharap matahari segera terbit. Mulanya ia sangat kesulitan untuk tidur, tapi setelah lelah membolak-balikan tubuhnya, ia pun tertidur juga.
Saat ia tertidur Esperanza sedang menerima panggilan dari pelanggan toko yang memintanya untuk mengirimkan obat-obatan ke tokonya. Mulanya Esperanza ingin mengantarkan obat tersebut, namun sahabat Esperanza menawarkan diri. Dan akhirnya Esperanza memberikan alamat dan obat untuk diantar ke pemesan.
"Di mana Esperanza?" tanya Putra pemilik toko yang memesan obat.
"Di toko," jawab Sahabat Esperanza datar.
Tampak jelas rasa kecewa di wajah pemesan tersebut. Tapi Sahabat Esperanza tidak perduli. Setelah menerima uangnya ia pun langsung pergi. Jarak toko tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat si pemesan, namun beberapa hari yang lalu ia kecelakaan setelah membeli obat di toko tempat Esperanza bekerja.
"Huh, dasar. Kamu pikir bisa memanfaatkan kakimu yang terluka untuk menarik perhatian Esperanza? Jangan harap." gumam Sahabat Esperanza selama di perjalanan.
Langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda menghampiri Esperanza dan menggodanya.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Pemuda itu.
"Sial, masalah ada di mana-mana!" gumam Sahabat Esperanza di tempat persembunyiannya.
Sahabat Esperanza sengaja bersembunyi untuk mencari tahu apa yang ingin dibicarakan oleh orang tersebut. Dan ia merasa lega saat Esperanza menolak orang itu. Tapi ia juga kesal karena orang itu belum berputus asa.
"Pikirkan saja dulu. Aku siap untuk menunggu." Setelah berkata demikian orang itu pun pergi.
Sahabat Esperanza berpura-pura baru datang. Dan ia disambut dengan senyuman oleh Esperanza. Membuatnya berdebar-debar. Ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya saat itu juga. Namun seorang pelanggan datang membuat ia batal mengucapkannya.
"Esperanza bolehkah di hari libur nanti, kita tidak usah membuka toko, kita berlibur dan jalan-jalan saja?" tanya Sahabat Esperanza saat mereka di perjalanan pulang.
__ADS_1
"Kumohon," ujarnya lagi. Esperanza tersenyum lalu mengangguk.
"Tunggu sebentar di sini, ada yang ingin aku berikan padamu!" Segera Sahabat Esperanza berlari ke rumahnya, mengambil tas berisi gaun baru untuk Esperanza.
"Hari libur nanti, saat kita berjalan-jalan, pakai ya!" pintanya. Dan langsung berlari kembali ke rumahnya tanpa menunggu jawaban.
"Hah, ya ampun," ujar Esperanza melihat isi tas itu.
Esperanza tersenyum lalu geleng-geleng kepala dan masuk ke rumahnya sendiri.
Pagi hari tiba di negara Te Apoyo. Brillo bangun lebih cepat. Lalu bersiap untuk berangkat ke sekolahnya.
"Brillo? Nicorazón mana?" tanya Malika.
"Masih tidur," jawab Brillo santai sambil mengolesi selai ke roti tawarnya.
"Astaga!" pekik Malika. Segera ia bangkit dari kursinya.
"Nicorazón, ayo bangun. Nanti kamu terlambat!" ujar Malika.
"Hei, ayo mandi. Biar supir mengantarmu ke rumah untuk berganti pakaian."
Nicorazón yang masih setengah sadar mengangguk. Kemudian menggelengkan kepalanya. Mengucek mata dan mencari letak kamar mandi. Ia pun membersihkan diri.
Setelah sarapan pagi di rumah Brillo ia pun naik ke mobil. Di atas sudah menunggu Brillo dan Saudarinya. Sebelum ke sekolah Nicorazón singgah ke rumahnya lebih dulu.
"Kalian duluan saja!" kata Nicorazón setelah tiba di halaman rumahnya.
"Kami bisa menunggu, belum terlambat," ujar Saudari Brillo.
Saat Nicorazón masuk ke rumahnya, Brillo ditanyai oleh Saudarinya, kenapa mereka saling diam sejak kemarin. Brillo memilih bungkam. Dan Saudari Brillo tidak memperpanjang pertanyaannya sampai akhirnya Nicorazón kembali dan mereka berangkat bersama.
__ADS_1
Nicorazón yang sedang tidak saling tegur dengan Brillo memilih diam di dalam kelas. Dan ia beserta teman-temannya menjauhi Brillo selama jam istirahat. Sebenarnya semua teman dekat Nicorazón heran kenapa tiba-tiba mereka tidak mengajak Brillo bergabung dengan mereka.
"Boss sedang bertengkar ya dengan boss Brillo?" tanya teman Nicorazón.
"Makan saja makanan kalian. Siapa saja yang membahas soal Brillo tidak akan ditraktir," ujar Nicorazón mengelak untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Sedang asik makan Nicorazón dihampiri oleh seorang gadis. Anak kelas lain yang selama ini suka padanya. Tiba-tiba menyatakan suka pada Nicorazón di hadapan teman-temannya. Acara makan sempat terhenti sampai gadis itu pergi meninggalkan secarik kertas. Berisikan nomor ponselnya.
"Baiklah kalau ada waktu aku pasti akan menghubungimu," ujar Nicorazón saat menerima kertas tersebut.
Dan setelah pulang sekolah Nicorazón menyuruh supir yang menjemputnya pulang. Ia ingin bertemu dengan gadis yang memberinya nomor kontak. Dan setelah menunggu di gerbang selama 15 menit gadis itu datang.
"Bagaimana kalau kita ke kantin yang ada di depan sana," ajak Nicorazón.
"Aku punya tempat yang lebih baik dari itu, bagaimana kalau ikut denganku ke sana?" tawarkan gadis itu.
"Oh, ok."
Maka keduanya pun pergi ke suatu tempat. Tanpa mereka ketahui Brillo mengikuti dari belakang. Ia ingin membongkar kedok gadis itu yang sebenarnya. Sebab ia merasa ada hal aneh pada gadis itu. Sebuah rantai yang terikat di lehernya. Namun hanya orang tertentu yang dapat melihatnya.
Tapi ia tidak menyadari kalau ada yang mengawasinya. Ketika Nicorazón dan gadis itu berada di persimpangan jalan, Brillo merasa kalau sebuah pukulan mendarat di tengkuknya dan membuatnya pingsan.
Ketika sadar ia telah berada di sebuah ruangan yang gelap. Dia hanya mendengar suara dan akhirnya melihat pemilik suara tersebut.
"Akhirnya kamu tertangkap juga. Mencoba untuk menghalangi jalanku ya? Tapi kali ini kamu tidak akan bisa menghalangi jalanku, karena kamu justru akan membantuku. Mulai malam ini kamu akan jadi anjing peliharaanku!"
Lalu pemilik suara tersebut menyentuh anjing kecil yang ada dalam gendongannya. Dan menyentuh kening Brillo kemudian. Saat kening Brillo dan kening anjing tersebut disentuh ia dan anjing itu menjerit kesakitan. Sampai akhirnya kepala mereka terkulai lemas.
Beberapa menit kemudian ia pun mengangkat kepalanya dengan tatapan yang sama seperti anjing tersebut. Sementara tatapan anjing itu tampak seperti tatapan Brillo ke pemilik suara itu. Sebab jiwa mereka telah ditukar.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi berkeliaran di sisi Nicorazón," ujarnya pada jiwa Brillo yang ada di tubuh anjing tersebut.
__ADS_1
"Dan kamu pergilah ke rumah pemilik tubuh ini!" perintahnya pada jiwa anjingnya yang ada di tubuh Brillo.
Bersambung...