Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Bahan Makanan


__ADS_3

Esperanza menghela napas dalam-dalam semua bukti kebenaran ada di hadapannya. Tidak ada lagi alasan untuk tidak percaya.


Ia pun akhirnya mengangguk lalu pergi meminta maaf pada Te Apoyo. Di saat yang sama Nicorazón juga meminta maaf padanya. Setelah mengetahui kalau yang menusuknya adalah Esperanza yang palsu dari kedua orang tuanya.


"Baiklah sekarang semuanya sudah jelas. Bisakah kita membahas masalah selanjutnya?" tanya Estrella.


Masalah yang ia maksud tentang perubahan sikap Esperanza yang mengaku sebagai Te Espere dan dari mana Esperanza mempunyai kekuatan.


"Kekuatan apa?" tanya Esperanza tidak percaya.


"Ya itu benar. Kamu punya kekuatan. Jika kamu bisa mengeluarkannya maka kita bisa mengalahkan para keturunan ketujuh!" ujar Estrella bersemangat.


"Tapi aku tidak punya kekuatan seperti itu," ujar Esperanza.


Semua yang ada di situ pun hanya bisa mengehela napas.


"Sudahlah, kita jangan memaksanya terlalu cepat. Kekuatan itu muncul tiba-tiba. Hilang juga tiba-tiba. Tapi pasti bisa muncul kembali asal ada pemicunya," ujar Brillo.


Estrella tersenyum. Lalu mengambil pemukul bisbol. Dan bersiap untuk memukul Nicorazón. Semua orang terkejut dan berteriak histeris. Nicorazón menutupi wajahnya. Tongkat pemukul berhenti tepat di wajahnya.


"Aku hanya mencoba membuat pemicunya," ujar Estrella tersenyum canggung.


"Apa-apaan kamu Estrella. Bagaimana kalau ia terluka? Maksudku bagaimana kalau lukanya makin parah?" kesal Esperanza yang sudah berdiri di samping Estrella.


Putri Malika tersenyum. Lalu menurunkan tongkat tersebut.


"Maaf. Sepertinya cara ini tidak efektif. Bagaimana kalau dengan pisau?" ujar Estrella dengan serius.


Tiba-tiba udara di tempat itu menjadi dingin. Pandangan mata Esperanza berubah. Dengan cepat ia mencekik Estrella dan mengangkat gadis itu ke udara.


Semua yang ada di sana tercengang. Tapi beberapa menit kemudian Esperanza tersentak saat Brillo menarik tangannya.


"Lepaskan kakakku!" perintah Brillo.


Seperti orang linglung Esperanza mundur. Ia tidak sadar dengan apa yang baru terjadi. Melihat Estrella yang batuk-batuk ia mendekat tapi Estrella mundur.


"Kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Esperanza cemas melihat bekas cekikan di leher Estrella.


"Esperanza? Apa kamu tidak ingat apa yang terjadi barusan?" tanya Te Apoyo.


"Memangnya apa yang terjadi? Siapa yang mencekiknya? Apa dia dicekik mahluk halus? Aku tidak melihat orang yang mencekiknya. Tapi ada bekas cekikan di lehernya."

__ADS_1


"Kamu pelakunya," ujar Brillo.


Esperanza mundur.


"Itu tidak mungkin. Jangan memfitnahku."


Esperanza menatap semua orang. Dia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Esperanza lagi dengan raut wajah penuh rasa heran.


Akhirnya satu persatu meninggalkan tempat itu. Hingga tinggal Esperanza dan Nicorazón yang masih berbaring di tempat tidur. Esperanza menatapnya sekilas lalu ikut pergi keluar.


"Gadis itu benar-benar gila. Apa papa serius menjodohkanku dengannya. Apa kepalanya terbentur sesuatu?" gumam Nicorazón saat ia telah sendirian.


Esperanza melihat orang-orang yang berada di rumah itu sedang sibuk. Lalu mendekat. Ternyata mereka sedang menyiapkan bahan pakaian dan makanan untuk para pengungsi di negara Nicorazón.


"Boleh aku ikut membantu?" tanya Esperanza.


Tanpa menunggu jawaban Esperanza mengangkat kotak-kotak yang berisi makanan instan tersebut dan mengantarnya ke belakang mobil pengangkut barang. Hal tersebut dapat dilihat oleh Nicorazón dari lantai kamar tempat ia berada. Setelah mobil terisi penuh maka kendaraan itu pun berangkat.


Dion dan Te Apoyo kini memanfaatkan relasi bisnisnya untuk mendapatkan dana bantuan. Menyalurkan obat-obatan dan apa saja yang berguna bagi para pengungsi.


Di pengungsian orang-orang dilatih untuk bisa menghindari hipnotis dan juga cara untuk menyadarkan mereka yang kerasukan. Dan yang lebih utama belajar menguasai diri dan jangan sampai pikiran mereka kosong.


"Bahan makanan sudah datang! Yang sehat bantu untuk memindahkannya!" ujar putra ketiga Gina pada para anggotanya.


Selain sebagai pengaman mereka juga bertugas dalam penanganan menyediakan bahan makanan. Sehingga bisa mengirit persedian makanan.


"Kamu mau coba?" tanya putra ketiga Gina pada seorang anak yang memperhatikan mereka makan.


"Itu daging ular?" tanya anak tersebut.


Anak itu bergidik ngeri tapi juga penasaran. Ia duduk diam memperhatikan mereka makan.


"Apa seorang polisi harus makan ular?" tanyanya.


"Tidak, nak. Tapi ini keadaan darurat."


"Darurat itu apa?"


Anak kecil itu tidak mengerti kenapa para polosi dan para angkatan bersenjata memilih makan ular saat ada makanan normal tersedia. Para polisi dan para anggota militer hanya tertawa melihat wajah bingung anak tersebut.

__ADS_1


"Pergilah bermain dengan teman-temanmu!" ujar mereka kemudian.


"Lapor ada kendaraan yang datang ke mari!"


"Benarkah?"


Mereka yang mendapat laporan segera melihat kendaraan yang dimaksud. Lalu memberi tanda kalau kendaraan itu boleh masuk perbatasan. Seorang supir dan beberapa pria dewasa turun. Pintu dibuka dan mereka menurunkan kotak-kotak makanan instan.


"Bagaimana perjalanan kalian? Bagaimana situasi kota terkini?" tanya Tomi yang langsung menghampiri sang supir.


"Cukup tenang. Setenang kuburan." ujar sang supir.


"Dari mana bahan makanan ini?" tanya Tomi.


Saat Tomi berbincang-bincang barang-barang yang diturunkan diperiksa terlebih dahulu. Untuk memastikan kalau tidak ada bahan peledak di sana.


"Anda tidak perlu kuatir, tuan Dion yang mengutus kami kemari. Dan tuan Dion sedang mengirim bahan makanan dari luar negara. Jadi ini adalah stok makanan di gudang kami sebelum makanan kiriman tuan Dion tiba."


"Aman!" ujar yang memeriksa kotak-kotak tersebut.


Lalu semua isinya diturunkan. Setelah itu para supir dan beberapa pria yang merupakan orang-orang kepercayaan Dion beristirahat sejenak di tempat itu. Sambil beristirahat mereka menceritakan keadaan di luar pengungsian dengan lebih rinci.


"Apa kalian tidak melihat hal-hal yang mencurigakan? Sebab suasana saat ini terlalu tenang. Tidak ada kabar terjadi ledakan hari ini," ujar Tomi.


"Bukankah itu bagus?" tanya si supir.


"Bisa ia, bisa tidak. Bisa jadi para penjahat itu sedang menyusun rencana berikutnya," ujar putra ketiga Gina menimpali.


Baru saja berkata demikian seseorang datang melapor kalau beberapa tempat telah terjadi ledakan lagi. Tapi karena lokasinya jauh dari tempat pengungsian maka orang-orang yang ada di tempat itu tidak mengetahuinya.


"Baru saja dibicarakan mereka sudah membuat ulah," gumam Tomi lalu memeriksa komputernya.


"Ternyata mereka kini bertujuan untuk merebut pangkalan militer!" ujar Tomi.


Ia baru saja mendapat pesan dari orang-orang yang berada dipangkalan militer. Dan mereka mengatakan kalau banyak warga sipil bertindak aneh.


"Mereka seperti boneka yang dikendalikan seseorang!" ujar mereka yang memberi laporan.


Saat ini pangkalan militer sepi. Gudang senjata juga sudah dikosongkan sehingga mereka yang menyerbu tempat tersebut tidak mendapatkan apa-apa.


"Sial! Kenapa mereka melakukan penjagaan yang sangat ketat, hanya untuk menjaga gudang kosong?!" ujar Verde kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2